
"Kenapa... kita ke kamar mandi?" tanya Cindy.
Jihan dan Fatur berlari ke arah mereka berdua, Jihan juga mengajak Cindy untuk segera masuk ke kamar mandi. Ia juga membawa celana ganti dan pembalut untuk Cindy.
"Pembalut? Kamu kok tau, kalau ini tanggal mens-ku?" tanya Cindy.
Jihan menunjukkan bagian belakang Cindy menggunakan cermin kecil miliknya. Betapa malunya Cindy kepada teman-temannya, terutama kepada Yusuf. Jihan juga minta maaf kepadanya karena tidak menyadarinya sejak awal.
"Astaga, aku jadi malu. Inikah sebabnya anak-anak tadi ngetawain aku?" tanya Cindy.
Jihan mengangguk. "Aku baru ngeh ketika Yusuf menghentikan pertandingan itu. Maafkan aku, Cin…." sesalnya.
"Ahh, kamu nggak salah. Aku malu banget, aku jadi malas masuk kelas. Aku harus bagaimana, Jihan?"
Siapa yang tidak malu, kita sebagai perempuan, jika bocor ketahuan oleh lelaki, atau sahabat perempuan saja pasti sudah malu. Namun, ingatan Cindy terus tertuju kepada Yusuf yang kelihatan tampan ketika menolongnya, menarik lengan jaketnya di depannya. Cindy sudah jatuh cinta saat pertemuan pertamanya, entah bagaimana dengan Yusuf sendiri.
"Aku malu, aku harus bagaimana, Jihan?" tanya Cindy sambil membersihkan diri.
"Gimana ya? Ah, bagaimana kalau kamu pulang saja, soal pertandingan kan kita masih ada Ayu, sebagai penggantimu. Lagian juga, ini tidak sedang pelajaran, jadi kamu bebas pulang kapan saja, asal absen jangan lupa!" usul Jihan.
"Terus, aku harus bagaimana ketika berhadapan dengan Yusuf. Sumpah malu banget, ya Tuhan, help me!" kebingungan tengah melanda Cindy.
Tak lama setelah itu, Cindy dan Jihan keluar dari kamar mandi. Ternyata Yusuf dan Fatur masih ada di depan untuk menunggu mereka keluar. Cindy malu-malu mengucapkan terima kasih kepada Yusuf, ia bahkan memalingkan wajahnya dari Yusuf dan Fatur.
"Kamu, nggak papa, 'kan?" tanya Fatur.
"Hush!" tegur Yusuf.
"Em, aku bisa mengantarmu pulang. Bagaimana kalau kamu pulang lebih awal? Fatur tadi udah absenin kamu ke guru bimbingan," Yusuf memang cowok idaman.
"Aku bisa pulang sendiri, kok. Kamu juga pasti bakal ikutan lomba, 'kan?" alasan Cindy gugup.
__ADS_1
"Hm, kamu lupa, kah? Aku tidak mengikuti lomba apapun. Aku bisa mengantarmu, aku juga bawa motor, jadi kita akan lebih cepat sampai ke rumahmu," desak Yusuf, karena ia tahu di situasi seperti itu, Cindy akan merasa canggung dan malu kepada anak-anak yang mengejeknya sebelumnya.
Mau tidak mau, Cindy memang sulit untuk menolak Yusuf. Apalagi, Yusuf juga sudah membantunya, ia tak akan sungkan lagi menerima tawaran Yusuf mengantarnya pulang. Izin dari bimbingan sudah di dapat untuk Yusuf, mereka pun pulang ke rumah Cindy mengendarai motor Yusuf.
Sepanjang jalan, Cindy yang biasanya bawel itu menjadi sedikit pendiam. Ia juga selalu menunduk, menutupi wajahnya. Suasana itu membuatnya canggung, Cindy juga selalu teringat ketika Yusuf mengikatkan jaketnya di pinggulnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Yusuf.
Namun, Cindy masih saja ngelamun mengingat saat Yusuf menghampirinya. Bahkan Yusuf sampai menggoyangkan motornya agar Cindy sadar dari lamunannya.
"Cindy!"
Yusuf meminggirkan motornya, lalu berhenti.
"Kok, berhenti? Ini belum sampai ke rumahku," ucap Cindy bingung.
"Aku dari tadi nanya ke kamu, di mana rumahmu. Tapi kamu malah bengong tidak menjawab. Kamu sehat, 'kan? Perut kamu nggak sakit, 'kan?" Yusuf terlihat perhatian di mata Cindy. Namun, itu memang sifat Yusuf yang selalu baik kepada siapapun.
"Pertanyaan kamu malah buat aku bingung, deh. Aku punya dua Kakak perempuan, punya lima adik perempuan juga yang semuanya sudah baligh. Ya aku tahulah, di agama juga pernah dibahas tentang menstruasi," jelas Yusuf.
"Begitu istimewanya wanita dalam pikiranmu, Yusuf?" tanya Cindy.
"Wanita memang harus dimuliakan. Mereka juga yang melahirkan kaum lelaki, bukan? Jadi… kamu sakit perut atau tidak?" Yusuf bertanya sekali lagi.
Cindy hanya menggeleng. Ia takjub dan kagum atas pernyataan Yusuf yang mampu menyihirnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Di mana rumahmu?" tanya Yusuf.
Cindy menunjukkan dengan detail arah ke rumahnya. Cindy sudah jatuh cinta kepada Yusuf, tapi sayang… cintanya masih bertepuk sebelah tangan karena Yusuf belum memiliki rasa apapun kepada Cindy. Yusuf hanya menganggap Cindy sahabatnya saja, itu mengapa Yusuf tak pernah peka dengan perhatian Cindy selama dua bulan terakhir.
Sesampainya di rumah Cindy, Yusuf langsung pamit. Cindy memang menawarkan Yusuf untuk tinggal beberapa menit untuk menikmati minuman dingin. Akan tetapi, melihat situasi rumah dalam keadaan sepi, Yusuf langsung menolaknya. Ia tidak ingin ada apa-apa yang yang terjadi, dan akan merugikan diri sendiri maupun Cindy kedepannya. Jadi, ia memtuskan untuk kembali ke sekolah saja.
__ADS_1
"Kalau begitu, hati-hati di jalan, ya? Jangan ngebut, masih ada waktu kok sampai sekolah," pesan cindy.
"Iya, aku permisi dulu." pamit Yusuf, kemudian menyalakan mesin motornya dan melaju.
_-_-_-_
Sore seperti biasa, Yusuf dan Hamdan mengajar anak-anak mengaji di masjid. Banyak ibu-ibu juga di sana yang menunggu anak-anaknya mengaji. Sepertinya bukan karena menunggu anaknya saja, ibu-ibu ini cenderung ngerumpi serta ingin melihat Yusuf dan Hamdan saja.
"Ada janda muda yang terus memperhatikan kita," bisik Hamdan kepada Yusuf. "Janda itu berusia 18 tahun, tapi belum punya anak, dia mengantar adiknya ke sini untuk ngaji," imbuhnya.
"Bukan kita, dia hanya memperhatikanmu saja," jawab Yusuf.
"Mana ada?" elak Hamdan.
"Kemarin dia nanya, Hamdan udah punya pacar belum. Aku jawab kalau kamu masih jomblo dan sedang mencari cewek Jawa tulen untuk dibawa ke Korea dan dijadikan istri," goda Yusuf.
"Cup!" teriak Hamdan, hingga membuat anak-anak dan Ibu-ibu di sana menengok ke arahnya.
"Cup, jahat banget, sih, kamu? Nanti kalau disangka serius sama dia bagaimana? Aku nggak mau ah…." rengek Hamdan.
"Nikmati saja kegantenganmu, Ham Ham oppa…." Yusuf tak henti-hentinya menggoda Hamdan hingga Hamdan merasa geli dan jijik ketika mendengar Yusuf memanggilnya dengan sebutan Oppa.
Sampai akhirnya, janda muda itu beneran menghampiri Hamdan setelah pelajaran mengaji telah usai. Begitu juga dengan Yusuf yang kabur meninggalkan mereka berdua di depan masjid.
"Maaf mengganggu, kemarin…."ucap janda muda itu terpotong.
"Mo-mohon maaf, saya menyela juga. Ta-tapi, yang dikatakan Yusuf kemarin kepada mbak-nya ini, itu tidak benar. Sa-saya duluan ya, Mbak. Assallamu'laikum!" seru Hamdan dengan terburu-buru memakai sendalnya.
"Wa'alaikumsallam warrahmatullahi wabarokatuh,"
Ternyata, Hamdan hanya salah paham. Janda muda itu hanya ingin mengatakan soal adiknya yang kemarin yang tidak bisa masuk ke TPQ, karena main sampai maghrib. Dan Yusuf juga tidak pernah mengatakan hal konyol itu kepada janda muda itu. Ia hanya ingin menggoda Hamdan saja, agar dia tidak terlalu memikirkan Falih yang sudah kembali ke Jepang dan tak tahu akan kapan akan kembali.
__ADS_1