Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 166


__ADS_3

Di Jerman,


"Eh, kita berempat mau lanjut kuliah di sini kah? Pertukaran pelajar kan sudah usai 3 bulan lalu?" Ujar Raditya.


"Aku sudah memutuskan untuk melanjutkan di sini. Jika kau mau, kita bisa urus semuanya sama-sama Dit." Ucap Raihan.


"Iya, sayang juga kan, sudah sampai di sini. Lagian, otak kita, masih bisa nyangkut kalau belajar di sini, dari pada di Kairo," imbuh Raditya.


"Kalian berdua?" tanya Raihan.


"Kita nyambung di sini saja. Ikut semester baru. Kita juga sudah punya tempat, seperti kosan gitu di dekat kampus." Jawab Cilo.


Begitu juga dengan Raihan, ia sudah telanjur nyaman di Jerman. Apalagi, dia juga masih memiliki tanggung jawab mengurus Pearl sampai ibu kandungnya sadar dari koma. Karena Raihan bersikeras, Raditya pun ngikut saja, tetapi mereka berdua masih kepikiran dengan Diaz yang berada di Kairo sendiri.


Di rumah Adam,


"Tau nggak Kak, Aminah udah pacaran loh. Sama anak manusia." Ucap Mayshita.


"Apa?" Airy melotot ke arah Aminah.


"Mana ada? Kalau pacaran ya sama manusia lah! Masa hewan atau tumbuhan sih!" Sahut Aminah.

__ADS_1


"Jadi bener, Aminah udah pacaran? Mau bogem?" Desis Airy.


"Enggak, Kaka Airy mah gitu. Aku nggak pacaran kok, pacaran kan dosa, lagian masih kecil itu ini," elak Aminah.


"Astaghfirullah, Aminah, Aminah." Goda Hamdan.


"Awas aja, di antara kalian, aku yang pinter masak. Aku nggak akan masakin lagi buat kalian! Hufft!!" Aminah merajuk.


Sebelum adik-adik nya pulang, Airy sempatin foto keluarga bersama. Adam mengantar mereka sampai di depan pintu. Banyak oleh-oleh yang mereka bawa, hingga ruangan penuh dengan hadiah dari mereka. Setelah rumah sepi, Adam berlari ke arah Airy, ia langsung berlutut meminta maaf dengan istrinya.


Airy bingung, ada apa dengan suaminya itu, sehingga ia berlutut dan menggenggam erat tangannya. Dengan lembut, Airy ikut berlutut di depan Adam.


"Aku telah menyakiti hatimu, Airy. Semua ini hanya rekayasa Sari. Dia menjebak ku, padahal kita tidak melakukan apapun." Ungkapnya.


"Sari? Rekayasa?" Ucap Airy.


Asam mengangguk, bayi mereka tiba-tiba menangis. Mereka cepat berdiri dan menghampirinya. Di susui lah dia, bayi mungil itu, mungkin mengerti perasaan ibunya. Hingga, ia menangis, seperti tidak rela ibunya tersakiti.


"Maafkan, Abi ya, nak." Bisik Adam ke telinga anaknya.


"Mas Adam," sahut Airy.

__ADS_1


"Mas Adam, jangan merasa bersalah seperti ini. Malam itu, memang menyakitkan buatku, tapi jika benar semua itu hanyalah rekayasa, Sari. Aku bisa memaklumi itu, wajar saja dia cemburu, bukankah dia juga mendambakan, suamiku ini?" Imbuhnya.


"Benar! Dia, harus menjelaskan semuanya!"


"Ayo, cepat bicara!" Gertak Hafiz, ia membawa masuk Sari ke rumah Adam.


Awalnya, Sari tak ingin mengakui perbuatan tercela nya itu. Namun, Hafiz terus saja mendesaknya, bukan hanya itu, Adam pun turut mengancam agar Sari mengatakan kebenarannya. Airy, tidak menyangka jika, Sari melakukan itu.


Plakk.....


Tamparan keras untuk, Sari. Bukan hanya satu tamparan saja, Airy bahkan sempat ingin mendorong, Sari dengan keras.


"Jahat..!! Jahat kamu, Sari!!" emosi Airy meluap.


"Sebenarnya, kesalahan apa yang pernah aku lakukan kepadamu, Sari? Kenapa kau sekejam ini padaku!" Sambungnya.


"Kenapa? Hahaha, kau masih bertanya, kenapa?" mungkin Sari sudah mulai gila.


"Kau merebut, Adam dariku! Kau mencuri perhatian Mas Hafiz dariku! Masih bertanya kenapa? Kau menghancurkan masa depanku, kambing!!" Kekesalan Sari sudah tidak bisa di lerai lagi.


Sari mulai membual, ia terus saja mengungkap hal lalu, ketika ia selalu ada untuk Adam. Selalu, menjadi paling tersayang di pesantren. Bahkan, Bela yang adik mereka saja, tidak pernah mampu mengalahkan perhatian ketiga putra Kyai Besar itu.

__ADS_1


__ADS_2