
"Assalamu'alaikum," salam Yusuf dengan membawakan buku-buku yang kemarin ia beli.
"Kamu?"
"Muslim, 'kan? Jawab dong!"
"Iya, iya. Wa'alaikumsalam! Ngapain sih kamu ke sini? Belum puas udah masukin aku ke rumah sakit jiwa? Aku itu nggak gila!" teriak Mita.
"Wanita baik-baik, tidak perlu berteriak ketika bicara. Perlu Kakak cantik ini tahu, jika Kakak cantik ini bisa lebih lembut, lebih sopan dan lebih anggun sedikit dalam bersikap dan berbicara… aku jamin kakak cantik bisa mendapatkan lelaki seperti Raihan dengan mudah, hm?" tutur Yusuf dengan lembut.
"Jika kakak kejar ridho Allah, maka nanti duniamu akan mengejarmu. Termasuk jodoh, nanti pasti akan datang sendiri kok, kalau kakak cantik ini lebih mendekatkan lagi ke sangat pecinta," imbuhnya.
"Mendekatkan diri kepada sang Pencipta? kamu ingin aku cepat mati?" tanya Mita.
"Subhanallah, pemikiran kakak cantik ini cetek sekali, bukan itu maksud aku. Ini, baca buku biar nggak jenuh. Melihat kakak sudah semakin baik, aku turut bahagia, aku permisi dulu kalau begitu, Assalamu'alaikum...."
Ketika Yusuf hendak pergi, Mita menahan lengannya. Kemudian memintanya untuk duduk berhadapan dengannya.
"Sebenarnya kamu ini siapa?" tanya Mita.
"Aku? Jadi, Kakak cantik nggak tau beneran aku ini siapa?" tanya Yusuf kembali.
"Kakak cantik lupa? Aku pernah mengungkap identitasku, bukan?"
Mita menggeleng, Yusuf pun mengungkap siapa dirinya. Mendengar kenyataan bahwa Yusuf ini adik kandung dari lelaki yang ia cintai, Mita langsung menjauh dari Yusuf.
__ADS_1
"Kenapa? Kecewa, sakit, marah atau apa?" tanya Yusuf.
"Cepat sembuh, aku malas ingin ke sini lagi. Lalu, cepat minta maaf kepada Abang dan kakak iparku, Assalamu'alaikum!" Yusuf benar-benar pergi sekarang.
Mita tertunduk lesu, menatap tumpukan buku yang masih terbungkus rapat plastik bening. Berpikir kembali, ia tidak menyangka jika Yusuf adalah adik dari lelaki yang ia cintai.
"Lalu, apa gunanya dia mengungkapkan perasaannya kemarin? Apakah hanya untuk mempermainkanku? Aku mengira semua itu real perasaanya, tapi kenapa?"
"Hah! Aku menyukai adik dari lelaki yang pernah aku cintai. Sial! Dunia macam apa ini? Aku sering di pemainkan oleh hawa nafsu duniawi," Mita mengamuk. Menangis dan menyakiti dirinya dengan memukul dadanya sendiri.
Di rumah Ruchan, Laila sedang membantu Airy membuat jenang sagu untuk Ruchan. Leah masih saja ngambek karena semalam terus saja di goda tentang masa lalu oleh Ruchan. Melihat Uti dan Kakung-nya masih saling berdiam diri, Airy pun tidak tinggal diam. Alih-alih menyatukan kembali, tidak! Airy malah membuat suasana Leah semakin panas.
"Kakung, aku sudah membuatkan jenang sagu untukmu. Apakah, Kakung masih marang dengan Uti? Kasihan Uti-ku, ayolah minta maaf padanya, Kakung...." ujar Airy.
"Hey, kamu kok gitu, sih? Kakung nggak salah, loh! Iya, kan kakung?" timpal Laila.
"Setuju!" seru Ruchan dan Leah bersamaan.
"Hm, cie yang barengan pas ngomong. Cie, cie...." goda Airy.
"Baiklah, aku mulai, ya... Sekarang jawab, siapa di antara kalian berdua yang menanyakan cinta terlebih dahulu, dan katakan bagaimana cara mengungkap perasaanya?" tanya Airy.
Leah menunjuk ke arah Ruchan, sedangkan Ruchan mengangkat tangannya. Airy dan Laila sudah menebak itu. Sejak awal bertemu, Ruchan menjelaskan jika dirinya langsung menaruh hati kepada Leah, waktu itu dirinya berusia 17 tahun, sedangkan Leah berusia 12 tahun, pertemuan pertama itu juga di lakukan sebelum Ruchan berangkat ke Kairo. (koreksi kalau salah, author lupa)
"Uwu, pertanyaan kedua, Ry!" seru Laila.
__ADS_1
"Ok, pertanyaan kedua. Bulan madu kalian dulu, kalian pergi kemana?" tanya Airy.
"Singapura!" jawab Ruchan dan Leah bersamaan.
"Lalu, kenapa kalian memberi nama Ami-ku dengan nama keluarga Handika?" pertanyaan yang membuat Ruchan dan Leah saling menatap muka.
Cerita dari nama Aisyah Putri Handika adalah, dulu Ruchan ingin sekali memiliki nama anak bernama Aisyah, jika perempuan. Kemudian, Leah sendiri juga tidak ingin nama keluarga terhenti pada namanya saja. Jadi, sebagai bentuk cinta mereka, akhirnya di gabung agar adil. Bukan hanya Aisyah saja, Akbar dan Airy pun juga memakai nama Handika di belakang namanya.
"Lalu, supaya adil lagi, kalian juga memberi nama Pak Lek kembar kami dengan nama keluarga pesantren, bukan? Nama Kabir, Syakir juga kalian pakai karena bayi kembar kalian dulu ada yang meninggal karena Tante Irene, bukan?"
"Kalian berdua, panutan kami. Buat apa ngambek seperti ini karena masalah sepele. Ingatlah ketika kalian berdua bahagia di masa lalu, itu saja. Kami tidak mau melihat kalian berantem seperti ini, ayo baikan!" pinta Airy.
Dalam hati Airy dan Laila ingin terus tertawa karena masalah sepele itu. Yang namanya orang tua, semakin beliau tua, pasti melakukannya akan seperti anak kecil lagi. Sebagai yang muda, Airy dan Laila hanya bisa menengahi mereka ketika mereka berantem lucu seperti itu.
"Kakung sama Itu lucu, ya. Kisah cinta mereka pasti tidak sederhana. Ceritain, dong!" pinta Laila.
"Nanti kamu baper, Bang Rai nggak seromantis Kakung soalnya. Cukup tahu aja jika kisah Kakung sama Uti bikin hati jedag jedug," jawab Airy.
"Yah... makanya ceritain, dong. Aku penisirin ini, saking penasarannya jadi penisirin," desak Laila.
"Pokoknya lika-likunya juga lebih rumit dari kita, Lail. Dulu, sempat mereka mau pisah cuma gegara Kakung plin plan gitu, ada 1 wanita yang sering menghalangi hubungan asmaranya, yaitu Uminya sendiri!" jelas Airy.
"Lebih detailnya, mending nanti kita tanya Kakek Farhan, kebetulan aku mau ngirim dia kue, mau ikut?" ajak Airy.
"Mau banget, kebetulan Bang Rai hari ini sudah mulai ngajar. Huft, dia nggak mikirin kesehatannya, aku khawatir saja dengan luka-nya itu," lenguh Laila.
__ADS_1
"Doakan saja, laki kita lagi cari duit buat modal lahiran, dah hayuk kita pamit dulu sama pasangan senior kita," ajak Airy dengan menggandeng tangan Laila.
Laila menghentikan langkahnya, ia tidak tahu jika Airy sudah mengetahui kehamilannya itu. Ternyata, perawat ganteng itu yang sudah mengatakan jika Laila sedang hamil. Tapi, Airy juga tahu, jika Laila belum ingin mengumumkan kehamilannya, dia juga akan diam.