Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 274


__ADS_3

Di rumah Airy, ia baru saja selesai menyiapkan bekal untu Rafa sekolah. Teringat akan Zahra, ia masuk memanggil nama Zahra untuk di bangunkan sekolah. Baru ingat, Zahra sudah pergi bersama orang tuannya di panggil Allah. Bekal yang sebelumnya ia buat dua, kini harus di kurangi.


"Ma, Rafa sudah selesai mandi," ujar Rafa memecah lamunannya.


"Tapi lupa doa keluar kamar mandi, ajarin lagi dong, Ma?" lanjutnya.


Airy tersenyum, ia pun memeluk Rafa, kemudian mengajarinya doa keluar kamar mandi, "Ghufraanak, yang artinya, Ya Allah, hamba memohon ampunan-Mu."


Atau Rafa juga bisa baca yang ini, "Alhamdulillaahil Ladzii Adzhaba ‘Annil Adzaa Wa ‘Aa-faa-nii." ucap Airy dengan mengusap-usap perut Rafa menggunakan minyak hangat.


"Alhamdulillah, Rafa tau artinya Ma kalau itu!" seru Rafa.


"Oh, ya? Apa itu, artinya?" tanya Airy.


"Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan yang telah menyehatkanku," ucap Rafa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, pintar anak, Mama. Ayo segera ganti baju, terus sarapan, ya."


Rafa sudah bisa memakai seragam sekolah sendiri. Saat Rafa memakai seragamnya, Adam pulang dan langsung memeluk sang istri dari belakang. Ucapan salam ia bisikan ke telinga Airy, kemesraan itu berlanjut dengan sebuah kecupan di pipi Airy. Ketika ciuman itu mulai merambah ke tengkuknya, Yusuf pulang dari pesantren dan langsung masuk ke dapur.


"Astaghfirullah, kalau pemandanganku setiap hari begini terus, bisa-bisa aku ikut kalian menikah muda. Ya Alah," keluh Yusuf.


"Makanya kalau masuk kerumah salam dulu, dan jangan langsung masuk dapur, Yusuf!" seru Airy.


"Iya, maaf!"


"Ya bagus, dong. Tapi, kamu sudah mau kelas tiga. Masih ada kah acara begituan?" tanya Airy.


"Nah ini nyatanya? Ada, 'kan? Tenang saja, ada Falih dan Hamdan juga, mereka ikutan satu regu denganku," lanjut Yusuf.


Tentu saja Adam meberikannya izin, karena itu sudah menjadi kegiatan sekolahnya. Ia juga akan memberikan uang saku kepada Yusuf nantinya. Dalam hati yusuf, ia sangat beruntung memiliki kakak seperti Adam, pengganti Rifky yang selalu ada untuknya. Meskipun Rifky tak akan pernah tergantikan.

__ADS_1


"Udah izin sama, Abang?" tanya Adam.


"Belum, sih!" jawab Yusuf.


"Tetap harus izin, ya. Dia juga kan Abangmu," tegas Adam.


"Nggak enak aku, Mas. Sekarang udah ada Kak Laila di sampingnya,"


Mungkin karena Yusuf sudah terlanjur nyaman dengan Adam. Seakan, ia sungkan jika membicarakan hal serius kepada Abangnya, Raihan. Tapi bagaimanapun juga, Adam tidak ingin Yusuf memiliki rasa sungkan itu, karena Laila juga kakaknya. Adam menyarankan untuk Yusuf juga memperlakukan Laila seperti ia menghormati Airy juga.


"Ya nanti tak bilang Bang Rai," ucap Yusuf sambil menyerutup teh hangatnya.


Setelah sarapan selesai, Yusuf berganti pakaian dan berangkat sekolah bersama dengan Falih dan Hamdan. Mereka sudah seperti kembar tiga yang kemana-mana selalu bertiga.


Mungkin, kebersamaan mereka juga akan memudar setelah nanti mereka memiliki dunia-nya sendiri-sendiri. Sama seperti Akbar, Syakir dan Kabir dulu. Kemanapun mereka pergi selalu bertiga, tapi setelah selesai sekolah, masing-masing melanjutkan pendidikannya di lain negara.

__ADS_1


Akankah tiga serangkai muda kita juga akan begitu? Tapi, janji mereka bertiga juga akan menempuh pendidikan setelah lulu SMA bersama-sama, tidak akan ada yang berpisah ketika waktunya nanti memiliki pendamping sendiri-sendiri. Itu janji mereka.


__ADS_2