
Awan begitu gelap, pagi yang cerah itu tiba-tiba mendung tanda akan hujan lebat nantinya. Air mata Airy sudah tak lagi bisa menetes, hatinya telah hancur. Pandangannya tak lepas dari jenazah sang Papa. Mata sembab nya, seakan berat untuk berkedip lagi.
"Sholawat, doakan Papa. Jangan bersedih terus ya, memang sulit bagi kita di tinggalkan orang terkasih. Tapi, harus kuat hati, masih ada Yusuf yang harus kita kuatkan hatinya." bisik Adam, dengan menggenggam tangan Airy.
Sampai di rumah, sudah banyak sanak saudara dan tetangga yang menunggu. Terlihat Akbar sudah tiba bersama dengan Fatim dan juga Mawar. Namun, Kabir, Ceasy dan Sandy belum juga terlihat.
"Ingat, kuatkan hatimu. Harus tegar, oke?" bisik Adam.
"Aku ingin Mas Adam ada di sampingku," lirih Airy.
"Iya, Mas ada di sini bersamamu." ucap Adam sembari mengecup kening istrinya.
"Pak, ayo segera di turunkan!" perintah Adam.
Sesuai dengan apa yang di inginkan Ruchan, jika Rifky di panggil terlebih dahulu, tidak ada yang boleh menangis di pemakaman dan di rumah. Cukup hanya di tahan di hati, agar Rifky bisa pergi dengan tenang.
"Benar, 'kan? Aku sendirian, aku sudah memiliki firasat ketika Papa ingin menjodohkan Bang Rai," ucap Yusuf di ketika memandikan jenazah Papanya.
"Pa, aku sendiri sekarang. Tidaklah, kau ingin aku mandiri? Tapi nggak kayak gini caranya," imbuhnya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Yusuf, kamu tidak boleh bicara seperti ini. Ini semua sudah takdir, ikhlas, tanah dan tetap tegar!" seru Akbar yang ada di sebelahnya.
Nampak wajah Raihan yang hanya datar dan penuh penyesalan. Permintaan terakhir Papanya, hanya ingin dia melihat menikah dengan calon istri pilihan Papanya. Yakni, Laila. Apapun yang terjadi, Laila pilihan masa depan Raihan yang tunjuk Rifky.
"Om," air mata Raihan tidak bisa di bendung lagi.
"Om tau, sabar ya. Ami mu sudah terlalu lama menunggu Papamu di sana, semoga meraka di pertemukan kembali, amin!" ucap Akbar memeluk Raihan.
Sejak Aisyah meninggal, Rifky memang sering sakit-sakitan karena memikirkan separuh jiwanya pergi. Cinta nyatanya untuk Aisyah, tak mudah dulu ketika ia hendak mendapatkan Aisyah. Dia lebih baik hidup seorang diri bersama putra bungsunya, dari pada harus menikah lagi. Karena ia sudah pernah berjanji akan tetap setia kepada sang istri jika suatu hari nanti Aisyah meninggal. Dan Rifky telah membuktikan itu.
Flashback.....
"Pagi bidadari ku," Sapa Rifky dengan senyuman.
"Assallamualaikum! Kan kita muslim, harusnya mengucapkan salam," ucap Aisyah sedikit galak.
"Wa'alaikum sallam, bawel." Kata Rifky.
"Bawel? Sejak kapan aku bawel?" kesal Aisyah.
__ADS_1
"Mulai sekarang, aku akan panggil kamu bawel aja deh, lebih seru!" ucap Rifky.
"Oh ya, nanti jadi kan?" tanya Rifky.
"Jadi dong. Em terus kalau aku bawel, Kak Rifky apa dong?" tanya Aisyah.
"Hmm apa ya? Menurut bawelku ini, panggilan apa yang cocok untuk pasangan bawelnya," goda Rifky.
"Pasangan?" Kata Aisyah.
"Emm iya. Ah gimana kalau yung aja hehehe," usul Rifky.
"Yung? Sayang gitu?" sahut Aisyah.
Rifky mengangguk semangat.
"Nggak mau, kan belum jadi muhrimnya. Masa iya udah sayang, sayang aja. Aku tetap panggil Kak aja, ah!" seru Aisyah tersipu.
"Kode nih?" goda Rifky lagi.
__ADS_1
Aisyah tersipu malu, Rifky selalu lembut dengan Aisyah sejak mereka bertemu. Dan Rifky sudah mencintainya sejak pertama kali melihat Aisyah di dalam bus saat itu. Jika di pikir, pertemuan mereka lebih unik dari pada yang lain. Kisah cinta Aisyah tidak begitu rumit, seperti kisah cinta Leah dan Airy.