Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 339


__ADS_3

Sampailah mereka ke tempat pabrik yang baru akan di bangun itu. Tempat itu masih banyak tukang dan masih berantakan karena sedang ada pembangunan. Raditya meminta Aminah untuk turun dan duduk di sofa kantor yang sudah berdiri di pabrik itu.


"Harus, ya... kita bicara di sini? Sepenting apa, sih?" tanya Aminah mengeluarkan botol air minumnya.


"Ini masalah kita, dan perjodohanmu dengan, Kakakku!" seru Raditya.


Mereka kembali diam, baru kali ini Aminah merasa sakit ketika bertemu dengan Raditya. Tak lama kemudian, ada mandor proyek yang masuk membawakan minuman dan beberapa camilan.


"Bang, aku sakit hati. Dadaku ini, kek sesek gitu loh. Abang kenapa nggak jujur aja sih, kalau kita…" Aminah menyeka air matanya.


"Bang, jangan bilang, Abang memang mau mundur dan membiarkan aku menjalani perjodohan ini? Abang jawab!" lanjutnya.


"Aku harus bilang apa, Minah?" tanya Raditya. "Kamu masih kecil untuk aku nikahi, perjodohan itu hanya akan terjadi saat kamu lulus sekolah nanti, kita masih ada waktu untuk menjelaskan semua ini kepada Ibuku dan Mas-ku," pekik Raditya.


"Lalu, apakah selama itu kita terus begini? Akan jauh lebih baik, jika aku meneruskan pendidikanku di Singapura. Agar aku tidak masuk ke keluargamu, assallamu'alaikum!" Aminah pergi begitu saja. Namun berhasil Raditya cegah dengan menahan lengannya.


Tatapan Raditya yang begitu dalam membuat Aminah kembali menangis. Hatinya terasa teriris jika harus menutupi perasaannya. Tak mampu Aminah untuk menatap Raditya, ia memilih untuk menunduk dan tidak mengatakan sepatah katapun.


"Beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya kepada keluargaku. Tolong…." janji Raditya.


"Baiklah, aku akan menyetujui pertemuan ke dua itu. Agar aku bisa bicara dengan Mas-mu tentang kita," ucap Aminah.


Raditya mengangguk, lalu melepaskan genggamannya. Kemudian mengajak Aminah untuk kembali duduk lagi. Kali ini, Aminah menurut. Mungkin, jika Aminah bicara dengan Rasid, itu tidak akan menjadi masalah. Akan tetapi, Raditya masih butuh waktu untuk membahas semua itu dengan Ibunya karena Ibunya menderita lemah jantung.


"Bang, kenapa dua bulan ini nggak ada hubungi aku?" tanya Aminah.


"Maaf ya. Sebelumnya aku memang ingin menghubungimu. Tapi, waktu di Bandara, kamu terlihat marah dan kecewa kepadaku, jadi aku berniat untuk tidak menghubungimu," jelas Raditya.

__ADS_1


"Mianhae," lirih Aminah.


"Untuk?" tanya Raditya.


"Aku sudah bersikap kekanak-kanakan, maaf. Aku tak seharusnya bersikap seperti itu," sesal Aminah.


"Mungkin aku yang terlalu terburu-buru. Itu semua aku lakukan, semata-mata takut kehilanganmu. Waktu kamu bonceng temen cowokmu, terus katanya kamu di tembak cowok lain juga. Itu membuatku kesal dan muak, aku ingi akhiri kebimbanganku dan segera memilikimu. Tapi, aku tidak sadar diri, jika usia kita belum mencukupi untuk menikah," ungkap Raditya malu-malu.


Mendengar alsan itu, Aminah tertawa terbahak-bahak hingga ia tersedak. Setelah dua bulan lamanya, keceriaan Aminah kini telah kembali. Ia bisa tertawa selepas itu karena Raditya. Memang cinta merubah segalanya, cinta itu ibarat candu yang selalu haus, lalu seperti riwayat penyakit yang kadang akan kumat ketika merindukannya.


"Jadi, hubungan kita ini…?" tanya Aminah.


"Aku tetap tidak ingin pacaran. Biarlah hubungan kita dekat seperti ini, karena tetap saja pacaran itu dilarang oleh agama." tegas Raditya.


Mereka berencana untuk menghabiskan waktu senja bersama. Malamnya, Aminah mengatakan semuanya kepada Syakir dan Balqis dengan apa yang sore tadi terjadi. Beruntung, Aminah memiliki orang tua seperti Syakir yang tak pernah memberatkan beban pikiran anaknya. Ia hanya memberi suatu nasihat yang harus Aminah ingat tentang suatu hubungan dengan lawan jenis sebelum ada ikatan halal, dan Aminah mengerti itu.


-_-_-


"Apakah semuanya tetap akan baik-baik saja? Akankah keluarganya juga tidak akan mengejarku lagi?" tanya Raihan.


"Ih, percaya diri kali, Bang. Aku tahu jika Abang memang selalu direbutkan para wanita. Tapi, aku yakin dengan pasti kalau keluarga Syifa tidak akan mengejar Abang lagi," jawab Laila.


"Aamiin kalau begitu. Tapi, asal istriku ini tau. Jika seseorang dalam hidupnya selalu mengejar Tuhannya, pasti ciptaannya akan kembali mengejar hamba Allah itu. Jadi, mulai saat ini, istriku ini harus lebih giat lagi belajar agamanya, jangan mau kalah sama Rafa, oke?"


Laila tersipu malu ketika Raihan membandingkannya dengan si kecil Rafa. Laila pun menggelitiki Raihan dan mereka bercanda berdua di kamar.


Masalah demi masalah selesai. Pertemuan kedua Aminah dan Rasid juga sudah di tentukan. Malam itu, Aminah akan memberitahu Rasid tentang hubungannya dengan Raditya. Agar mereka bisa memikirkan bagaimana cara untuk membatalkan perjodohan itu tanpa menyakiti perasaan Ibunya Rasid dan Raditya.

__ADS_1


"Jadi, kamu dan Adit... memang ada hubungan?" tanya Rasid.


"Memang? Me-memang? Ma-maksudnya, Mas Rasid udah tau?" jawab Aminah gugup.


"Haha, kalian yang menunjukkan. Bagaimana mungkin aku tidak mengetahuinya? Aku hanya tidak menyangka saja kalian akan jujur secepat ini," jelas Rasid.


"Ah, itu. Aku hanya tidak ingin membuat Ibumu semakin sakit hati saja, atau takutnya nanti Mas Rasid beneran suka sama aku, malah tambah ribet, 'kan?" celetuk Aminah.


"Tapi sayangnya, aku sudah sangat menyukaimu," kata Rasid jujur.


"Hah?"


"Jangan suka sama aku, karena aku hanya suka sama Babangku. Tolong jangan buat aku bingung, dong...."


Jawaban Aminah membuat Rasid tertawa. Selama ini, ia tidak pernah menemukan gadis seperti Mainan yang lucu dan ceplas ceplos. Aminah bahkan berterus terang untuk Rasid tidak menyukainya.


"Tapi, aku memang sudah terlanjur menyukaimu, mungkin hampir mencintaimu. Bagaimana?" goda Rasid.


"Eh, jangan, dong. Baru hampir, 'kan? Belum mencintai? Jangan teruskan, oke? Kita seperti kakak adik saja," Aminah masih saja polos.


"Yah... aku patah hati. Gimana, dong?" goda Rasid.


Tiba-tiba, jurus pamungkas Aminah keluar. Ia menginjak kaki dan menendang buwung puyuhnya Rasid sedikit keras hingga Rasid teriak kesakitan.


"Cukup, aku hanya bercanda, Aminah. Aw!"


Aminah memperingati Rasid agar tidak menggodanya lagi. Karena ia tidak suka di goda dengan cara tatapan Rasid yang menyebalkan. Berbeda dengan tatapan Raditya yang membuat jantung hati Aminah berdebat kencang.

__ADS_1


"Makan tuh! Dah dibilang jangan lanjutin lagi perasaannya, eh malah ngadi-ngadi, kesel ane!" gerutu Aminah.


Aminah kembali ke dalam rumah, ia sudah mendapati ibunya Raditya menangis di pelukan Raditya. Yah, malam itu juga Raditya mengungkapkan jika dirinya menyukai Aminah sudah sejak beberapa bulan lalu. Namun, Ibunya tetap tidak menerima semua itu, Ibunya Raditya hanya ingin Aminah menikahi Rasid, bukan Raditya. Akankah, Aminah dan Raditya memperjuangkan kisah cintanya? Atau Aminah memilih untuk ke Singapura?


__ADS_2