Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 190


__ADS_3

Malamnya, Airy tak dapat tidur. Ia terus saja memikirkan, tentang siapa orang yang mirip dengan suaminya itu.


"Suara, sama buatan kopinya sama persis dengan, Mas Adam."


"Terus, wajah, postur tubuh, dan cara jalannya pun sama. Tapi namanya, Adnan. Dan hanya Adnan aja? Hm, pencurigakan nggak, sih? Gemes deh," gumamnya.


"Mama," panggil Rafa.


"Iya, Rafa. Ngantuk ya? Mamamu bawel? Ya udah, bobok yuk."


Akhirnya, kebingungan Airy tetap bisa membawanya ke alam mimpi. Bukan Airy jika memiliki masalah tetap bisa mendengkur keras.


Pagi hari, ia sengaja berangkat lebih awal dari biasanya. Bahkan, ia juga tidak berpamitan dengan Raihan. Dengan harapan, bisa bertemu dengan lelaki yang mulai ia kejar itu.


"Mama berjuang dulu ya, Nak. Doakan Mama, supaya bisa membawa Abi mu pulang. Doakan juga, supaya Abi mu cepat kembali mengingat kita, Amin. Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma lakasumtu, oh bukan. Assalamu'alaikum." ucap Airy, seraya mengecup kening Rafa.


Ia bahkan mengendarai motor vespa milik, Doni. Dengan izin Pak Dar, Airy pun berangkat dengan hari ruang gembira.


"Hm, aku yakin. Si Adnan itu, Mas Adam. Nggak mungkin jika orang lain, aku bisa se semangat ini. Ayo Airy, kobarkan semangatmu!" Airy mensuport diri sendiri.


Sampai di lampu merah, kebetulan sekali Airy berhenti di samping motor Adam dan Lulu. Mereka sedang berboncengan, itu semakin membuat hati Airy panas.


"Hah? Allahu ya Karim, itu 'kan Adnan aka Mas Adam? Ngapain bonceng cewek? Ah, pelanggaran ini!" batin Airy dengan emosi.


"Gemes banget, pakai peluk dari belakang segala. Nggak! Ini nggak bisa adi biarin, kau harus cegah! Tak campak nanti kamu, Mas!" geramnya.

__ADS_1


Ketika lampu sudah hijau, Airy sengaja ngebut untuk memberhentikan Adam. Untung saja Airy sudah jago naik motor, ia pun bisa menyusul dan memberhentikan Adam ke pinggir.


"Siapa sih, Nan?" bisik Lulu.


"Nggak tau juga aku." jawab Adam.


"Assalamu'alaikum! Maaf nih ya, ganggu. Kamu Adnan 'kan? Boleh minta bantuan nggak?" tanya Airy turun dari vespanya.


"Astaghfirullah, tak tau malu banget aku ini. Amit-amit, mugo wae wong ini pancen bojoku, nek dudu yo isin aku! (semoga saja orang ini menang suamiku, kalau bukan ya malu aku), wes lah, kudu semangat!" batinnya.


"Wa'alaikum sallam, Bu Calista? Ada apa ya, Bu?" tanya Adam.


"Hah, pengen aku gigit pipinya. Pengen tak peluk, tak uwu uwu uwu. MasyaAllah, kudu tahan, sabar lan alon-alon," batin Airy.


Airy pun menjelaskan kenapa ia memberhentikan Adam dan Lulu di tengah jalan. Airy berencana untuk meminta Adam menyetir motor untuknya. Karena memang tak ada perasaan apapun dengan Adam, Lulu pun mengiyakan permintaan, Airy.


"Aku bisa, kok. Sebelum ada kamu 'kan, aku juga nyetir sendiri. Udah sana berangkat, nanti Bosmu marah, loh. Duluan, ya."


Lulu pun berlalu pergi, mereka pun akhirnya bisa boncengan lagi seperti dulu. Ingin rasanya Airy memeluk Adam, tapi ia masih bisa menahan hasrat terpendam nya itu. Ia bahkan meneteskan air matanya lagi, "Dua bulan lebih, Mas. Semoga kamu memang Mas Adam, aku yakin kamu hilang ingatan. Kalau kamu bukan Mas Adam, mana mungkin aku merasa senyaman, ini."


"Dia siapa? Istri kamu?" tanya Airy tiba-tiba.


"Ah, bukan Bu. Dia saudara saya," jawab Adam dengan cepat.


"Yes, Alhamdulillah WA syukurillah, suwun gusti. Sampun paringi kulo mentari terang benderang." ucap Airy dalam hati.

__ADS_1


Sampai di kantor, Airy masih belum bisa move on dari drama naik motor itu. Sampai sekertaris Raihan datang saja ia tidak mengetahuinya.


"Bu. Bu Calista," panggil sekertaris Raihan, namanya Nina.


Seribu kali panggilan tak ia dengar, Airy masih terus bergumam tentang rindunya dia dengan suaminya. Sampai Nina menggunakan cara, dengan menggebrak meja nya. Itu yang di ajarkan oleh Raihan.


Brakkk....


Suara gebrakan meja, buat Airy lompat sampai ke kursinya. Dengan wajah yang lucu, Nina pun tertawa sampai terbahak-bahak.


"La Ilaha Illallah, Nina! Kaget tau!" teriak Airy.


"Mana segala macem gebrak meja, ketawa lagi. Dasar, sekertaris lucknut!" serunya.


"Maafkan saya, Bu Calista. Habisnya, Ibu saya panggil sejak tadi, sampai berkali-kali, Ibu nggak ngrespon, saya. Maaf ya, Bu." jelas Nina.


"Durjana! Ada apa?" tanya Airy.


"Ada berkas yang perlu Ibu setujui. Dan yang ini, mohon di baca lagi. Kata Pak Raihan, Ibu perlu belajar tentang perusahan lebih dalam lagi." kata Nina, sembari memberikan setumpuk kertas dan dokumen di depannya.


"Sepagi ini?" protes Airy.


"Harusnya kemarin, tapi kemarin Ibu pulang lebih awal 'kan?" jelas Nina.


"Hish, ya udah iya. Terima kasih, lain kali jangan gebrak meja lagi. Masa imut gini di gebrak, 'kan nggak lucu!" keluh Airy.

__ADS_1


Nina pun keluar, lalu Airy mulai membaca dan mempelajari tentang perusahaan seperti yang Raihan mau.


__ADS_2