Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 296


__ADS_3

"Mati listrik, Mas. Kita tidur awal aja, yuk!" bisik Airy.


"Masih ada Radit, Sayang," bisik Adam.


"Kalian kalau mau bisik-bisikan di kamar mbokkan. Aku tak ke pesantren aja, siapa tahu di sana nemu harta karun," ucap Raditya tak tahan melihat keduanya bisik-bisikan mesra di depannya.


Karena hujan deras, Adam meminta Raditya untuk tetap tinggal. Ia menempati kamar milih Zahra sebelumnya. Karena sudah akrab, tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Di kamar, Raditya memandang nomor milik Aminah terus, entah apa yang ia pikirkan.


"Hem, nih cewek lain aja sama yang lain," gumamnya.


"Tapi sayang, kita masih muda. Mana mau dia nikah muda, aku pun juga begitu. Masih ada yang perlu aku pikirkan lagi," imbuhnya. Matanya pun mulai terlelap.


-_-_-_-_-


Subuh berkumandang, baju berserakan, tubuh masih ada di dalam balutan selimut. Ternyata, malam mati listrik saat itu ada ranjang yang bergoyang. Ini kedua kalinya Raihan dan Laila melakukan olahraga malam. Sebelum sholat, Raihan dan Laila mandi di kamar yang terpisah, karena sudah lambat. Waktu tak cukup untuk pergi ke masjid, akhirnya Raihan dan Laila pun berjama'ah di rumah. Selesai sholat, tak lupa Laila mengaji dulu, baru ia akan beraktivitas di dapur.

__ADS_1


"Alhamdulillah, udah juz 3. Semangat!" ucap Raihan mengetuk kening Laila.


"Aw, harus, dong." jawab Laila.


"Aku nggak masak ya, Bang.... Capek banget, semalam kamu gitu ih, itu terlalu kuat...." keluh Laila.


"Sttt, bagaimana kalau pagi ini, kita beli bubur. Ya sesekali kita juga harus jalan-jalan di pagi hari, bagaimana?" usul Raihan.


"Benarkah? Kamu tidak keberatan aku nggak masak?" tanya Laila masih tak percaya.


Semua berubah ketika ada salah satu ibu-ibu yang datang dan menggosip, itu membuat Laila merasa sungkan. Disusul-lah oleh dua orang ibu-ibu lagi, mereka membicarakan beberapa orang yang ada di desa itu, gang lebih mengesalkan, mereka juga membicarakan Laila karena ia tidak masak dan malah membeli bubur untuk suaminya.


"Wah ada pengantin baru, nih. Ya, yang namanya juga pengantin baru, pasti malas kalau disuruh masak pagi-pagi begini. Alhasil, ya beli sarapan instan. Kalau aku punya menantu seperti itu, udah aku unyek-unyek nanti!" seru ibu itu.


"Mbok maklum, namanya aja pengantin baru, pasangan muda-mudi begitu, njih mboten Mbak Laila. Besok besok kamu masakin buat Mas Raihan, Mas Raihan itu tuh orang rumahan ndak pernah makan masakan orang lain, kasihan kan Mas Raihan-nya. Katanya pintar agama, harus tau itu," tempat ibu lainnya.

__ADS_1


Laila tersenyum kecut. "Hahaha, aduh ibu-ibu ini bikin gemas, deh." ucap Laila.


Raihan mencolek lengan Laila untuk tidak meladeni ibu-ibu itu, tapi Laila hanya ingin membuat ibu-ibu itu tak lagi membicarakannya dengan sembarangan.


"Saya percaya, kalau ibu-ibu di sini udah pada pengalaman, paling pintar dalam menilai seseorang. Tapi, saya nggak masak karena mumpung lagi berdua aja, menikmati masa berdua," lanjut Laila.


"Astagfirullah hal'adzim, Sayang." bisik Raihan.


"Kalau begitu beri saya contoh, dong." imbuh Laila.


"Begini ya ibu-ibu. Jangan menilai seseorang dengan apa agamanya, penampilan atau juga dengan fisiknya. Hati seseorang itu nggak ada yang tahu. Ibu juga nggak tahu kan, kenapa saya beli bubur? Saya lagi nggak enak badan, nah kebetulan suami idaman saya ini lagi ajak saya jalan-jalan pagi, biar saya sehat."


"Lalu, kami lihat dong ibu Tini yang sedang jualan bubur di sini, makanya saya beli, begitu." tukasnya.


Raihan memang tidak banyak bicara, dirinya lebih baik diam selagi Laila tidak merugikan dirinya sendiri atau orang lain. Itu juga untuk pelajaran bagi seseorang yang memandang orang lain itu secara fisiknya atau dari yang kita lihat, belum tentu dalam hatinya pun juga seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2