
"Mita ini sakit jiwa atau bagaimana, sih? Atau kegilaanya di sebabkan oleh cintanya yang bertepuk sebelah tangan? Astaghfirullah, mana masih muda lagi," gumam Laila.
"Dia bilang apa tadi? Berondong Korea-ku?"
"Hahaha, pengen ngakak asli. Lha aku sama Gu aja seumuran, mana bisa jadi berondongku. Lama-lama nakutin tuh cewek, mau melawan aku yang mantan orang jahat juga hahaha kagak mempan, masih ada Allah bersamaku!" ucap Laila sambil melihat lengan bajunya.
Laila kembali dengan ceria. Sekarang, Mita belum menjadi halangan baginya. Karena Laila sudah paham dengan wajah seperti Mita itu. Di sisi lain, Mita masih ada segudang rencana untuk mendapatkan keinginannya.
-_-_-_-
Hari minggu kelabu bagi Aminah. Se-pagi itu, Aminah sudah di minta ke rumah sakit untuk giliran menunggu Raihan. Ia menggerutu terus menerus di jalan, alih-alih bisa naik motor sendiri, Airy menyuruhnya untuk naik angkutan umum ke rumah sakit.
"Terus aja gini, aku jadi semakin merasa kalau aku ingin ini anak dan adik tiri di keluarga itu, hufft!" gerutunya.
Brukk! Aminah menabrak seseorang. "Hashyah! MasyaAllah, apa lagi ini? Laillahaillallah Muhammadar Rosulullah...," ucap Aminah mengusap-usap kepalanya.
Terdengar di telinga Aminah suara yang tak asing baginya. Seorang lelaki muda seumuran Abangnya, berdiri tepat di depannya. Mengenakan baju koko coklat, peci hitam dan sarung berwarna hitam.
"Bang Dit?" panggil Aminah dengan suara lantang.
"Assalamu'alaikum," ucap Raditya mengetuk kening Aminah.
"Wa'alaikumsalam, astaghfirullah! Jangan kau ketuk keningku, jika aku bodoh, apakah Bang Dit mau menikahiku, hah?" kesal Aminah.
"Aku tak sebodoh itu untuk menikahi gadis bodoh, sepertimu!" jawab Raditya.
"Fiks, nggak usah di temenin!" Aminah berjalan lebih dulu masuk ke rumah sakit. Raditya hanya tersenyum, lalu mengikuti langkah Aminah.
Tak sengaja mereka bertemu dengan Laila yang hendak masuk juga di ruang inap Raihan. Melihat Aminah dan Raditya berangkat datang bersama, Laila pun menggoda Aminah sampai ia emosi.
"Assallamu'alaikum," salam Laila.
"Wa'alaikumsallam warrahmatullahi wabbarokatuh," jawab Aminah dan Raditya bersamaan.
"Hish, barengan. Cie… yang berduaan ke sini? Ehem, setahun lagi bakal ngunduh mantu, nih!" goda Laila dengan mencolek dagu Aminah.
__ADS_1
"Astaghfirullah, aku di cie-ciein sama Bang Dit? Hahaha rabun! Minggir! Aku ingin menjenguk Abang tersayangku," elak Aminah dengan mendorong kecil Laila.
"Assalamu'alaikum, eperybody! Hahaha eperybody, ya Allah ngakak dewe," salam Aminah yang garing.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Raihan berusaha duduk.
"Mbok ya yang anggun gitu loh, Minah. Kamu itu anak perempuan, jangan cuwawakan gitu ih. Suara nglengking fals gitu kok di keras-kerasin nadanya," tegur Raihan.
Aminah menatap Raihan dengan wajah datarnya. Ia memberikan bekal yang di titipkan oleh Leah kepadanya. Kemudian pamitan akan pergi ke tempat les di dekat rumah sakit.
"Aku terusan aja deh, Bang!" pamit Aminah menenteng tas nya.
"Eh, ngambek nih?" tanya Raihan.
"Mbok pikir opo? Aku emang adik tiri, weslah! Mbangane mumet, mending aku otewe les," kesal Aminah. (di pikir apa? Aku memang adik tiri, Sudahlah! daripada pusing, mending aku berangkat les).
"Les apa di hari minggu?" tanya Raditya curiga.
"Pengen tahu aja! Assallamu'alaikum!" seperti biasa, sebelum pergi Aminah mencium tangan Raihan dan juga Laila.
Aminah mengangkat dua jempol tangannya. Melihat Aminah berlalu, Raditya terus saja menatap pintu. sadar jika raditya menaruh rasa kepada adiknya, raihan memintanya untuk mengantar dan mengawasi Aminah ketika di tempat les.
"Beneran, nih?" tanya Raditya.
"Iya, aku titip adikku yang bandel itu kepadamu, ya…." Raihan menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Laila.
"Cepat sembuh, ya. Assallamu'alaikum!" Raditya menghilang sekejap mata.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarokatuh,"
Raditya berlari mengejar Aminah yang baru saja keluar dari parkiran. Melihat Aminah yang sedang menunggu taksi, Raditya segera menghidupkan mesin motornya, kemudian menghampiri Aminah dengan pura-pura ada perintah dari Raihan untuk mengantarnya.
_0000_
Sayang, Raditya kalah cepat oleh seorang lelaki yang mungkin seumuran dengan Aminah. Lelaki itu mengendarai motor sport keluaran terbaru tahun itu.
__ADS_1
"Innalillah, siapa sih dia? Kok, Aminah mau sih boncengan dengan orang asing?" gerutu Raditya.
"Mana bawa motor gede, jaketnya mahal, helm pun mahal pula. Haih, apalah dayaku… Aku sarungan, pakai baju koko, hah!"
"Tapi, aku sudah diberi amanah oleh Raihan untuk menjaga Aminah. Jadi, aku harus mengikutinya!"
Dengan kecepatan penuh, Raditya berhasil menyusul Aminah dengan lelaki itu. Kini, ia berada persis di belakangnya. Sadar jika sejak tadi di ikuti, lelaki itu pun menanyakan kepada Aminah.
"Sepertinya, ada yang mengikuti kita, deh...," kata lelaki itu.
"Mana?" tanya Aminah.
"Belakang, motor matic, helm putih," jawab lelaki itu.
Aminah menengok ke belakang. Meski Raditya mengenakan masker, tapi ia sangat paham dengan motor yang Raditya kendarai. Karena motor itu milik almarhumah Aisyah, tantenya. Apalagi, sarung yang ia pakai sama persis milik Raihan.
"Itukan…,"
"Berhenti!" pinta Aminah mendadak.
Tentu saja lelaki itu meminggirkan motornya, lalu berhenti. Tepat di samping Aminah berdiri, Raditya berhenti. Raditya memiliki tatapan yang sangat tajam dengan alis yang lebat nan hitam.
"Siapa dia?" tanya Raditya.
"Bang Dit, ngapain ikuti aku?" tanya Aminah kembali.
"Ditanya malah balik tanya, jawab dulu lah!" entah mengapa Raditya menjadi kesal.
"Dia siapa, Minah?" tanya Akmal, lelaki yang menjemput Aminah.
Aminah menatap Raditya, kemudian memperkenalkan mereka. "Bang Dit, perkenalkan ini Akmal, dan Akmal… dia Bang Dit, sahabat Abangku yang kemarin malam kecelakaan," jelas Aminah.
"Dit….?" tanya Akmal.
"Didit, hehe iya Didit," jawab Aminah cengegesan.
__ADS_1
Raditya memaksa Aminah untuk berangkat bersamanya. Alih-alih menolak karena tidak enak dengan Akmal, Aminah malah langsung setuju begitu saja ketika Raditya menawarkan diri untuk mengantarkan ke tempat les-nya. Kesal karena di tinggalkan, Akmal mengikuti mereka dengan emosi yang menggebu-gebu. Akmal ini, lelaki yang sudah menyukai Aminah sejak kecil.