Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 248


__ADS_3

Sikap Rifky kepada Aisyah bukan hanya lembut saja. Namun, hubungan mereka selalu adem ayem karena mereka mampu menerima kekurangan mereka masing-masing. Dari Rifky yang tidak pandai dalam Agama, dan Aisyah yang jarang terlalu cuek dengan lelaki manapun.


Pemakaman berjalan dengan lancar, karena tidak menunggu Sandy, Clara, Kabir dan juga Ceasy. Mengingat, memang seharusnya jenazah harus di makamkan segera.


Selesai pemakaman, Airy dan Yusuf melihat pusaran milik Papanya dengan tatapan satu. Mereka memilih pulang terlebih dahulu, karena masih ada peziarah yang harus mereka temui. Tinggallah Raihan, Laila dan Resti di sana. Namun, Resti melihat dari jauh.


"Tengil, em maksud aku, Raihan. Kita pulang, yuk!" ajak Laila.


"Kamu pulang saja, dulu. Aku masih mau di sini," jawab Raihan.


"Tapi, ini sudah mau sore. Dan.... "


"Aku bilang aku mau di sini dulu, kalau mau pusing ya sana. Pulang duluan, kenapa harus menungguku!" bentak Raihan reflek, karena emosinya memang sedang bad mood.


"Bodo amat lah! Aku mau pulang dulu, Assalamu'alaikum!"


Laila pun pulang duluan bersama Resti. Melihat Laila yang di bentak oleh Raihan, Rasti pun tertawa kecil, seakan mengejek dan berfikir jika Raihan tidak menyukai adiknya itu.


"Sehat, Kak? Ngapain ketawa sendiri kayak gitu? Nggak ada yang lucu kali, orang lagi di acara pemakaman malah, tertawa." ketus Laila.


"Iya juga, Mas Raihan sedang berduka, kenapa aku malah tertawa," batin Resti.

__ADS_1


Sementara itu, tidak lama setelah Laila dan Resti pulang, Raihan pun menyusul pulang. Sepanjang perjalanan pulang, Raihan masih ingat betul, masa kecilnya ia habiskan bersama sang Papa dengan ceria.


"Aku akan melanjutkan perjodohan itu. Suka atau tidak, aku harus wujudkan keinginan Papa. Bismillah!" gumamnya.


Kabir dan Ceasy juga sudah sampai di rumah. Begitu juga dengan Clara dan Sandy. Melihat Raihan yang masih mengenakan baju koko lusuhnya, Balqis langsung memintanya untuk segera mandi. Dan akan ada rapat keluarga, yang ingin hadiri oleh keluarga Laila juga.


"Han, cepat mandi ya. Langsung ke maghriban, dan segera ke rumah Kakung. Akan ada rapat keluarga nanti," ucap Balqis.


"Iya, Tante." jawab Raihan, tertunduk lesu.


Memang waktu itu, Raihan pulang waktu maghrib, karena belum ingin meninggalkan pusaran Papanya sendiri. Dalam sujudnya, ia terus menyebut nama Ami dan Papanya, supaya mereka di pertemukan di alam sana.


"Bismillah, semoga Raihan bisa menjalani perjodohan ini. Pa, Raihan janji, akan menjaga Yusuf, karena setahun aku. Yusuf lah yang paling terluka di antara kami (dirinya dan Airy)" batinnya.


Rapat yang di tunggu telah tiba. Tap at itu berisikan banyak hal. Tentang hak waris dan semuanya. Entah kenapa, baik Airy, Raihan maupun Yusuf tidak menginginkan warisan itu. Bahkan, Yusuf juga lebih memilih tinggal di pesantren dari pada di rumahnya sendiri.


"Terus, jika rumah nggak ada yang mau nempatin mau di buat apa? Raihan, kamu memang mau tinggal di mana?" tanya Ruchan.


"Ya udah sudah. Rumah itu biar Raihan dan Yusuf yang nempati, usaha kuliner biar Airy dan Ustad Adam yang pegang, bagaimana?" sahut Raihan dengan suara parau. Kesehatannya terganggu karena seharian ia belum makan dan minum.


"Kok aku? Nggak ah, Naira aja sana. Naira kan juga anak Papa sama Ami!" seru Airy.

__ADS_1


"Aku juga mau tinggal di pesantren saja lah. Biar rumah itu, di tempati Kak Raihan bersama istrinya nanti," timpal Yusuf.


"Keluarga yang aneh, semua di kasih harta pada nggak mau. MasyaAllah!" batin Laila.


Karena masih tidak mau membahas hak waris, akhirnya Ruchan pun beralih membahas perjodohan yang Rifky inginkan Raihan.


"Baiklah, kita bahas yang lain saja. Warisan bisa di pikir nanti, oke? Tapi, berkas ini harus di pegang oleh anak tertua," ucap Ruchan memberikan map tebal kepada Raihan.


"Soal perjodohan itu, bagaimana?" tanya Sandy.


"Han?"


"Bagaimana?" tanya Ruchan.


"Bismillaahirrohmaanirrohiim, Raihan menerima perjodohan itu!" jawab Raihan.


Alhamdulillah hirrobbil'alamin....


"Dengan syarat, Laila harus nyantri selama 1 bulan di pesantren Darussalam. Dan harus siap menghafal semua fiqih dan 30 juz dari Al-Qur'an. Soal hafalan, bisa nanti di sambung setelah menikah. Kemudian, setelah ijab qobul, Laila harus bisa menghafal surah Al-mulk atau Tabarak allazdi. Assalamu'alaikum!" usul Raihan yang kemudian pamit.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!"

__ADS_1


"Lah! Kenapa mesti nyantri sih, ngaji aja kagak bisa, apalagi nyantri, ogah banget gue," batin Laila.


Setelah perundingan yang cukup lama antara Ruchan dan orang tua Laila, akhirnya persyaratan dari Raihan di kabulkan oleh kedua belah pihak. Laila yang merasa tidak setuju itupun keluar dan masuk ke mobil. Mungkin, pikiran Laila memang belum dewasa, dan juga syarat dari Raihan terlalu berat bagi orang yang belum bisa mengaji seperti dirinya.


__ADS_2