Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 41


__ADS_3

Buka puasa telah tiba, sebelum berbuka, semua santri hanya memakan takjil dan minum saja, setelah itu sholat maghrib terlebih dahulu. Airy sangat senang malam itu, karena ia akan makan masakan yang dimasak oleh Adam.


Dirumah Ustad Zainal, Adam sangat bersemangat memasak lele itu untuk Airy. Melihat adiknya yang senyum-senyum sendiri, membuatnya tidak tahan menggodanya.


"Ehem, maghrib dulu Dam, masaknya nanti lagi lah. Dan itu lele, katanya ndak mau di masak sama sekali, itu apa?" goda Ustad Zainal.


"Ck, apa sih Mas, udah sana, hampir mateng kok, tunggu aja diluar, segera nyusul aku. Mbak tolong ya, nanti masukin ke wadah ini. Assallamu'alaikum!" Adam terburu-buru harus kemasjid karena sudah ditunggu oleh Kyai dan Ustad Zainal di depan.


Sholat maghrib selesai, mereka mengaji terlebih dahulu sambil menunggu isyak dan melaksanakan sholat tarawih. Ternyata, setrlah sholat tarawih, pesantren kedatangan tamu, yakni keluarga Sari.


Ini kali pertama Sari dan Adam bertemu lagi setelah berpisah beberapa tahun lalu, melihat Adam menjaga pandangannya, membuat hati Sari sedih. Karena merasa sudah kenal lama, Sari ingin Adam menemaninya keliling, hingga lupa dengan janji bertemu dan makan bersama dengan Airy.


"Gimana Dam? Bisa dong anterin aku keliling, kita sudah sama-sama dewasa kan? Kita bisa jaga jarak dan tidak tergoda dengan syetan?" tanya Sari.


"Bagaimana ini? Aku nggak enak kalau nolak, tapi bagaiamana dengan janjiku kepada Airy. Tapi ini juga waktu yang tepat untuk ngomong kepada Sari, bahwa aku akan segera menikah," kata Adam dalam hati.

__ADS_1


Karena ingin mengatakan hubunganya dengan Airy, maka Adam menyetujuinya. Adam meminta Ustadzah Ifa mengantar makanan itu kepada Airy, dan mengatakan kepadanya, jika dirinya sedang ada tamu.


Airy menunggu di depan tembok pembatas area santri putri, ia sengaja belum makan apapun setelah makan takjil, karena ingin makan bersama Adam dengan hasil pancingannya. Iya lah, mancing di empang ya dapat banyak.


"Mana ya Ustad Adam, lama banget, lambungku udah nggak nyaman nih." kata Airy dalam hati, sambil mengelus-elus perutnya.


Ustadzah Ifa datang.


"Assallamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh Airy, kamu menunggu Adam ya?" goda Ustadzah Ifa.


"Ini kiriman dari Adam, cie yang udah main masak-masakan." kata Ustadzah Ifa memberikan rantang.


"Kemana yang punya rantang?" tanya Airy.


"Lagi ada tamu, namanya Sari kalau nggak salah, besok juga ketemu kan? Santai saja,"goda Ustadzah Ifa.

__ADS_1


"Berikan balik ini rantang, bilang suruh makan bersama Sari saja, hilang selera makanku. Aku izin keluar boleh nggak? sebentar saja Ustadzah," kata Airy memberikan rantangnya dengan sedikit kasar.


"Emm kemana Airy? Ini sudah malam, besok saja lah, atau setidaknya kamu minta antar sama Raihan gimana?" Ustadzah Ifa khawatir.


"Tolong," kali pertama Airy meminta tolong dengan seseorang.


Melihat amarah di mata Airy, Ustadzah Ifapun memberi izin keluar pesantren sebentar. Ustadzah Ifa tidak tau kenapa dengan Airy, tetapi ia yakin jika Airy sedang kesal.


Saat berjalan menuju gapura pesantren, tidak sengaja Airy bertemu dengan Adam dan Sari. Airy hanya mengucapkan salam lalu langsung pergi.


"Assallamu'alaikum Ustad, Mbak. Saya permisi dulu," ucap Airy dengan nada yang seperti biasa, tidak terlihat jika ia sedang merajuk kepada Adam.


"Wa'alaikum sallam warromatullahi wabbarokatuh, Airy tunggu!" Adam mengejar Airy yang saat itu sudah berlari.


Sari berusaha menahan Adam, tetapi Adam bersikeras mengejar Airy, hingga mau tidak mau Sari pun juga mengikutinya. Saat itu, memang Adam sudah ingin mengatakan jika Airylah orang yang ingin dinikahinya, tetapi Airy tiba-tiba muncul dan berlari begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2