Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 255


__ADS_3

Allahu Akbar… Allahu Akbar….


Suara Adzan subuh sudah terdengar. Adam yang sudah sejak jam tiga pagi di masjid pun dapat giliran adzan. Airy terbangun, mungkin kecapekkan jadi tidurnya bisa sangat lelap.


“Suara Mas Adam itu, oh jadi mau adzan kenapa ke masjid jam tiga pagi.” Gumam Airy.


Ia pun langsung membangunkan Zahra dan Rafa untuk sholat subuh berjama’ah bertiga. Ternyata, mereka tidak ada di kamarnya masing-masing. Karena panik anaknya ilang, Airy langsung meraih ponselnya dan menghubungi Aminah dan Mayshita.


Baru saja membuka ponselnya, ternyata ada lima belas panggilan dari Aminah dan dua puluh panggilan dari Mayshita. Bukan hanya panggilan, bahkan pesan pun banyak dari Aminah yang kesal penuh emotion bertanduk. Satu persatu pesannya Airy buka.


“Lanjutin aja mantap-mantapnya. Sampai anak terlupakan. Emak lucnut!” begitu pesan dari Aminah sebanyak lima puluh kali.


Pesan Mayshita masih sedikit bisa di maklumi, karena Zahra paling susah tidur sekamar dengannya, jadi Mayshita menitipkan Zahra kepada Aminah, dan Rafa bersama dengan Falih di pesantren.


“Ini Aminah kenapa, sih. Ada dendam pribadi sama aku ini bocah. Awas aja, ngatain aku lucknuut bisa aku giling nanti,” gerutunya.


Selesai menunaikan sholat subuh, Airy menjemput  Zahra ke rumah Syakir. Karena tidak mungkin dia akan di bersama Aminah terus, karena Aminah harus berangkat ke sekolah. Sampai di rumah Syakir, kebetulan yang membukakan pintu Balqis.


“Assalamu’alaikum, Tante. Zahra udah bangun,kan?” dengan pelan Airy mengetuk pintunya.


“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabbarokatuh. Baru selesai ngaji sama kakeknya. Masuk, Ry.” Sambut Balqis.


Setelah masuk, bukan duduk atau basa basi lagi, Airy langsung ke kamar Aminah. Melihat Aminah yang hendak mengenakan jilbabnya, ia pun menjewer telinga Aminah dengan sediki6t kasar.


“Hmm, mamam tuh! Sakit, ‘kan? Enak?” emosi Airy terbalaskan.


“Aw, sakit, Kak! Lepasih, ah!” teriak Aminah.


“Makanya, ini mulut jangan ngeselin,” ucap Airy sambil menyomot mulut Aminah.


“Eh, main nyomot aja. Aku aduin ke…..” ucapan Aminah terhenti.

__ADS_1


“Hm?”


“Nggak jadi. Maaf deh, habisnya Kak Airy semalam nggak bukain pintu, aku kira ya lagi mantap-mantap,” ucap Aminah lantang.


“Pak Lek, Tante Balqis, mulut Aminah kotor, perlu di pel!” teriak Airy puas.


Terjadilah peperangan lagi di kamar yang semula rapi dan bersih itu. Kini, kamar itu menjadi seperti kapal pecah yang tak ada indah-indahnya sama sekali. Baik Airy dan Aminah tidak ada yang saling mengalah,  mereka malah semakin rebut dan harus membuat Balqis menarik telinga mereka masing-masing.


“Aw, sakit Tante!” teriak airy.


“Umi, sakit!” sahut Aminah.


“Kalian bertengkar seperti ini tidak malu, kah? Ada Zahra di sini,” tutur Balqis.


“Tau nih, Kak Aer. Main lempar-lempar barang aja, aku rugi, Kak!” seru Aminah mencari pembelaan dari Balqis.


“Aer, Aer. Dasar Parmin! Sini, ….”


Bukannya saling bermaaf-maafkan atau saling memaafkan, mereka malah saling dorong mendorong. Airy yang tidak mau kalah pun semakin kuat mendorong Aminah, begitu juga dengan Aminah. Untung saja, masih banyak


santri yang belum selesai mengaji pagi itu, jadi tak banyak dari mereka yang melihatnya.


Namun, Adam dan Ariy melihat mereka, bukan hanya keduanya. Yusuf pun mendekati Airy dan Aminah yang tengah berlari di lapangan. Selesai menjalani hukuman dari Balqis, Aminah masih menerima jeweran dari  Raihan dan Yusuf kanan dan kiri. Airy tertawa puas melihat itu, tapi saat dirinya berbalik badan, ternyata Adam sudah ada di belakanganya.


“Pulang, yuk!” nada bicara Adam brubah. Lembut tapi mematikan.


Bukan hanya Adam yang membawa Airy pulang, Raihan dan Yusuf pun juga membawa pulang Aminah ke rumah Syakir.


“Kak airy yang mulai, kenapa aku yang di jewer, Bang, Suf!” protes Aminah.


Mereka berdua hanya diam, ketika Airy berjalan di belakang Adam dan mengomel tiada hentinya, Adam hanya diam dan terus melangkah ke rumah. Sampai rumah, Adam memeluk Airy, membelai rambutnya dan bersholawat.

__ADS_1


“Sudah tenang?” tanya Adam.


Airy mengangguk.


“Cerita!” seru Adam.


Hanya masalah sepele dan membuat Adam tepuk jidat. Ternyata istrinya jika sifatnya kembali malah melebihi anak baru gede. Bahkan, ia juga tidak merasa memiliki dua anak kecil yang tahun ini mau menginjak 6 tahun. Airy sendiri memang terbilang masih muda, 23 tahun, tapi sudah tak selayaknya perilakunya seperti Aminah.


“Boleh, cium nggak?”


“Gemes soalnya. Kamu udah dewasa, tapi masih sering terima hukuman seperti ini. Nggak malu jika Rafa dan Zahra melihat? Hm?” tanya Adam.


Airy menunduk, seketika ia teringat masa kecilnya yang memang tidak pernah akur dengan Aminah. Hanya saling mengejek dan rebut sebentar, setelah itu mereka juga baik-baik saja.


“Peluk, lagi,” rengek Airy.


Adam pun memeluknya, kemudian datanglah Rafa dan Zahra yang di antar oleh salah satu Ustadzah dari pesantren. Adam juga merentangkan tangannya kepada mereka, Rafa dan Zahra pun berlari ke arah Mama dan Abinya, kini berempat mereka saling berpelukan.


Raihan melihat mereka dari luar, ia tersenyum dan bersyukur keluarga Airy harmonis seperti yang Airy harapkan.


Flashback


Ketika mereka berusia 12 tahun, Airy dan Adam pernah membahas masa depan Airy. Siapa suaminya, dan berapa anak yang ingin ia miliki bersama suaminya kelak.


“Bang, Airy pengen. Suatu saat nanti, memiliki suami seperti Papa. Tak harus pandai, tak harus kaya, tapi penuh kasih sayang. Nggak mau seperti Papa kandung dari Mas Diaz, kejam!” ungkap Airy, 12 tahun.


“Seperti Papa? Hahahaha otakmu terlalu jauh berpikir, Airy. Untuk apa kamu menikah muda?” tanya Raihan.


“Pasti ada orang seperti Papa. Sederhana dan nggak bawel seperti Mama dan Bang Rai. Pasti ada, dan aku ingin memiliki dua anak dan satu anak angkat, pasti menyenangkan!”


Kembali ke masa kini. Hayalan mas kecil itu terlintas dalam pikiran Raihan. Semua sudah Airy dapatkan di masa sekarang. Bahkan, ketika dirinya Airy menikah, Adam tetap berada di sampingnya, sesuai harapan Airy. Akan tetapi, cita-cita dan prediksi Raihan mengenai orang tuanya dan Yusuf berbeda.

__ADS_1


Cita-citanya, Raihan ingin membangun kebahagiaan setelah ia lulus sekolah di luar negri pun pupus. Karena orang tuanya tak bisa melihat kesuksesannya. Kini, masih ada satu yang bisa Raihan lakukan untuk Papanya, yakni menikah dengan pilihan Papanya, dengan Laila. Tapi, entah kapan pelaksanaan pernikahan itu, Raihan belum pasti. Karena ia masih ingin menunggu Yusuf lulus sekolah dan meneruskan belajarnya ke luar negri sesuai adat keluarganya.


__ADS_2