
Kesalah pahaman itu berlanjut hingga di kamar tidur. Mereka tidak saling sapa, sampai tengah malam. Zahra terbangun, Airy langsung membawa nya keluar. Di tenangkan Zahra, sesuai arahan Hafiz sebelumnya. Hingga mereka berdua pun tertidur di sofa ruang tengah.
Adzan subuh berkumandang. Ketika Adam bangun tidur, ia mendapati Airy sudah tidak ada di sampingnya lagi. Ia pun keluar dari kamar dan langsung ke dapur. Mendapati Airy sedang tidur nyenyak di sofa, dengan menggendong Zahra.
"Ya Allah. Kasihan sekali istriku." batin Adam mendekati Airy.
"Awalnya, aku mengira jika istriku ini juga sulit menerima Zahra sebagai putrinya. Tapi melihatnya seperti ini, aku merasa bersalah. Bahkan, dengan kecemburuan ku yang tak ada alasannya ini, aku semakin menyakitinya. Ya Allah, apakah aku sudah berlaku tak adil terhadap istri dan anak-anakku?" sambungnya.
Adam membelai rambut istrinya, mencium pipinya dengan lembut. Airy terbangun, kemudian duduk dengan tegap.
"Mas, ngapain...?" tanya Airy, kaget.
"Sudah waktunya sholat subuh, sini biar Zahra aku tidurkan di samping, Rafa." ucap Adam begitu lembut.
__ADS_1
Tak sampai sedetik Airy melepas, Zahra, ia menangis lagi. Adam tersenyum dengan wajah kaget istrinya.
"Tinggal saja nggak papa, kok. Wudhu, terus subuhan," ujar Adam menenangkan, Zahra.
Mendengar Zahra nangis terus menerus, Airy menjadi tidak tega. Bahkan, sholatnya saja, jadi tidak khusuk. Setelah selesai, ia langsung berlari dan meminta, Zahra.
"Sini, biar aku yang gendong. Mas, sholat dulu saja." setelah Airy gendong, Zahra terdiam dan tidur lagi.
Ketika memasak, Rafa terbangun dan menangis. Bergegas ia lari menggendongnya. Kini, Zahra di depan dan Rafa di gendong di belakang. Selesai mandi dan rapi-rapi, Adam menyadari jika Rafa sudah tidak ada di kasur, ia panik, dan berlari ke dapur menanyakan kepada Airy.
"Sa.... "
Ucapan Adam terhenti, ia melihat pemandangan yang MasyaAllah di depannya. Kemudian, dia pun mendekat. Menawarkan bantuan, agar istrinya bisa lebih ringan melakukan pekerjaan rumah.
__ADS_1
"Sayang, kamu bawa anak-anak ke kamar, ya. Istirahat, biar Mas yang menyiapkan sarapan." bisik Adam dengan lembut.
"Nggak mungkin, dong. Ini 'kan, sudah menjadi kewajibanku. Mas, duduk saja, ya. Teh nya udah aku siapin di meja." jawab Airy dengan senyuman.
"Em, kalau gitu biar anak-anak, sama Mas aja, gimana? 'Kan, kamu bisa lebih leluasa masaknya." ucap Adam masih berusaha.
Airy tersenyum, kemudian memberikan Zahra dan Rafa kepada suaminya. Pagi ia lalui dengan indah, tidak ada lagi salah paham di antara mereka. Bahkan, sampai Ustadzah Ifa datang pun, mereka masih tetap bersama di ruang tengah.
"Assalamu'alaikum, maaf ya, Ry. Mbak datangnya telat, dan semalam, kamu telfon Mbak terus, ya? Hp Mbak tiba-tiba mati, ketika kami telfon," sesal Ustadzah Ifa.
"Wa'alaikumsalam, iya Mbak, maaf ganggu. Semalam, Zahra itu rewel banget, tapi untung saja Mas Adam sudah pulang, jadi sudah terkendali, maaf ya, Mbak." jawab Airy berbohong.
Adam tidak menyangka jika Airy akan berbohong, untuk menutupi kejadian semalam. Tapi, memang alangkah baiknya, hal semalam tidak lagi jadi pembahasan. Semuanya hanya unsur ketidak sengajaan, dan cemburu Adam memang tidak seharusnya ia terapkan.
__ADS_1