Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 380


__ADS_3

"Kakakmu sedang marah. Coba nanti malam Mas usahakan lagi, ya. Semoga saja berhasil. Kamu yang semangat, jangan berhenti ikhtiar. Agar Allah senantiasa memberi jalan kemudahan."


Pesan dari Adam. Ia begitu sibuk hari itu, karena harus siap-siap kirim lagi keluar kota bersama dengan Raihan. Setelah selesai mengurus data pribadi, Yusuf pulangnya mampir dulu ke toko buku langganannya untuk membeli sebuah buku anak untuk keponkannya.


Ini sebuah takdir, toko buku yang biasanya sore sangat ramai pun menjadi sepi sore itu. Di sana juga di beri meja kursi untuk membaca, juga bisa memesan makanan dan minuman dari toko itu.


Ketika Yusuf berkeliling mencari buku yang lain, ia malah menemukan hal menarik lainnya. Terlihat gadis berambut pirang itu duduk dengan kaki berayun di sudut tembok. Sambil membaca, ia juga menggelintir rambutnya menggunakan pensil.


Yusuf berniat mendekati gadis itu, terlihat luka yang sudah kering di kakinya membuat Yusuf tenang. Yusuf juga memberikan camilan untuk gadis itu.


"Kamu di sini?" tanya Yusuf.


"Oh, Kakak." gadis itu berdiri. "Aku sudah menunggumu sangat lama, kenapa baru datang?" ucap Gadis itu dengan nada yang lembut.


"Kamu menungguku? Ada hal apa?" tanya Yusuf.


"Aku mencari buku diaryku. Aku sudah tanya kepada penjaga, kakak itu mengatakan jika kamulah yang menemukan buku diaryku, sampulnya warna ungu. Sekarang, aku mau minta diaryku kembali," ucap gadis itu menodongkan tangannya.


Baru saja Yusuf ingat, ia bahkan belum membuka buku itu. Yusuf akan mengantar buku itu ke rumah gadis pirang, akan tetapi gadis itu menolaknya. Ia tidak ingin orang asing datang kerumahnya. Jadi, ia minta kepada Yusuf untuk bertemu seminggu lagi di toko itu.


"Em, baiklah kalau begitu. Seminggu lagi kita akan bertemu di sini. Aku akan membawakan bukumu itu, sekarang aku mau pulang dulu. Sudah sore juga, sebaiknya kamu segera pulang. Bagaimana jika keluargamu mencarimu?" ternyata Yusuf bisa banyak bicara dengan gadis itu.


"Em, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, Kak. Tolong membungkuk," pinta gadis itu.


"Oh, oke," jawab Yusuf mulai membungkuk.


Tiba-tiba gadis itu mencium pipi kanan dan pipi kiri Yusuf dengan lembut. Bahkan, bibir Yusuf pun di sapu oleh bibir mungil gadis itu meski hanya menempel sebentar. Tatapan mata Yusuf tertuju dengan mata biru gadis itu.


"Ok, bye bye!"

__ADS_1


Gadis itu berlari keluar dengan riang, seperti mendapat lotre saja. Yusuf merasakan ada yang aneh pada dirinya. Biasanya, baik Rafa, maupun tiga balita itu, menciumnya akan biasa saja. Tapi, sentuhan bibir gadis itu berbeda.


"Astghfirullah hal'adzim. Kenapa aku baru sadar, sih? Kenapa rasanya lain? Ah, bibirku sudah tidak perjaka di renggut bibir gadis kecil berusia sepuluh tahunan? Apakah aku ini pria mesum?" gumam Yusuf.


"Astaghfirullahal Ladzii Laa Ilaaha Illaa Huwal Hayyul Qayyuumu Wa Atuubu Ilaihi." ucap Yusuf. "Sebaiknya aku sholat taubat nasuha. Eh, tapi kan aku nggak melakukan zina. Tapi, tadi, itu... Astaghfirullah, aku harus tanya Mas Adam ini," Yusuf merasa bersalah sendiri atas tindakan gadis itu.


Setelah membawa buku untuk keponakannya, Yusuf segera pulang ke rumah Airy untuk bertemu Adam sore itu juga. Dalam perjalanan, ia merasa tidak nyaman dengan ciuman itu. Ciuman yang selalu terbayang di ingatannya.


"Anak kecil itu kenapa bibirnya lembut," gumam Yusuf.


"Sentuhan itu, aghr. Ck, aku bisa gila kalau begini, aku di cium Ayanna aja masih baik-baik saja. Ingat Yusuf, dia masih bocah!"


Sesampainya di rumah Airy, kebetulan sekali Adam sedang memandikan burung peliharaannya di depan rumah. Sedangkan Airy sedang ke rumah Uti-nya bersama si kembar.


"Assalamu'alaikum," salam Yusuf.


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab Adam meletakkan semprotannya ke meja. "Ayo masuk,"


"Sedang ke rumah Uti. Kesehatan Kakung menurun, duduk dulu. Mas mau naruh burung ini dulu," jawab Adam.


Karena Airy tidak ada, Yusuf akan merasa nyaman ketika menceritakan sesuatu yang telah terjadi beberapa menit itu lalu. Ia menceritakan jika dirinya di cium oleh seorang gadis kecil di toko buku. Menanyakan sholat taubat apa yang harus ia lakukan agar terhindar dari kata zina dan merasa tentram hatinya.


"Apa? Kamu di cium oleh anak umur 10 tahun? Kok bisa?" tanya Adam kaget menahan tawa juga.


"Ih, aku nanya dosanya tergolong dosa yang mana. Malah balik nanya kok bisa," jawab Yusuf sedikit malu.


"Sebenarnya, kalau memang kamu juga tidak menginginkan ciuman itu, kamu tidak dosa. Terlebih lagi, anak itu belum baligh. Cukup wudhu dan sholat ashar sana. Kamu belum sholat ashar, 'kan? Makanya hatimu belum tentram," tutur Adam.


Benar sekali, Yusuf belum melaksanakan sholat ashar. Adam memintanya untuk segera dilaksanakan, ia juga meminta Yusuf untuk menunda pertanyaannya dulu, karena Adam juga tak kuat mendengar Yusuf dicium eh anak kecil.

__ADS_1


Usai menunaikan ibadah, Yusuf kembali menemui Adam dan melanjutkan cerita sebelumnya. Saat itu Adam tidak bisa berhenti tertawa melihat Yusuf dengan wajah lucunya memperagakan ketika dirinya dicium.


"Benar loh, Mas. Aku nggak pernah merasa, mak dek terpatri di hati dan pikiran gini. Sering jadi anggota PMI dulu, sering gendong siswi juga. Tapi biasa aja gitu, tapi ini dengan anak kecil... masa? Ah... apakah aku ingin ini bisa di sebut dengan pria mesum?"


Adam tak henti-hentinya tertawa menggoda Yusuf. Padahal Yusuf sudah kebingungan takut berdosa. Adam pun menjelaskan berkali-kali, jika itu bukan ada unsur kesengajaan, atau tidak ada niatan berbuat hal yang negatif serta pikiran juga tidak menuju ke hubungan pelecehan, maka Allah pasti mengampuni kecelakaan kecil itu.


"Tapi jujur, apa yang sudah kamu lakukan kepadanya, sehingga dia harus berterimakasih seperti itu?" tanya Adam.


"Aku cuma membantunya mengobati lukanya saja. Jadi, beberapa waktu lalu.. aku melihat dia bertengkar dengan ibunya di pinggir jalan. Dia di dorong gitu hingga jatuh, lalu lututnya terluka dan aku membelikannya plaster. Udah gitu aja," jelas Yusuf.


"Tapi kenapa cara berterima kasihnya seperti itu? Bibirku saja rasanya masih kelu, teringat mulu," lanjutnya.


"Mungkin memang cara dia berterima kasih begitu. Sudahlah, lupakan saja. Toh juga setelah ini kalian mungkin tidak bertemu lagi, 'kan?" kata Adam.


"Kita akan bertemu seminggu lagi. Aku sudah berjanji dengannya untuk mengembalikan buku hariannya yang tak sengaja aku bawa," nada Yusuf muai lelah.


"Hahaha jodoh kali kalian, sabar ya. Dah sana, mending kamu siap-siap pulang, ganti baju dan makan. Nanti kalau Kakakmu pulang, melihatmu masih memakai seragam sekolah, yang ada dia akan… tau sendiri, 'kan?" ucapan Adam begitu lembut kepada siapapun. Bukan hanya ucapan saja, bahkan perlakuannya pun istimewa.


Sama saja bagi Yusuf, ia sudah melakukan aktivitas lainnya untuk melupakan kejadian sore itu. Namun, tetap saja teringat dengan mata biru milik gadis kecil itu. Bahkan, rasa bibir gadis itu juga masih menempel di bibirnya.


"Astaghfirullah hal'adzim, kenapa aku ingat mulu, sih? Sadar Yusuf, sadarlah! Dia masih kecil, ya Allah kenapa bisa gini, sih?" pipi Yusuf sampai merah karena di tampar oleh tangannya sendiri.


Melirik ke arah diary gadis itu. Yusuf meraih diary itu dan tidak sengaja membuat sebuah foto terjatuh. Ketika Yusuf melihat foto itu, dia menyimpulkan jika kedua orang taunya berpisah dan tidak menginginkannya. Tertulis dengan jelas jika gadis itu membenci orang tuanya.


Pagi hari sebelum ke sekolah, Yusuf mampir ke toko buku lagi untuk menitipkan diary itu kepada pemilik toko. Yusuf meminta pemilik toko untuk memberikan buku itu kepada gadis kecil berambut pirang yang kemarin bersamanya sore hari.


"Oh, yang itu. Kenapa tidak kamu sendiri yang kasih, sih?" tanya pemilik toko itu.


"Enggak bisa, Bang. Aku sibuk belajar, tiga hari lagi kan ujian, mungkin juga aku akan jarang mengunjungi toko Abang. Tolong ya, di dalam sudah ada surat permohonan maaf kok, assalamu'alaikum,"

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Iya nanti aku berikan kepadanya," jawab pemilik toko.


Hanya ingin menghindari gadis itu saja, Yusuf harus berangkat pagi-pagi sekali karena takut jika gadis itu rumahnya di dekat toko itu. Sesampainya di sekolah, Yusuf mengeluarkan ponselnya, ia masih menanyakan tentang rencana Aminah yang katanya ingin berangkat ke Korea bersamanya.


__ADS_2