Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 355


__ADS_3

Pukulan itu sangat keras. Bahkan sampai membuat tubuh Raditya terjatuh dan tangannya terkilir karena menyangga tubuhnya agar tidak jatuh. Tapi, itu tidak menghentikan aksi Rasid untuk memukulinya, sampai Ayahnya datang dan melerai mereka.


"Rasid, apa yang kamu lakukan. Dia adikmu, jangan terus kau pukuli seperti ini. Lihatlah! Dia sudah berdarah-darah begini, apa kamu tidak kasihan?" ucap Ayahnya sembari memisahkan perkelahian antara saudara itu.


Rasid mundur, "Aku jauh lebih kasihan kepada Ibuku, dia menangis karenanya! Jika Ayah terus mau membelanya, silahkan. Tapi kali ini, dia sudah keterlaluan, segala rumah di ungkit-ungkit," ucapnya langsung pergi. Ayahnya Raditya begitu menyayangi Rasid, sama halnya kepada Raditya. Tapi, ia sering mengalami karena istrinya, Ibunya Raditya.


"Ada apa, sih? Kenapa sesama saudara harus berantem begini. Kalian juga sudah dewasa, apakah pantas jika berantem seperti anak kecil begini?" emosi Ayahnya.


"Yah.. Ayah tahu kan gadis yang dijodohkan dengan Mas Rasid, yang ayah temui sekitar beberapa bulan lalu…." ucap Raditya.


"Iya…,"


"Dia adalah gadis yang Adit suka dari hampir setahun yang lalu. Kita juga saling menyukai, bahkan dia juga setuju untuk menikah denganku setelah sekolahnya selesai. Kita juga sudah merencanakan untuk hidup di Singapura setelahnya karena dia mau kuliah di sana. Tapi… Adit pamit dulu, Assallamu'alaikum." Raditya hanya bisa mengatakan sampai disitu saja, ia tak kuasa ketika akan mengatakan jika Ibunya keras kepala dengan tetap menikahkan Aminah dengan Rasid.


Ayahnya hanya diam saat itu. Ia bingung, apakah itu suatu balas dendam Ibunya karena masa lalu, atau memang hanya takdir kebetulan saja. Masa lalu orang tua Rasid dan Raditya ini hampir sama. Perjodohan yang dilakukan oleh Nenek Raditya membuat Ayahnya tak berdaya.


Ibunya bernama Halimah, Ayah kandung Rasid bernama Anam dan Ayah kandung Raditya bernama Syarif.


Dulu, Syarif mengalah Halimah menikah dengan Anam, itu mengapa Halimah membenci Syarif. Halimah beranggapan jika dulu Syarif tidak mau berkorban dan memperjuangkan cinta mereka. Anam dan Syarif ini kakak beradik. Halimah harus turun ranjang karena Anam meninggal dunia pasca kecelakaan.


"Lalu, kenapa? Aku mau melihat anakku bahagia. Aku membenci Raditya, sama halnya aku membenci dirimu, Syarif!" teriak Halimah ketika diinterogasi oleh Syarif.

__ADS_1


"Raditya dan Aminah saling menyukai. Mereka sudah merencanakan pernikahan dan hidup di Singapura bersama, bisakah kamu mengerti ini, Buk?" tanya Syarif masih lembut.


"Tidak! Raditya itu sama sepertimu, Raditya hanya ingin membuat anakku Rasid menderita!" desis Halimah.


"Menderita dari mananya? Rasid selalu kamu beri kasih sayang lebih. Sedangkan Raditya? Dia juga anakmu, dia lahir dari rahimmu. Meski kau tak menyusuinya, tapi dia tetap anak kandungmu, Halimah," Syarif terus memberi pengertian.


Akan tetapi, namanya orang sudah benci, bagaimana pun akan bersikap baik. Tetap saja salah dimatanya. Padahal, Halimah dan Syarif dulu saling mencintai. Di sisi lain, Raditya dan Rasid malah bertemu di jalan, karena pesan Ayahnya tidak boleh berantem, maka mereka hanya berdebat di pinggir jalan.


"Kamu yang memulai Raditya. Awalnya aku ingin membantumu bersatu dengan Aminah. Tapi, sekarang aku tidak akan mundur karena aku mulai menyukainya," ungkap Rasid.


"Oh, ya.. selamat dengan perasaanmu itu. Terserah kamu mau melakukan apa saja, Mas. Aku permisi!"


"Kalau kamu lari terus begini. Aku tidak mungkin bersaing, jika Aminah menjadi milikku, sebaiknya kamu lupakan perasaanmu itu kepadanya," decak Rasid.


"Masalah kita.. bukan karena Aminah. Jadi jangan pernah membawa-bawa nama Aminah dalam perselisihan kita. Aku tidak ingin namanya menjadi luka atau patokan hubungan renggang yang kita miliki, Assalamu'alaikum!"


Raditya memacu mobilnya dan meninggalkan Rasid sendirian. Raditya tak tahu harus kemana lagi waktu itu, yang ia ingin hanyalah meredam amarahnya dan sendirian saat itu. Mobilnya ia parkir di pinggir jalan di tepi pantai.


"Astaghfirullah hal'adzim, aku juga bersalah sudah membentak Ibu. Tapi semua itu juga karena Ibu. Selama ini aku sudah memberikan yang terbaik, tapi nyatanya apa? Yang di lihat hanya... Mas Rasid terus, sampai dulu Nadia pun dia ambil dariku," lenguh Raditya.


"Aku tidak memperjuangkan Nadia karena waktu itu memang aku masih sekolah dan merelakan dia untuk Mas Rasid. Nyatanya apa...? Dia meninggalkan Nadia dengan memintanya menikah dengan yang lain. Lalu, sekarang dia menginginkan Aminah dariku.. meski belum menjadi milikku, tapi aku tidak akan merelakannya. Aku akan jauh lebih rela jika Aminah menikah dengan lelaki lain daripada dengan Mas Rasid." lanjutnya.

__ADS_1


Mungkin Aminah merasakan apa yang sedang terjadi dengan Raditya, ia pun mengirim pesan kepada Raditya dan menanyakan keadaannya. Karena memang mereka jarang komunikasi kalau tidak hal yang penting. Mereka lebih suka langsung bertemu dan menyelesaikan masalah dari pada lewat pesan maupun telpon karena mungkin akan membuat salah paham.


[Ada apa? Aku merasa resah sejak sore tadi. Apakah semuanya baik-baik saja?] -, pesan Aminah.


Raditya langsung menelponnya, suara Aminah bagaikan obat kedua setelah mengadu kepada Sang Pencipta.


"Assalamu'alaikum, Minah, kamu sedang apa?" tanya Raditya.


"Wa'alaikumsalam, hey Bang Dit! Kamu baik-baik saja kah? Aku merasa ada yang tidak beres dengan suaramu?" tanya Aminah dengan nada lebih keras.


Raditya tersenyum.


"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Kamu lagi apa?" jawab Raditya menyembunyikan masalahnya.


"Hm, aku sedang bermain dengan Ayanna, malam ini Abi dan Mama keluar, jadi aku bosan sendirian di rumah,"


"Hanya Ayanna saja yang kamu aja main? Anthea tidak?" tanya Raditya.


"Anthea sama emaknya. Dia sedang demam imunisasi, kalau Ayanna mah kuat kek aku, hahaha...," tawa Aminah.


Tak terasa Raditya meneteskan air matanya. Seolah ia tak rela jika tawa Aminah perlahan akan hilang karena perjodohan itu. Mengingat Ibunya yang masih keras kepala, membuatnya semakin dilanda keresahan.

__ADS_1


__ADS_2