Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 374


__ADS_3

Sementara kedua berondong kita bermain dengan para ibu-ibu. Jalan-jalan ala Aminah dan Raditya bersama dengan baby Gehna yang masih nyaman di gendongan Aminah terlihat begitu serasi. Saat lagi asik-asiknya ngobrol, suara sering ponsel Aminah mengganggu saja, ternyata telpon dari Laila.


"Siapa?" tanya Raditya.


"Emaknya Gehna," jawab Aminah dengan mata disipitkan.


"Angkat dulu, siapa tahu pengen denger kabar anaknya," ucap Raditya dengan lembut.


"Assalamu'alaikum, ada apa, Kak?" Aminah mengangkat telponnya.


"Wa'alaikumsalam, kata Hamdan, Gehna bersamamu? Perhatian makannya, jangan sampai telat memberikan susu. Ah iya, jangan biarkan Gehna lama-lama di luar ya, dia alergi dengan udara dingin, suka bentol-bentol kulitnya, perhatikan...." Laila masih saja memberi wejangan selama 10 menit tiada henti.


"Sendiko dawuh, ibu ratu. Wassalam!" Aminah kesal karena Laila sangat bawel, padahal sudah biasanya Gehna berama dengan Aminah.


Mereka berdua membahas masalah Ibunya Raditya yang tak kunjung memberi restu dengan hubungan yang akan mereka jalin. Bahkan, Raditya juga sudah tak pernah pulang ke rumah, setelah pengusiran beberapa bulan lalu.


"Lantas, bagaimana dengan hubungan kita selanjutnya?" tanya Aminah.


"Cie hubungan kita, ya bagaimana ya. Masih begitu, ibuku... aih, kita jangan mudah menyerah. Pasti jika Allah telah mentakdirkan kita bersama, maka hati kita akan selalu merasa dekat," ucap Raditya. "Kita duduk di sana yuk, ngadem dulu!" ajak Raditya melihat bangku kosong pas dibawah pohon rindang.


Masih tertidur di pangkuan Aminah dengan lelap. Gehna memang pengertian sekali jika tantenya akan mengobrol dengan Raditya. Mereka duduk di bawah pohon itu, sambil menikmati camilan yang mereka bawa.


"Jadi, Ibu masih belum setuju dengan adanya kita?" tanya Aminah lagi.


Raditya menganggukan kepalanya.


"Apakah.. alasannya masih sama?" lanjut Aminah.


"Aku menemukan fakta yang akan membuatmu terkejut, Aminah. Ibuku .. menginginkan kamu menikahi Mas Rasid, hanya karena ingin menutupi aib Mas Rasid karena menghamili perempuan lain," ungkap Raditya tak ragu lagi.


"A, aku nggak nyampai otaknya. Gimana, gimana?"

__ADS_1


"Mas Rasid menghamili seorang perempuan, dan kini usianya hampir mendekati kelahiran. Ibu dan Mas Rasid ingin ibu yang baik untuk bayi itu, dengan menggunakan kata perjodohan, mereka ingin kamu yang menjadi ibu dari bayi tersebut. Sedangkan perjodohan itu...." Raditya menghentikan ungkapannya.


"Wah, nggak bener juga tuh Mas Rasid. Nggak nyangka aku!" dengus Aminah. "Lalu, ada apa dengan perjodohan itu... kenapa? Kenapa berhenti?" tanya Aminah penasaran.


"Aslinya, perjodohan itu memang di atur untuk kita berdua. Bukan Mas Rasid dan kamu, itu siasat ibu saja. Dan...." belum juga Raditya menjelaskan semuanya, datanglah seorang perempuan menyebut namanya.


"Mas Radit!"


"Kamu benar Mas Radit, 'kan? Raditya?"


Wanita itu membawa seorang bayi di tangannya. Dia adalah Nadia Kalisa, seseorang yang pernah mengisi hatinya. Wanita yang sama yang ia relakan untuk Kakaknya, tapi ditinggalkan oleh kakaknya juga.


"Assalamu'alaikum, aku nggak nyangka ketemu Mas Radit di sini," ucap Nadia. "Dengan siapa kamu kesini?" Nadia melihat ke arah Aminah, lalu menatap Gehna yang ada di trolinya.


"Mas Radit sudah menikah dan punya anak. Apa yang aku lakukan ini, kenapa aku masih mengharapkan dia, astaghfirullah hal'adzim."


Butiran air mata Nadia menetes di pipinya, ia menyangka jika Raditya sudah menikah dan memiliki anak. Sementara Aminah, dia sudah langsung menebak siapa wanita itu. Dari tatapan Raditya, Aminah sudah menduga jika wanita itu adalah cinta pertamanya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Kamu tidak boleh pergi. Nadia, silahkan duduk di samping Aminah. Lalu, katakan apa yang ingin kamu katakan? Kau terlihat begitu cemas," pinta Raditya.


"Maafkan aku, aku mengganggu kalian.. aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, Mas," ucap Nadia dengan lirih.


Nadia menceritakan hidupnya yang membuatnya tersiksa. Suaminya menikah lagi, lalu setelah mengalami kebangkrutan, suaminya pergi membawa seluruh sisa hartanya dengan madunya. Lelaki pilihan Rasid telah membuat kehidupannya hancur. Niat dirinya datang ke Jogja. Nadia ingin bertemu dengan Airy dan mau menitipkan anaknya untuk sementara waktu.


"Mohon maaf aku menyala. Mbak bilang kalau Mbaknya mau nitipin anaknya ke Kak Airy? Tapi perlu Mbah tau, Kak Airy sudah memiliki tiga anak, dan dua anak bungsunya itu masih kecil. Masa iya sih Mbak ini mau nitip anaknya dia?" sela Aminah.


"Kak? Kak Airy?" Nadia bingung.


"Dia adiknya, lebih tepatnya adik sepupunya," jawab Raditya.

__ADS_1


"MasyaAllah, Mas Radit sekarang jadi keluarga dari Airy dan Raihan? Dan ini anak kalian ya?" tanya Nadia.


"Kalau anak ini, memang anaknya Raihan. Tapi aku dan Aminah belum menikah," jelas Raditya.


Melihat penjelasan Raditya yang semangat membuat Aminah kesal. Iya, dia cemburu tapi tidak menyadari bahwa dirinya sedang dilanda cemburu. Aminah pamit untuk pulang lebih dulu, dengan alasan Gehna pengen tidur di kasur.


"Aku pamit dulu, Assalamu'alaikum!" pamit Aminah.


"Tapi, kita baru saja duduk, Aminah. Bentar lagi, ya?" bujuk Raditya tidak peka.


"Sepurane, Gehna wes pengen mapan neng kasur. Assalamu'alaikum!" (Maaf, Gehna sudah pengen tidur di kasur)


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Aminah!"


Beberapa kali Raditya memanggil Aminah, akan tetapi Aminah sama sekali tidak meresponnya. Ia sudah telanjur kesal karena melihat tatapan Raditya kepada Nadia. Sambil mendorong troli Gehna dengan kecepatan kilat, Aminah terus saja menggerutu sepanjang perjalanan pulang.


Sementara itu, Raditya juga bingung antara mengejar Aminah atau tetap duduk dengan Nadia. Di hatinya ia ingin sekali mengejar Aminah. Tapi di pikirannya, ia tidak tega untuk meninggalkan Nadia sendirian di sana. Bertemulah, Aminah dengan Yusuf dan Hamdan. Mereka akhirnya pulang bersama, lalu Makanan menceritakan jika cinta pertamanya Raditya telah kembali.


"Assalamu'alaikum," salam Yusuf dan Hamdan bersamaan.


"Wa'alaikumsalam...."


"Kenapa, sih? Dari tadi manyun terus?" tanya Hamdan kepada Aminah.


"Nggak papa!" jawab Aminah.


"Kalau nggak papa ya nggak mungkin. Ada apa, sih, Min? Bisa dong cerita ke kita?" desak Yusuf.


"Masalah hati. Kalian perlu tau, cinta pertama Bang Raditya muncul lagi, membawa anak dan cerita kalau dirinya pisah dengan suaminya," jelas Aminah menambah laju kecepatan mendorong troli bayinya.

__ADS_1


Yusuf mengingatkan Aminah untuk tidak dulu mencintai seorang lelaki lebih dalam daripada cintanya ke Allah. Apalagi, mereka belum menjadi mahram, timbulnya akan menjadi dosa. Yusuf juga mengatakan, jika manusia saja tetap bisa meninggalkan manusia, tapi tidak dengan Allah yang tak akan pernah meninggalkan hambanya, dalam keadaan apapun.


__ADS_2