
"Yusuf, jemput aku sekarang di rumah Kakekku. Nggak pake lama!" isi pesan Aminah, karena Yusuf belum bisa di hubungi.
"Dih, maksa. Aku lagi sibuk. Minta Hamdan atau Falih saja. Aku masih ada kegiatan," balas Yusuf.
"Nggak mau, aku ngambek kalau nggak kamu jemput. Pokoknya jemput sekarang!" paksa Aminah.
Karena tidak mau ribut dengan Aminah, Yusuf pun segera berangkat menjemputnya. Ternyata Aminah sudah menunggunya di depan gerbang pesantren, Yusuf tidak tahu jika Aminah belum berpamitan kepada Syakir dan Balqis saat itu. Disepanjang perjalanan, Aminah menceritakan semuanya. Bagaimana kesalnya dia, marahnya dia mengetahui lelaki yang dijodohkan dengannya adalah kakaknya Raditya.
"MasyaAllah. Kuasa Allah, ya. Dunia memang sempit," ucap Yusuf.
"Harusnya Subhanallah, karena itu bukan hal baik untukku! Kesel, deh!" Aminah terus saja memanyunkan bibirnya.
"Ya MasyaAllah, dong. Nggak nyangka saja, kamu ketemu sama Bang Raditya setelah sekian lama. Uh, terus? Kamu mau tuh di jodohin sama, Kakaknya?" tanya Yusuf.
"Gah! Aku mending nerusno kuliah ning luar negri, mbangane rabi enom dengan perjodohan!" (Nggak! Aku sebaiknya meneruskan kuliah di luar negri, daripada nikah muda dengan perjodohan!)
Yusuf mengakui omongan Aminah memang sedikit kasar, tapi ia juga memaklumi karena adiknya itu sedang marah dan susah berpikir jernih. Jadi, setiap perkataannya, bakal menyakitkan pikiran kalau di dengar.
Sesampainya di rumah Airy, Yusuf langsung menelfon Syakir dan memberitahukan jika Aminah sudah pulang bersamanya. Ia tidak ingin syakir maupun Balqis merasa cemas karena Aminah sudah tidak ada di rumah Kakeknya.
"Tolong bicara sama Aminah, Ya. Nasihati dia, bukannya kami juga tidak tahu jika lelaki yang dijodohkan dengannya adalah kakaknya Radit," pinta Syakir.
"InsyaAllah, Lek. Semoga saja Aminah mengerti. Lagipula, perjodohan itu akan terjadi jika keduanya setuju, bukan?" tanya Yusuf.
"Maka dari itu, kami mau menjelaskan kepadanya. Tapi, Lek lihat perasaannya sedang kacau. Bagiamana tidak, orang yang dia sukai adalah… tolong, ya. Jaga dia sementara sampai keadaannya membaik. Ini saja, Mamanya sempat kecewa karena Aminah sedikit bernada tinggi kepada Mamanya," jelas Syakir.
"Siap, Lek. Laksanakan!"
__ADS_1
"Baiklah, hanya nasihat kamu yang didengarnya. Wassallamu'alaikum." Syakir mengakhiri telponnya.
"Wa'alaikum sallam warrahmatullahi wabarokatuh."
Bukannya mendapat pembelaan, justru Airy malah membentak Aminah dan menyalahkannya karena su'udzon kepada orang tuanya. Meski saat itu usia Airy masih kecil, tapi Airy tahu jelas jika Balqis merawatnya dengan sepenuh hati.
"Kamu tau nggak, sih? Yang kamu lakukan saat ini tuh, salah!" bentak Airy.
"Kok, Kak Aer bentak aku, sih? Salahku di mana? Salahkah jika aku jatuh cinta, hah?" jawab Aminah.
"Nggak!"
"Nggak ada yang nyalahin kamu yang sedang jatuh cinta. Nggak ada, Amin!" seru Airy kesal. "Kamu yang seharusnya berpikir lagi. Kamu bentak orang tua begitu, faedahnya apa? Katakan! Itu hanya akan membuat orang tuamu sakit hati," ujar Airy.
"Mama Balqis sengaja mengirim Sarah ke Singapura agar bisa merawatmu sepenuh hati di sini. Dia bahkan hanya di kunjungi dalam waktu 3 bulan sekali oleh Mama-nya. Hanya untuk merawatmu. Mama Balqis mengorbankan masa mudanya hanya untuk menjadi ibumu, membesarkanmu dan harus menikahi Abi-mu di usianya yang baru menginjak antara 19-20 tahun. Di mana awalnya Mama-mu hanya ingin mengejar ilmu di sini," jelas Airy. Ia bahkan menangis membuat Adam semakin khawatir dengan keadaan Airy yang sedang hamil.
"Sayang…. cukup! Cukup, ya. Aku rasa Aminah sudah mengerti, sebaiknya kamu istirahat yuk ke kamar," Adam mengajak Airy masuk ke kamarnya. Lalu mengode Yusuf agar memperhatikan Aminah.
Aminah menangis sejadi-jadinya. Ucapan dan kenyataan yang belum pernah ia dengar mengenai masa lalu membuatnya tertampar. Selama ini, Aminah memang menyayangi Balqis, namun sering kali ia membandingkan dnegan Aisyah saat ia masih kecil. Itu tidak heran karena Aisyah lah yang memberikan ASI untuknya.
"Min…"
Kali ini Yusuf membiarkan Aminah menangis di bahunya.Seketika Aminah menyesali perbuatannya karena sudah membentak Balqis. Dari rahim Zulaikha, Aminah lahir, dari ASI Aisyah dirinya tumbuh sehat sampai usia 2 tahun. Tapi dari tangan dan kasih sayang Balqis lah dia bisa sebesar itu. Jadi, sejahat apapun orang tua, anak tetaplah anak dan orang tua tetaplah orang tua. Mereka yang membesarkan, merawat dan mendidik kita sampai kita bisa mandiri.
"Aku ingin ke makam Ami mumpung belum petang, Suf," ucap Aminah.
"Aku antar!"
__ADS_1
Mereka berangkat ke makam. Di sana, Aminah kembali menangis. Menyebut Aisyah dan Rifky, mendoakannya agar dirinya tidak memberatkan mereka di alam sana.
"Ami, maafkan aku. Aku menyakiti Mama Balqis. Aku harus bagaimana? Tak seharusnya aku menyalahkan Mama dan Abi, aku memang salah, Ami. Huhuhu," tangisan aminah membuat Yusuf terharu.
Di kamar, Airy masih kesal dan mengumpat kepada Aminah. Adam mencoba meredam kemarahan istrinya dengan pelukan mesranya.
"Cintanya nggak salah. Kita nggak bisa nyalahin orang lain, Mas. Dia yang salah, Aminah ini, rasanya pingin aku remukin pakai lesung, kemudian membuangnya ke laut. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu!" kesal Airy.
"Iya, nanti kita tumbuk bareng-bareng, ya. Sekarang istirahat dulu, sebentar lagi maghrib. Redakan amarahmu, Sayang," sahut Adam mengusap kepala Airy.
Malam harinya, Airy sudah bersikap biasa saja kepada Aminah. Ia tak bisa marah lebih lama kepda siapapun. Orang sejahat Sari saja mampu ia maafkan, apalagi ini adiknya sendiri. Ia juga menyiapkan malam untuk Aminah juga.
"Maaf," ucap Aminah lirih.
Ha…?"
"Maafkan aku, aku menyesali perbuatanku kepada Mama Balqis," sesalnya.
"Untuk apa minta maaf padaku? Minta maaflah kepada Mama Balqis, jangan sakiti dia. Dia nggak salah, kepadamu. Perjodohan itu sudah ada sebelum kau terbentuk, Paijem! Ngerti!" tegas Airy.
Aminah mengangguk, ia juga berjanji akan lebih bersikap dan berpikir dulu sebelum mengutarakan emosinya. Urusan hatinya hanya dengan Raditya, soal perjodohan bisa ia tolak nanti di bahas dengan kedua keluarga.
"Malam ini, kamu tidurlah di kamar Zahra. Beruntung Rafa tidak pulang dari rumah Kakung, jadi dia nggak dengar aku keluar tanduk tadi," ucap Airy.
"Makan sekarang," perintah Airy.
Akhirnya selesai kesalahpahaman diantara Aminah dan orang tuanya. Setelah ini, baru bisa menyelesaikan masalah Laila dan Raihan dengan tenang. Karena keluarga dari Syifa terus saja menelpon menanyakan keputusan Raihan.
__ADS_1