
Berguling ke sana ke mari, Laila masih shyok. Ia terus saja mengusap-usap keningnya. Seakan, tidak ingin meninggalkan rasa bibir Raihan yang menempel pada dahinya.
"Kenapa masih berasa banget, sih? Seneng banget buat orang garuh gini. Lihat aja nanti pembalasanku!" Laila bergumam.
Sadar jika dirinya seorang istri, Laila melakukan pekerjaan rumahnya dengan ikhlas hati. Sampai ia di titik mencuci pakaian, biasanya Raihan tidak meninggalkan dalamannya di tempat pakaian kotor.
"Ih, segitiga bermuda. Kenapa ada di sini? Katanya kalau daleman mau di cuci sendiri," keluh Laila.
"Ini apa lagi? Kenapa ada yang warnanya ijo armi gini,"
"Dahlah, cuci aja sambil merem," bayangan ular celana ada dalam otak kotornya.
"Astaghfirullah, ih apalah otakku ini? Kenapa aku membayangkan sampai ke situ, sih?" gerutunya.
Masih sambil menggerutu, Laila menyelesaikan cuciannya, kemudian menjemur sembari bernyanyi. Airy dan Naira datang membawakan jajan untuknya. Semenjak menjadi Kakak iparnya, Airy dan Naira menjadi semakin dekat.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," salam Airy dan Naira.
"Wa'alaikumsalam. Hehehe kalian? Bawa ini?"
Namanya perempuan jika sudah mengumpul pasti banyak sekali yang mereka bicarakan. Sampai pada akhirnya, Airy pamit akan menjemput Rafa ke sekolah dulu. Kini, hanya tinggal Naira dan juga Laila di rumah itu. Awalnya hanya saling mengejek tapi lama-lama mereka bertengkar dan malah berantem seperti biasanya. Untung saja, Raihan juga sudah pulang dari pesantren.
Raihan mengucapkan salam dengan wajah yang datar. Dalam hatinya, "Kalian berdua orang paling ngeyelan dan membuat hidupku gaduh di dunia ini!"
Tentu saja wajah datarnya membuat bulu kuduk Naira berdiri. Ia pun pamit dengan senyuman konyolnya. Kemudian, Raihan menatap Laila penuh dengan misterius.
"Nggak bisa kah sekali aja, ketika kalian bertemu nggak berantem?" tanya Raihan.
"Duduk sini, aku pengen bicara denganmu," lanjut Raihan meminta Laila untuk duduk di sofa dengannya.
Laila menurut saja, ia lebih memilih menurut dari pada melihat Raihan menjadi orang lain. Dengan tutur yang baik, Raihan mengingatkan Laila untuk berusaha memakai jilbab meskipun di dalam rumah. Laila juga masih sering memakai pakaian ketat, Raihan tidak menyukai itu.
__ADS_1
"Terus aku harus pakai gamis?" sulut Laila.
"Kalau bisa, kenapa enggak? Tapi, kalau lagi belajar, mending pakai dulu pakaian yang sedikit longgar, jangan begini. Bisa?" tutur Raihan masih dalam tahap kelembutan.
"Tapi... "
"Kalau nolak, dan nggak mau usaha. Berarti kita bareng-bareng tinggal di neraka, mau?"
"Ah gitu deh, suka bawa surga dan neraka. Kita bukan Tuhan yang menentukan itu semua kan, Bang." keluh Laila.
"Kita memang bukan penentu, tapi kalau bisa, kita harus berusaha untuk menggapai surga Allah dan bertemu dengan Baginda Rosulullah. Kamu nggak mau?"
Sejak kapan mereka bisa saling menerima keputusan? Sejak Laila mendapat kecupan malam tadi. Kecupan itu terasa masih berasa di dahinya. Ini kesempatan baginya untuk membalas dendam. Dengan secepat kilat, Laila mencium pipi Raihan, kemudian langsung lari begitu saja.
Raihan hanya terdiam, tercengang dan membisu, mematung tak bisa berkata apapun. Ia menyentuh pipinya, merasakan ciuman dari sang istri yang membatalkan wudhunya.
__ADS_1
Langsung Raihan berlari ke kamar menyusul Laila. Sayang, pintunya di kunci oleh Laila. Raihan pun berteriak meminta Laila membuka pintu, tapi Laila tidak mau. Ia merasa malu, takut dikatakan agresif oleh Raihan. Kek India yaaa