Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 289


__ADS_3

Raihan pulang hampir tengah malam, membuka pintunya perlahan, ia melihat Laila tertidur di sofa. Mungkin telah menunggunya, Raihan segera mengangkat dan memindahkan tubuh Laila keranjang, agar bisa lebih leluasa tidurnya.


"Emm,"


Laila terbangun, Raihan tersenyum dan menurunkan Laila dengan hati-hati. Kemudian, ia mengatakan kalau dirinya belum makan malam. Laila memintanya untuk mandi terlebih dahulu, ia akan memasakkan untuknya. Pulang dari resto tadi, Laila membawa beberapa makanan dari sana.


Makan malam berjalan lancar, Laila masih terpikirkan dengan perbincangannya bersama Leah beberapa waktu lalu. Ia berencana ingin cerita kepada Raihan tentang semua itu.


"Bang...," panggil Laila.


"Iya, ada apa?" tanya Raihan sambil merapikan piring.


"Jika orang punya masa lalu yang buruk, apakah seseorang itu akan memaafkannya?" ucap Laila mulai nggak jelas.

__ADS_1


"Besok-besok, kalau mau bertanya harus di sinkronisasi dulu, ya. Hahaha, ada apa? Masa lalu apa yang nggak aku ketahui darimu?" Raihan memang pandai dalam menebak seseorang hanya dari kata-katanya.


Laila menyebabkan lengan bajunya, memperlihatkan luka yang selalu ia tutupi dari siapapun. Ia berkata dengan nada gemetar, "Ini, luka yang pernah seorang lelaki perbuat."


Melihat bibir Laila yang gemetar, Raihan langsung memeluknya tanpa bertanya apapun. Itu yang di perlukan oleh Laila. Selama ini, dia tak pernah mengatakan masa itu kepada siapapun. Raihan menyeka air mata istrinya dengan lembut, ia juga merapikan rambut Laila yang berantakan karenanya.


"Waktu.... A-aku, ada di club malam. A-aku, di ajak begituan, t-tapi aku menolak.... dan lelaki itu menusukku menggunakan ga-garpu...," Raihan kembali memeluknya, ia tak ingin mendengar apapun lagi tentang masa lalu Laila.


"Astaghfirullah hal'adzim, istighfar, ya. Cukup, jangan di teruskan lagi jika itu membuatmu sakit. Aku cukup tahu aja jika kamu wanita yang baik, dan mau menyempurnakan iman bersamaku," tutur Raihan.


Kecewa? Tentu saja! Laila baru tahu, jika di tolak secara terang-terangan memang sangat menyakitkan. Namun, Laila tak patah semangat, ia mengajak Raihan istirahat dan membicarakan semuanya di kamar.


"Masih cemberut aja. Kecewa? Setelah sholat subuh aja gimana?" usul Raihan. Sebenarnya ia mau, tapi memang tubuhnya sedang tidak fit.

__ADS_1


"Bang...." panggil Laila.


"Dalem, ada apa?" tanya Raihan.


"Semua di keluarga Abang ini, pernikahannya pada di jodohin, kah?" tanya Laila.


"Perasaan kita pernah bahas ini deh. Tidak semua dijodohkan, kok. Contohnya Ami, Pak Lek kembar, maksudnya sama yang istri yang sekarang, loh."


"Memang mereka pernah menikah sebelumnya?" lanjut Laila.


"Iya, tapi semua udah almarhum, awalnya Pak Lek Syakir nggak mau nikah lagi, tapi karena Aminah masih bayi waktu itu, jadinya.... ya gitu," jelas Raihan.


"Kalau Lek Kabir?" tanya Laila.

__ADS_1


"Dia di tinggal istri pertamanya meninggal, tepat setelah ijab qobul selesai, dan Tante Ceasy itu, adalah anak angkatnya Uti, dia asli orang Korea. Dah bobok, yuk!" tukasnya.


Sebenarnya masih ada banyak yang ingin Laila ketahui. Tapi, ia akan persiapkan diri untuk anu-anu bersama Raihan setelah sholat subuh nanti. Jantungnya berdegup kencang malam itu, ia terlihat gelisah menanti waktu subuh.


__ADS_2