
Laila merebut ponsel milik Aminah. Terjadilah perang dunia ke berapa sampai author lelah, dengan sifat kekanak-kanakan mereka ini. Raihan tak ingin ambil pusing, ia pun meninggalkan Laila dan Aminah di kamar itu berdua sambil menikmati sarapan yang Aminah bawa.
"Karepmu kono, perang sak kesele, aku tak nyambung sarapan langsung ke pesantren aja,"
"Laila, Aminah, Abang berangkat dulu, ya. Baik-baik di rumah, Assalamua'alaikum."
Berjalan santai selayaknya tak terjadi apa-apa, Raihan menuju pesantren dengan terburu-buru. Ia juga harus ke restoran, mengelola warisan sang Papa, karena tidak ada yang mengurusnya.
Sampai di pesantren, tidak Adam, tidak ketiga adiknya semuanya menggodanya. Yusuf memang sejak Rifky meninggal, ia tinggal dengan Airy dan Adam. Kadang juga ia tidur di pesantren jadi satu dengan Falih dan Hamdan.
"Aroma pengantin baru masih tercium ya, Mas Adam. Bangun saja kesiangan," ejek Falih.
"Paling juga semalam main game," sahut Yusuf.
"Bukan game biasa, tapi yang bisa melelahkan, hahahaha," timpal Hamdan.
Plaaakkk....! Plaakkkk...!! Plaaakkk...!!
__ADS_1
Masing-masing mendapatkan tamparan cinta dari Raihan di pipi kanan mereka. Tak tahan tertawa, Adam pun bisa tertawa lepas melihat pipi merah ketiga adiknya.
"Kalian ini, ya. Setor hafalan saja sana, malah bikin rusuh di sini," usul Adam.
"lagian kalian kan masih harus berangkat sekolah, nanti telat, loh!" imbuhnya.
"Punya Abang satu aja begini modelnya, kabooor...!!" seru Falih, mencium tangan Adam dan Raihan, kemudian langsung lari.
Selain itu, Laila dan Aminah merasa capek selesai perang. Kamar yang semula hanya berantakan sedikit, kini menjadi seperti antara gudang dan kapal pecah. bahkan, ada beberapa koleksi mainan Airy yang rusak karena ulah mereka. Menyadari itu, Laila dan Aminah segera menyembunyikan agar Airy tidak melihatnya.
"Lah rusak, ini semu karena kamu, Kak!" ucap Aminah.
Memang susah jika Aminah sudah ada di suatu tempat, bukan hanya pembuat onar, sering kali ada saja masalah yang ia buat dan selalu saja keluarga yang di buat repot karena nya.
Pagi pengantin baru kacau gara-gra game dan Aminah. Akankah pagi selanjutnya akan berlanjut romantis? Atau bahkan lebih kacau dari pagi itu.
Aminah bertemu dengan Mayshita di depan gerbang pesantren. Ia sedang bersama Naira, yang mana Naira juga akan berangkat ke kampus.
__ADS_1
"Assallamu'laikum, kalian nunggu apa?" sapa Aminah basi-basi.
"Wa'alaikumsallam,"
"Nunggu tukang bakso. Ya nunggu angkutan, lah. Kenapa jam segini baru keluar?" tanya Naira.
"Habis nganter sarapan untuk pengantin baru kita," jawab Aminah dengan kesal.
"Ada berita apa?" tanya Naira.
"Astaghfirullah hal'adzim, sepagi ini kalian sudah mau ghibah? Dosa!" tegur Mayshita.
"Nggak banyak kok, ghibahnya. Bahan ghibah juga nggak ada," desis Aminah.
Angkutan lewat, mereka pun naik dan segera berangkat. Anak-anak pesantren memnag jarang sekali menggunakan kendaraan pribadi, mereka sering menggunakan kendaraan umum jika berangkat ke sekolah. Kecuali ada salah satu orang rumah yang mengantar mereka.
"Bibirmu kenapa lebam, gini?" tanya Mayshita dengan menunjuk ujung bibir Aminah yang lebam.
__ADS_1
"Hahaha, kebanyakan ghibah ya begini. Jadi lebam plus dower, ayu to?" lawaknya.
Saat ia perang dengan Laila, tak sengaja bibirnya ke tinju ujung papan tidur yang terbuat dari kayu jati. Jadinya, melahirkan sebuah karya seni berwarna ungu di ujung bibirnya.