Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 189


__ADS_3

Di pertemuan semua karyawan, Airy makin lincah saja saat bicara. Ia mendapat semangat karena sudah bertemu dengan suaminya.


"Tapi, kenapa Mas Adam nggak ingat aku, ya. Ah, pasti amnesia seperti di novel-novel, drama Korea, sama pilem ini, halah jan! Ono-ono wae," batin Airy.


Meskipun hati sedang galau, Airy masih tetap bisa profesional kerja. Ia juga harus belajar lebih giat lagi, karena harus kuliah dengan jurusan yang berbeda dengan sebelumnya.


"Diem aja sih, kenapa?" tanya Raihan.


Airy menceritakan tentang lelaki yang mirip sekali dengan suaminya. Ternyata, yang dikatakan Hafiz kepada Raihan benar, jika Adam juga berada di daerah di mana mereka tinggal sekarang. Bukan hanya Raihan dan Airy saja yang menyelidiki siapa orang yang mirip dengan Adam itu. Namun itu menjadi alasan Hafiz, kenapa ia ikut serta tinggal ke Ibukota.


"Kembali bekerja. Ingat! Besok mulai kuliah, jangan bolos, tetap semangat. Majukan usaha keluarga kita ini!" seru Raihan.


"Siap, Bos!" ucap Airy semangat.


Ketika jam makan siang tiba, Airy meminta Adnan/Adam untuk ke ruangannya. Langkah pertama Airy, ia harus memastikan bahwa lelaki itu adalah suaminya atau bukan.


Tok, tok, tok.


Adam mengetuk pintu dengan perlahan.


"Masuk!" ucap Airy.


"Permisi. Apakah Ibu panggil, saya?" tanya Adam.

__ADS_1


"Bisa belikan saya makanan, untuk makan siang?" tanya Airy.


"Bisa dong, ya." desaknya.


Adam mengangguk.


"Nasi padang, pakai ampela. Nggak pake lama!" sengaja Airy menggunakan kata 'nasi padang' karena itu awal mereka menjadi dekat dulu.


"Soal perjodohan itu, enaknya kamu mau bagaimana Airy, jika ini berdampak bagi ketenangan di pesantren, apa sebaiknya kita batalkan saja,"


"Enak aja! Jangan dong, kita nikah aja secepatnya!"


"Airy!"


"Hallo, apa kamu sakit? Kenapa kamu diam saja?" tanya Airy.


"Maaf, Bu. Entah kenapa, saya tiba-tiba teringat sesuatu." jawab Adam.


"Namamu, siapa?" tanya Airy dengan jantung berdebar.


"Adnan, saya karyawan baru di sini, Bu." jelas Adam.


Airy tersenyum, ia yakin. Jika lelaki di depannya itu adalah suaminya. Masih butuh proses, agar semuanya tidak terkesan tiba-tiba, ia meminta Hafiz untuk menyelidiki siapa Adnan ini.

__ADS_1


Saat Adam keluar dari ruangannya, Airy meneteskan air matanya lagi. Suaminya, berada di depan matanya. Namun, ia tak bisa menyentuh dengan leluasa seperti sedia kala.


"Gemes banget, Ya Allah. Pengen peluk, pengen cium, pengen tak usel-usel. Samar ndek dudu bojoku. (takut kalau bukan suamiku). Tapi kok mirip banget semuanya sama, Mas Adam," gumam Airy.


"Mas Adam." desahnya.


Beliin Nasi Padang... Kita harus menikah secepatnya... Aku Airy, si pendekar wani perih hahaha... ayo, Mas Adam! Harus ikuti aku manjat pohon, dong... Kita nangkring di atas sini!.


"Ada apa denganku hari ini? Kepalaku pusing sekali." Keluh Adam.


Setelah selesai memesan nasi padang. Adam langsung kembali, dan memberikan pesanan Airy ke ruangannya. Ketika ia masuk, ia melihat Airy sedang berbicara dengan Rindi yang sekarang di luar negri. Meminta saran yang baik, untuk membuat Adam kembali mengingatnya.


"Permisi, Bu Calista. Ini pesanan, Ibu." ujar Adam.


"Terima kasih, kamu bisa kembali sekarang!" Perintah Airy.


"Permisi." pamit Adam.


"La haula wala quwwata illa billahil aliyil adzim. Aku lupa, kalau nama kerenku di sini, Calista." ucap Airy.


Tidak sengaja, Adam bertemu dengan Raihan. Mereka berpapasan, karena Raihan sedang sibuk, ia hanya memberi senyum kepada Adam. Kemudian, ia mengirim CV milik Adam, yang ia dapatkan dari temannya di kantor.


Apakah Hafiz akan berhasil menyelidiki Adam/Adnan ini?

__ADS_1


__ADS_2