
Tiga hari sebelum pernikahan sang Abangnya. Sore hari setelah mengantar Rafa, Airy duduk sendirian di sebuah rumah pohon yang sengaja dulu ia buat ketika kecil. Rumah pohon itu masih rapi, bersih dan kokoh. Melihat sandal Airy ada di dekat pohon itu, Gu pun ikut naik ke atas.
"Pemandangannya indah, ya." ucap Gu.
Airy menoleh dan tersenyum.
"Assalamu'alaikum," Salam Gu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, dari mana?"
"Habis pulang dari kampus," jawab Gu. Dengan sedikit merapikan posisi duduknya.
"Kak Airy, kenapa sendirian di sini?" tanya Gu.
Airy kembali menatap pandangan dari atas sana. Melihat, betapa indahnya alam di waktu sore. Mengayunkan kakinya, serta menutup mata menikmati hembusan angin sore.
"Waktu kecil, nggak ada yang mau naik bersamaku. Abang nggak bisa manjat, dan yang lain juga nggak mau,"
"Rumah pohon ini, di buat khusus untukku. Masa kecil itu, menyenangkan, ya!" tutur Airy sembari memainkan ponselnya, memutar di antara jari telunjuk dan ibu jarinya.
Masa itu tak akan pernah terulang kembali, itu sebabnya Airy tak pernah memaksakan kehendak Rafa ketika ingin melakukan apapun. Selama itu masih dalam tahap wajar, Airy selalu mengizinkannya. Kisah Airy kecil berbeda dengan masa kecil Gu yang penuh dengan drama.
"Kau tau, Kak. Ketakutanku selain dengan kematian?" ujar Gu.
"Kenapa takut mati? Kematian itu memang berdampingan dengan kehidupan. Selagi kita masih hidup, gunakan kesempatan itu untuk memperdalam ilmu agama dan duniawi. Ikuti ajaran Baginda Rosulullah, dan jauhi larangan Allah!" Tutur Airy.
"Bukan begitu, aku pernah kehilangan kedua orang tuaku untuk yang kedua kali," ungkap Gu.
__ADS_1
"Maksud, kamu?" tanya Airy.
"Bukankah, maaf sebelumnya. Orang tuamu hanya yang ada di Korea? Dan sekarang orang tuamu, adalah Pak Lek Kabir dan Tante Ceasy?" lanjutnya.
"Kehilangan pertama bukan soal kematian. Melainkan, aku tak pernah di beri kasih sayang seperti KL yang di berikan oleh keluarga ini. Apaku, dia hanya mengingatku ketika ada acara keluarga, sedangkan Ama....," Gu menunduk.
"Dia tidak pernah memperhatikanku. Aku kehilangan kasih sayang mereka. Kemudian, aku kehilangan mereka di saat kecelakaan. Menyaksikan kematian mereka, terkena muncratan darah mereka, aku masih ingat semua itu!"
Tak kuasa menahan air mata, Gu menangis sesenggukan kalau mengingat kejadian 15 tahun yang telah menimpanya. Mungkin saat itu ia masih kecil berusia sekitar 5 tahun, tapi ia mampu mengingat semua itu dengan jelas.
"Sebesar apapun kasih sayang yang kita curahkan kepada orang tua, merasa diri kita sudah merawatnya pula. Jika mereka telah tiada, tetap saja rasa ini akan hancur. Karena tak lagi bisa memberikan kasih sayang lagi seperti dulu. Yang tersisa hanyalah penyesalan, karena belum membalas balas budi orang tua kita selama ini,"-Airy.
Pukul lima sore, Airy baru sampai rumah, ia langsung sholat ashar karena keasikan di rumah pohon bersama Gu tadi. Melihat Adam sudah berada di depan pintu, Airy gelagapan mencari alasan soal salinan Sudah An-Nas itu.
"Astaghfirullah, Mas Adam udah di depan pintu. Bagaimana ini?" batin Airy.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Langsung sholat ashar, Mas nunggu di ruang tamu. Cepat!"
Tak lupa Airy tetap mencium tangan sang suami saat itu. Langsung berlari, mengambil air wudhu dan melakukan kewajiban empat rakaat di waktu ashar. Sengaja Airy memilih surah yang panjang, agar sholatnya sedikit lebih lama. Sama saja! Itu tidak merubah amarah Adam.
"Duduk!"
Adam memintanya duduk di sampingnya, kiranya ingin memarahinya karena membohongi Adam tentang salinan itu. Adam malah memeluk Airy, serta mencium keningnya.
Bukan hanya itu, Adam juga membacakan ayah kursi dan berbagai amalan lainnya, kemudian di hembuskan di kepala istrinya.
__ADS_1
"Tunggu! Mas pikir kau kerasukan?" tepis Airy.
"Kamu harus di rukiyah, Sayangku. Setannya masih banyak, tahan! Tahan!" ucap Adam dengan memencet kedua pipi Airy dengan kedua tangannya.
"Sakit! Pipinya tambah tembem nanti!" Lagi-lagi, Airy menepis tangan Adam.
"Ini bukan istri, Mas. Mas yakin, pasti ini kerasukan setan banyak, sehingga istriku bisa lupa menulis Surah An-Nas sebanyak ... " ucapan Adam terpotong dengan tiba-tiba Airy mencium bibirnya.
"Yah, aku kalah!" kata Adam dalam hati.
Airy melepaskan ciuman itu secara pelan, "Kamu curang!" desis Adam kembali mencium mesra sang istri.
Dengan nakal, tangannya kini menyelinap masuk, dan mendaki ke bukit salju milik istrinya. Airy kaget, ia berpikir sejak kapan suaminya jadi begitu agresif. Karena gemas, Airy mengigit bibir Adam hingga berdarah.
"Aw!" jerit Adam.
"Sejak kapan Mas memiliki sifat seperti ini? Ngaku!" kesal Airy.
"Kan kamu yang ngajari. Jangan menolak lupa," elak Adam.
"Tunggu! Jangan ada perbincangan lain selain salinan itu sekarang. Jelaskan, sejelas-jelasnya sekarang juga!" desis Adam.
"Maaf, aku nggak akan ulangi lagi. Waktu itu aku udah lelah, jadi pengen tidur cepat. Maaf,"
"Jadi deh, malam ini akan aku selesaikan! Ganteng deh, MasyaAllah," rayu Airy.
Ya mau bagaimana lagi, Adam tak bisa menolak. Ia pun menerima permohonan maaf, Airy. Setelah itu, ia bercerita banyak tentang kesiapan pernikahan Raihan kepada Airy. Mungkin, keluarga besar tidak akan hadir semua, tapi kali ini, acara itu akan di adakan di pesantren setelah acara khataman Al-Qur'an semua santri di sana.
__ADS_1