Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 324


__ADS_3

Di Jogja, Adam dan Gu pulang dari luar kota. Mereka bingung karena pesantren terasa sepi tanpa Yusuf, Aminah, Falih dan juga Hamdan tak terlihat batang hidungnya. Saat mereka melewati rumah Raihan, rumahnya juga terlihat sepi dengan pingin tertutup dan teras ada beberapa daun kering. Itu tandanya, pagi hari tidak ada yang menyapu.


"Alhamdulillah, sampai." ucap Adam.


"Mas, tadi lihat nggak? Kok rumah Bang Rai sepi banget, ya. Berantakan juga? Ada apa?" tanya Gu.


"Entahlah, sebaiknya kita pulang dulu. Kamu ikut Mas ke rumah saja dulu ya. Kita makan ini bersama-sama!" seru Adam menenteng gurame bakar kesukaan Airy.


"Hehe, boleh deh Mas. Ayolah!"


Mereka turun dari mobilnya. Di depan rumah, terlihat Airy sudah menyambutnya bersama Rafa saat itu. Rafa sangat gembira ketika Ayahnya pulang. Ia berlari, memanggil Adam dan memeluknya.


"Abi...." teriak Rafa.


"Assalamu'alaikum, Rafa di rumah? Biasanya jam segini ngaji di pesantren. Mbolos, ya?" tanya Adam.


"Wa'alaikumsalam, endak kok. Rafa nggak bolos, memang lagi kesal saja semuanya ninggalin Rafa!"


Adam menatap Airy.


"Masuk dulu, Abi sama Om Gu baru pulang, sebaiknya kita masuk dulu. Sudah mau maghrib juga, 'kan? Ayo Gu masuk!" ajak Airy.


Di dalam, Airy menceritakan semuanya. Tentang kecelakaan Raihan dan tentang teror dari Korea itu. Airy juga mendapat kabar jika teror itu berasal dari Senior Ami-nya.


"Mereka ke Korea? Sama siapa saja? Masih di bawah umur loh, Kak?" tanya Gu.

__ADS_1


"Ada pendampingnya. Radit yang mengawal mereka. Mau siapa lagi? Semuanya sibuk di rumah, Bang Rai juga baru sembuh, nggak mungkin mengantar mereka ke Korea," jawab Airy.


"Semoga saja, semuanya dalam lindungan Allah. Kasihan Laila, pasti dia shock saat ada teror itu. Bukannya dia sedang hamil, ya?" sahut Adam.


"Hamil? Kok aku ndak tahu, hahaha kenapa aku jadi serba tidak tahu?" Gu merasa jika dirinya orang asing. Jadi jika dirinya tidak tahu apa-apa, ia memaklumi itu.


Tapi, Airy dan Adam tidak merasa begitu. Mungkin Gu tidak mengetahui itu, karena dirinya sibuk dengan kuliahnya, juga sibuk membantu Adam merawat perkebunan. Jadi, masalah rumah tidak mengetahuinya.


Setelah ba'da maghrib, Gu pamit pulang dulu ke pesantren. Begitu juga dengan Rafa yang sulit sekali tinggal duduk diam di rumah, ikut serta bersama dengan Gu ke pesantren. Setelah Gu dan Rafa pergi, Adam langsung memeluk Airy dalam belakang, ia mencium tengkuk kepala Airy hingga membuat Airy kegelian.


"Mas, nakal ih!" lirih Airy.


"Kangen tau. Lama nggak ketemu," kata Adam masih menciumi tengkuk kepala Airy.


"Geli!"


"Magrib dulu, Mas Adam juga belum mandi, 'kan? Asem tau!" kata Airy seraya menutup hidungnya.


"Hehe, iya. Alhamdulillah pengiriman kali ini hasilnya lumayan. Jadi, bisa menambah tabungan buat lahiran adeknya Rafa, nih." Adam memberikan hasil pengiriman itu kepada Airy.


"Alhamdulillah, semoga kedepannya semakin lancar ya, Mas. Ayo dong mandi, setelah itu sholat maghrib berjama'ah," pinta Airy mendorong tubuh Adam ke kamar mandi.


-_-_-


Di rumah Ruchan.

__ADS_1


Ruchan baru saja menerima gurame bakar kesukaannya dari Adam yang di antar oleh Gu. Setelah sholat maghrib, Ruchan meminta Leah untuk memanggil Laila makan bersama. Kebetulan Raihan baru saja pulang dari pesantren.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh," jawab Ruchan dan Leah.


"Uti, mau kemana?" tanya Raihan.


"Memanggil Laila. Tadi si ganteng datang ke mari membawakan gurame bakar dari Adam. Uti mah panggil dia makan bersama," jawab Leah.


"Ustad Adam udah pulang?" tanya Raihan.


"Kayanya udah Ashar tadi," jawab Ruchan.


"Sana panggil istrimu, dari tadi dia di kamar terus. Katanya pusing sama mual. Mabuk kayaknya," ucap Leah kembali duduk.


Raihan segera ke kamar, ingin melihat keadaan Laila yang katanya mabuk. Benar saja, ia melihat istrinya sedang tidur miring dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ketika di bangungkan, Laila menjawab dengan nada lemah, "Kalau Bang Rai mau makan, makan dulu saja nggak papa. Aku nanti aja, perutku nggak enak rasanya."


Merasa tidak tega, Raihan membantu Laila duduk, kemudian mencium keningnya. Ia tetap akan membawa Laila ke meja makan dan memintanya untuk makan. Di gendonglah Laila ke meja makan. Melihat keuwuan cucunya, Leah dan Ruchan serasa ingat pas muda dulu yang sering bermain gendong-gendongan.


"Bi, gendong Mama, bisa?" goda Leah.


"Bisa, tapi yang ada nanti Abi encok, mau pijitin?" jawab Ruchan.


"Heleh, Abi mah gitu.. ya udah ayo makan, setelah ini Mama mau buat kue," ucap Leah.

__ADS_1


Begitulah pasangan senior yang suka iri melihat keuwuan pasangan junior. Kemesraan meraka tak bisa di kalahkan oleh waktu, keriput di tangan dan wajahnya. Bukti kasih sayang sepanjang masa, telah di lakukan oleh Ruchan dan Leah saat ini.


__ADS_2