
"Ham Ham!" teriak seorang gadis berseragam SMA memanggil nama Hamdan dengan nama kecilnya. Hamdan menoleh, mencari-cari siapa gadis itu.
"Ham Ham? Bukankah, itu artinya Baabi, ya?" mulut Falih memang tidak ada akhlak.
"Lih!" seru Yusuf.
Gadis itu tiba-tiba memeluk Hamdan, tentu saja Hamdan merasa terkejut. Ia pun langsung mendorong gadis itu hingga terjatuh. Bukan maksud kasar atau bagaimana, tapi Hamdan hanya kaget saja. Kenapa Gadis itu memeluknya secara mendadak. Falih dan Yusuf langsung menolong wanita itu, untung saja gadis itu memakai lengan panjang jadi ketika Falih dan Yusuf menarik lengannya mereka tidak bersentuhan kulit langsung.
"Ham Ham, kau tidak mengenaliku?" tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kasar banget kamu, Ham. Dia cewek, loh!" ucap Yusuf.
"Iya, dia perempuan. Tapi setidaknya, dia punya tata krama untuk tidak memeluk sembarang orang. Dan yang harus ia tahu, ada seseorang yang tidak bisa di sentuh begitu saja karena menjaga diri dari orang yang bukan mahramnya," ucap Hamdan menggunakan bahasa Korea.
Melihat kemarahan pada wajah Hamdan, Falih mengajak Yusuf untuk meninggalkan mereka berdua agar bisa saling bicara dan menyelesaikan masalahnya. Falih dan Yusuf duduk di tepat di samping bawah mereka berdiri. Hamdan memulai pertanyaan yang mungkin membuat Falih dan Yusuf tidak paham karena menggunakan bahasa Korea.
Namun, dari mimik wajah Hamdan dan gadis itu, Falih dan Yusuf mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Siapa kamu?" tanya Hamdan." Kenapa kamu dengan tidak sopan-nya memelukku seperti itu. Apakah kau tahu, tidak sembarang orang bisa di peluk begitu saja dengan lawan jenisnya. Apa kamu tau itu?" tanya Hamdan sedikit membentak.
"Kamu kenapa seperti ini? Apakah kamu tidak ingat denganku? Kenapa kamu bicara kepada dengan formal seperti itu?" gadis itu mulai menangis.
Gadis itu mengaku jika dirinya adalah kekasih masa kecilnya. Ia bernama Cassandra, gadis keturunan Amerika-Korea. Cassandra juga menjelaskan jika dirinya dan Hamdan pernah berbagi makanan dalam satu wadah/bekal. Di sana, itu sudah di sebut menjadi kekasih. Apa lagi, Cassandra juga memanggil nama Hamdan menggunakan nama yang dulu di berikan kepda Cassandra 'Ham Ham' yang artinya baabi kecil.
"Haha, teori dari mana itu? Makan dalam satu wadah, sudah di sebut sepasang kekasih?" tanya Hamdan kesal.
__ADS_1
"Tapi, Ham Ham..." lirih gadis itu.
"Cukuplah! Aku bukan Ham Ham, dan aku tidak mengenalmu…" belum juga Hamdan menyelesaikan pembicaraannya, lagi-lagi Cassandra memeluk Hamdan tanpa permisi terlebih dahulu.
Tentu saja Hamdan merasa marah, sudah Hamdan jelaskan dengan baik, namun Cassandra tidak mengerti juga. Ia pun membentak gadis malang itu hingga menangis kejer, kemudian pergi meninggalkan Hamdan. Berlari dengan air mata di pipinya.
"Haih, kalau lihat drama, pasti ada translate nya. Ini bingung harus di artikan sendiri," bisik Falih.
"Memangnya kamu suka nonton drama? Sejak kapan" tanya Yusuf.
"Saat negara api mulai menyerang?" imbuh Yusuf.
"Bukan suka, sih? Pernah nonton sekali doang, itu pun karena di racuni sama, Aminah. Mana pas adegan ciuman lagi, huh!" jawab Falih.
"Astagfirullah hal'adzim. Matamu berdosa sekali," ucap Yusuf.
Hamdan kembali dan duduk di samping Yusuf. Ia meluapkan kekesalannya karena gadis bernama Cassandra itu. Hamdan juga menjelaskan tentang kenapa gadis itu memeluknya. Karena gadis itu merasa jika Hamdan dan dirinya adalah kekasih masa kecil.
"Ya Allah, hanya makan dalam bekal yang sama sudah di anggap pacaran? Haha ada-ada saja, deh!" seru Yusuf.
"Itu mengapa aku bersikeras pindah ke Jogja. Meski tidak semua begitu, tapi di usia yang masih muda ini, aku takut agamaku tidak bisa mengimbangi budaya di sini, makanya aku pindah," jelas Hamdan. "Kau juga begitu kan, Ahmad?" tanya Hamdan.
"Haha, iya. Kok jadi Ahmad? Ya tapi, aku nggak bisa seperti Mawar, dia kuat banget imannya. Ya karena dia sekolah di khusus perempuan, jadi bisa jaga diri," jawab Falih.
Itulah jika menjadi Minoritas di suatu negara. Bukan hanya di negara lain, coba kita lihat di negara kita sendiri yang Minoritas orang Non Muslim. Ada baiknya sejak dini memang kita harus bisa menerapkan toleransi yang tinggi. Semua agama mengajarkan kebaikan, kasih sayang dan lembut menyikapi hidup ini. Hanya saja cara kita yang berbeda.
__ADS_1
Mereka bertiga melanjutkan jalan-jalannya ke tempat wisata lain, sementara Aminah dan Raditya memilih untuk pulang dan beristirahat. Mereka berdua sudah tak ingin kemana pun lagi setelah Aminah bingung dengan perasaanya.
"Mau kemana lagi kita?" tanya Raditya.
"Pulang sajalah, aku pusing!" ucap Aminah.
"Kenapa? Kamu sakit? Sebaiknya kita ke rumah sakit untuk periksa, bagaimana?" usul Raditya.
"Aku mau pulang saja, bisakah kita pulang ke rumah Tante Ceasy sekarang?" tanya Aminah.
Raditya mengangguk, segera mereka memanggil taksi. Di dalam taksi pun Aminah hanya diam saja, ternyata masih terngiang ajakan nikah Raditya semalam.
"Minah. Apakah kamu benar baik-baik saja? Kok dari tadi diem aja, sih? Kan nggak enak kalau saling diam-diaman kayak gini." ujar Raditya penasaran juga.
"Ngobrol kek, tanya-tanya apa gitu. Nggak biasanya deh kamu jadi pendiam kayak gini. Kamu marah sama aku?" tanya Raditya.
Aminah hanya tersenyum kecil dan kembali memalingkan wajahnya. Dalam hatinya, ia harus mengungkapkan perasaannya saat itu juga, atau dirinya akan terus merasa tersiksa batinnya.
Sesampainya di rumah, Aminah meminta Raditya untuk duduk di sampingnya. Tentu saja tidak dekat, masih ada jarak di antara mereka.
"Bang!" panggil Aminah dengan sedikit nada tinggi.
"Astaghfirullah hal'adzim, aku masih dengar walau kau hanya berisik. Ada apa?" jawab Raditya dengan tatapan dalam.
"Kayaknya aku suka deh sama, Bang Radit. Aku nggak tahu kenapa aku suka aja sama, Abang. Tapi kemarin malam... nggak jadi!" Aminah langsung masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Raditya tertegun, ia masih mencerna apa yang di katakan oleh Aminah itu nyata atau tidak. Karena sudah sejak beberapa bulan lalu, Raditya menang sudah menyukai Aminah. Tapi tidak menyangka jika Aminah juga akan suka kepadanya.
Karena masih penasaran, Raditya terus mengetuk pintu kamar Yumna. Ia ingin meminta penjelasan Aminah tentang apa yang baru saja ia katakan kepadanya. Namun, Aminah malah memintanya untuk pergi dan tidak ingin menemuinya saat itu. Ia masih malu jika bertemu dengan Raditya. Begitu juga Raditya yang tidak ingin memaksa Aminah, ia masuk ke kamar Hamdan dan istirahat