
"Apa lu lihat-lihat? Naksir gue, susah move on, lu!" seru Laila.
"Amit-amit," jawab Raihan.
Ketika menuju hendak masuk ke mobil. Kakak dari Laila datang untuk menjenguknya. Menunduk, dan tersipu malu, jauh dengan Laila yang petakilan dan sering mengucapkan kata kasar. Kakaknya, lebih lembut dan sopan.
"Assalamu'alaikum, kamu mau cari siapa, ya?" tanya Raihan.
"Wa'alaikumsalam, saya kakaknya Laila. Saya kesini, mau mengantar makanan kesukaannya, anda ini...
"Ah, saya Raihan. Om dari anak yang di asuh oleh, Laila. Ya sudah, kalau begitu masuk saja, dia ada di dalam kok. Saya harus berangkat dulu, assalamu'alaikum," jelas Raihan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Hati-hati Pak!" jawab Resti.
Belum ada kesan mendalam antara Raihan dan Resti. Karena Raihan lupa, jika ia juga pernah bertemu dengan Resti, Kakak dari Laila. Sampai di kantor, Raihan langsung menuju ruangannya, dan tak sengaja barengan dengan Airy ketika masuk loby.
"Hey, Assalamu'alaikum! Jam berapa ini neng? Enak bener baru berangkat," sapa Raihan dengan menarik kerah Airy.
"Abang, ah! Emang aku apaan, di tarik kerahnya," sungut Airy.
__ADS_1
"Am, Ani. Sini dulu," panggil Raihan.
"Iya Pak Raihan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Ani, bagian bendahara kantor.
"Catat! Bu Calista masuk kantor jam segini, potong gaji nya, ya. Saya permisi, Assalamu'alaikum!" tegas Raihan.
"Bang! Eh Pak Raihan, nggak bisa gitu, dong!" protes Airy.
"Bisa aja. Kamu nggak disiplin waktu, jika karyawan lain mencontoh kamu seperti ini, gimana? Rugi dong, perusahaan. Ani, catat, ya!" tegur Raihan.
"Abang Lucknut!" seru Airy.
"Silahkan aja, aku nggak takut miskin! Huft, kesel deh," Airy segera masuk ke ruangannya.
Airy terus menggerutu sampai ke dalam, membuat Raihan tertawa. Tak menyangka jika Airy sama sekali tidak tertarik dengan harta warisan.
"Pak, apakah yang tadi itu, beneran?" sela Ani.
"Iya, kamu potong setengah dari gaji Bu Calista, ya." jawab Raihan, pergi.
__ADS_1
"Aku heran dengan keluarga ini, dulu kata Bu Delia, penerus perusahaan ini tidak mau dikasih warisan sebesar ini, ada apa dengan mereka? Apakah sudah kelebihan harta? Makanya mereka nggak tertarik dengan perusahaan ini," Ani bergumam.
Kesederhanaan adalah gaya hidup Airy. Ia tidak ingin hidup ber mewah-mewahan. Karena dengan itu juga, ia harus pusing dengan pekerjaan yang menyita waktunya, belum juga bermain dengan anaknya menjadi berkurang. Ia lebih baik hidup sederhana, namun kecukupan. Asal bisa setiap saat bersama anak dan suaminya.
"Airy ini hebat kalau kemampuannya di asah lagi. Tapi ini anak, maunya bebas mulu. Bagaimana caranya, agar dia semangat bekerja lagi, ya. Karena aku tidak mungkin selamanya berada di kantor ini," batin Raihan, sambil membolak balikkan hasil kerja, Airy.
Tiba-tiba, Raihan teringat ketika Laila melemparnya dengan bola milik Rafa tadi. Ia juga teringat akan sentuhan tangannya dengan Laila.
"Astaghfirullah hal'adzim. Dosa Rai, dosa! Setan apa yang merasukiku ini, astaghfirullah. Kenapa jadi keingat anak mercon itu, sih!" gumam Raihan.
Tok, tok, tok,
suara pintu di ketuk.
"Iya, silahkan masuk!" perintahnya.
"Maaf Pak Raihan. Ada Pak Hans yang ingin bertemu dengan, bapak!" ucap salah satu karyawan pengganti Nina.
"Biarkan dia masuk," pintaku.
__ADS_1
Karyawan itu pun mempersilahkan Hans masuk. Dengan wajah yang berlagak dan sombong, ia duduk dengan menaikkan kaki satunya di satu kaki lainnya. Wajah tanpa dosanya itu, membuat Raihan terus beristighfar dan mual.