Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 394


__ADS_3

Pertemuan Aminah dengan seniornya, Lee Jeong Tae juga diungkapkan kepada Yusuf. Aminah meminta saran dengannya, apakah ia bisa bisa mengizinkan Aminah untuk pergi dengan lelaki itu malam harinya. Yusuf tidak akan melarang, karena ia percaya jika Aminah tahu apa itu batasan hidup. Jadi, agar tidak melanggar apapun, Yusuf memberi saran agar Aminah izin dulu kepada Kabir atau Ceasy sebagai walinya di Kota negara asing itu.


"Nikmati dulu saja perjalanan pendidikan dan karirmu di sini. Jika memang Mas Raditya itu jodohmu, pasti akan ada jalan untuk kalian bisa bersama," tutur Yusuf.


"Lalu, apakah aku harus bertanya kepada Bang Dit, soal perjodohannya itu? Atau aku harus menunggu dia menjelaskannya?" tanya Aminah.


"Kalau kamu penasaran, dan malah membuatmu tak nyaman, ya mending bertanya. Tapi, kalau kamu hilangkan pikiran negatif-mu itu, berikan Mas Raditya waktu untuk mengatakannya kepadamu," usul Yusuf.


Aminah sudah berpikir dengan jernih sekarang. Ia akan menunggu Raditya menjelaskan dan akan bertanya ketika Raditya mengungkapkan perjodohan itu. Yusuf meninggalkan Aminah di ruang tamu, karena dirinya hendak bersih-bersih dan akan berangkat lagi untuk bekerja.


"Aku seharusnya lebih fokus ke pendidikanku. Sekarang, kami sedang hubungan jarak jauh. Pasti ini juga salah satu cobaannya, aku tidak boleh egois. Bismillah, jika kita berjodoh, pasti Allah meridhoi kita bersama," gumam Aminah merebahkan tubuhnya.


-_-_-


Malam telah tiba, Aminah juga mendapat izin dari Ceasy dan Kabir. Jeong Tae juga menjemputnya di rumahnya, ia memiliki sopan santun tidak seperti cowok-cowok ala-ala Indonesia yang golongan sering jemput di jalan.


"Pulangnya jangan malam-malam, ya. Ingat, jaga diri!" pesan Ceasy.


"Siap, Bu. Kami pamit ya, assalamu'alaikum...." Aminah mencium tangan Ceasy.


"Permisi," ucap Jeong Tae membungkukkan badannya.


Seketika, Aminah bisa melupakan masalahnya dengan Raditya karena keasikan pergi bersama Jeong Tae. Lelaki ini sangat humoris dan murah senyum, hingga membuat Aminah tak canggung lagi berada di dekatnya. Jeong Tae juga mengenalkan budaya Korea kepada Aminah. Mengajaknya makanan yang selalu ia kunjungi ketika bersama teman Indonesia beberapa waktu lalu.


"Wah, tempatnya bagus. Menu masakannya juga khas Indonesia semua. Apakah Senior sering datang kesini ya?" tanya Aminah.


"Dulu, bersama temanku. Kalau kamu mau, lebih enak jika kamu memanggilku Oppa, aku akan lebih senang jika kau memanggilku dengan sebutan itu," Jeong Tae melangkah satu langkah lagi.


"Hehehe, kalau manggil Gu Oppa, masih biasa. Tapi, kalau panggil Senior dengan Oppa... hehehe bisa kita bicarakan," ucap Aminah.

__ADS_1


"Gu? Siapa?" tanya Jeong Tae.


"Kakak sepupu, dia anak dari waliku," jawab Aminah.


"Katanya kamu sedang mencari pekerjaan paruh waktu. Kamu bisa bekerja di sini mulai besok. Tempat ini akan menerima karyawan yang mengenakan jilbab," Jeong Tae dua kali melangkah.


"Serius? Mau banget...." ucap Aminah girang.


Tentu saja Jeong Tae mengizinkan, itu restoran milik keluarganya yang dijalankan oleh dirinya bersama rekannya yang orang Indonesia itu. Apakah, hati Aminah akan luluh kepada Jeong Tae secepat itu? Tidak! Aminah bukan wanita yang gampang luluh dengan mudah.


Setelah makan malam, mereka menikmati indahnya kota Seoul lagi di malam hari. Mengingatkan Aminah dengan kenangan Raditya di malam itu. Ketika ia berdebar untuk pertama kalinya menatap Raditya.


"Aku merindukannya... Bang Dit. Kenapa kamu belum menghubungiku?" batin Aminah.


"Sedang apa kamu di sana, Bang Dit? Apakah kau juga merindukanku? Tapi kenapa kau belum mengirim kabar kepadaku?"


Disisi lain, Yusuf yang sibuk tengah memindahkan barang di toserba, ia menadapat telpon dari gadis itu lagi. Kali ini, gadis itu mengizinkan Yusuf untuk berbicara dan bertanya hal yang penting bagi Yusuf.


"Kamu ada di mana? Apakah kamu baik-baik saja? Berhenti mempermainkan aku seperti ini, aku hanya ingin hidup tenang. Cepat kembali dan ambil barang-barangmu!" tegas Yusuf.


"Kakak, aku pasti kembali mengambil apa yang menjadi milikku. Aku sekarang ada di Australia, aku tidak mungkin mengganggumu, hanya memastikan jika kau baik-baik saja, terima kasih sudah mengkhawatirkanku, bye!"


Gadis itu menutup telponnya lagi. Itu akan menjadi hal yang biasa sampai nanti waktunya mereka bertemu kembali di kampung halamannya. Yusuf tak lagi terlalu penasaran dengan gadis itu lagi. Karena setiap dua minggu sekali, gadis itu akan menelponnya dengan nomor yang berbeda.


Dua bulan berlalu, semua masih berjalan dengan lancar. Urusan pendidikan dan pekerjaan mampu Yusuf dan Aminah handle. Mereka semakin menguasai semua bahasa yang di gunakan di sana. Yusuf juga sudah mendapat banyak sekali teman yang baik di sana. Tentu saja yang selalu bersamanya adalah Hae Jun dan juga Eun Mi.


Selama dua bulan itu juga, gadis bermata biru itu sudah menghubunginya selama empat kali. Mereka sesekali menanyakan kabar masing-masing dan Yusuf selalu mengingatkan gadis itu akan tuhannya.


Semetara, Aminah dan Raditya sudah jarang menghubungi. Aminah merasa merasa jika semenjak dirinya akan dijodohkan dua bulan lalu, Raditya tak lagi menghubungi dirinya. Namun, Aminah tetap tidak berpikiran negatif, ia percaya jika Raditya juga akan menjaga hatinya di sana.

__ADS_1


Di kampus dan keseharian Aminah juga dihabiskan bersama Jeong Tae. Mereka juga semakin dekat dan semaki akrab saja. Aminah mampu belajar ilmu kedokteran dengan Jeong Tae, dan Jeong Tae memanfaatkan waktu untuk meluluhkan hati Aminah.


Sampai suatu hari, ketika Jeong Tae mengantar Aminah pulang… terlhat Raditya berdiri di depan gedung apartemen sedang menatap Aminah turun bersama dengan Jeong Tae. Selama tidak berkomunikasi dengan Aminah, Raditya tetap masih bisa memantau kabar Aminah dari Yusuf, Hamdan maupun Kabir. Jadi, ia thu siapa Jeong Tae itu.


"Bang Dit?"


"Assalamu'alaikum, Aminah…." salam Raditya penuh dengan senyuman.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh, Bang Dit di sini?" tanya Aminah dengan mata berkaca-kaca.


Aminah memperkenalkan Jeong Tae kepada Raditya, begitu juga sebaliknya. Karena Aminah ingin melepas rindu dengan Raditya, ia meminta Jeong Tae untuk tidak mengantarnya sampai di depan rumah. Jeong Tae tidak egois, ia memahami dan menghormati Aminah, jadi ia pamit dan pulang lebih dulu.


"Dia-kah lelaku yang mengisi hati Minah? Ah, beruntung sekali lelaki itu." batin Jeong Tae.


Mereka berjalan masih dengan saling diam, bahkan di lift saja hanya bermain curi-curi pandang saja. Sampai di depan pintu rumah Kabir, Raditya berhenti. Ia ingin membahas hal penting di rumah Yusuf yang bebas dan tidak segan jika Kabir maupun Ceasy pulang nanti.


"Iya, aku sih ok saja kalau mau bicara di rumah Ucup. Tapi masalahnya, Boy. Aku nggak tau kode rumah itu," tunjuk Aminah.


Raditya tersenyum dan membuka pintu rumah Yusuf. Tentu saja membuat Aminah melongo lucu, selama ini dirinya tidak pernah diberi tahu kode pin rumah saudaranya. Tapi Raditya yang baru saja tiba sudah tahu kode pin itu.


"Ini tidak adil! Kenapa Bang Dit tau, sih?" kesal Aminah.


"Ya karena kamu perempuan. Yusuf hanya memberi kode ini kepada lelaki saja, ayo duduk. Aku ingin membahas masa depan denganmu," ucap Raditya menggulung lengan baju panjangnya.


Raditya mengatakan jika dirinya tidak suka Aminah dekat dengan Jeong Tae. Tapi ia juga tidak ingin egois dan terkesan mengatur Aminah. Jadi ia hanya mengatakan jika dirinya tidak suka Aminah terlalu akrab dengan seniornya itu.


"Lalu, apa kabar Bang Dit yang menyetujui perjodohan dengan wanita lain? Sedangkan aku masih menitipkan hatiku kepadamu?" ketus Aminah.


Ternyata, alasan Aminah kesal kepada Raditya masih sama. Ia terluka ketika mendengar Raditya hendak dijodohkan dengan wanita lain. Raditya hanya tersenyum dan perlahan menjelaskan, jika dirinya sudah menolak perjodohan itu. Karena semua itu permainan Ibu dan Kakaknya, agar mereka berdua tak bisa bersama dan menikah setelah Aminah kembali. Bagaimana reaksi Aminah?

__ADS_1


__ADS_2