
"Aw" rintih Airy dalam hati.
Takut membuat Adam khawatir, maka Airy langsung menyembunyikan luka nya. Airy langsung berteriak minta tolong, darah terus mengalir dari kaki Adam, hingga membuat Airy panik tingkat provinsi.
Karena sudah memasuki waktu adzan, dan suara jatuhnya lampu sangat keras, beberapa santri langsung masuk ke masjid, kebetulan juga keluarga laki-laki dari Airy juga masuk ke masjid juga.
"Adam!" teriak Rifky.
"Bang, buruan sini!" teriak Rifky memanggil Akbar.
Karena semua panik, Aisyah dan Fatim yang saat itu lewat pun juga dibuat penasaran, Aisyah menanyakan kepada santri yang baru saja keluar dari masjid. Mendengar menantunya mengalami kecelakaan, Aisyah meminta Fatim untuk segera mengambilkan tas medisnya di mobil.
"Kok bisa sih lampunya jatuh, ayo Bang angkat Adam dan papah ke pinggir sana, biar yang lain melaksanakan sholat sunah dulu," Rifky juga mulai khawatir, karena wajah Adam sudah mulai pucat.
"Assallamu'alaikum," salam Aisyah.
"Wa'alaikum sallam, Mi tolong Ustad Adam Mi, cepetan!" Jawab Airy panik.
__ADS_1
"Assallamu'alaikum," salam Fatim membawa tas ajaib Aisyah.
"Priksa dulu Bang, lukanya juga di bersihin," kata Aisyah.
"Bawa alkohol?" tanya Akbar.
Aisyah memberikan alkoholnya.
"Perban?" tanya Adam.
"Di pesantren ada nggak?" tanya Rifky.
"Ada, biar saya ambilkan." Kata seorang santri.
"Kak Ais lihat deh, lukanya gede banget, nggak kita bawa kerumah sakit aja buat di jahit? Biarpun aku Dokter bedah, tapi ya aku nggak mungkin bawa peralatan medis." Tutur Akbar.
"Sebaiknya sih gitu, tapi alangkah lebih baiknya lagi kita atasi dulu pendarahannya deh Bang, biar nggak semakin bangak yang keluar, kacau kalau sampai kehabisan darah." Usul Aisyah.
__ADS_1
Seiring santri dan yang lain sholat ashar, Asiayh dan Akbar masih sibuk memberhentikan pendarahan di kaki Adam. Setelah sholat, Airy sudah sangat panik, ia meminta Akbar dan Rifky untuk segera membawa Adam kerumah sakit. Bukan hanya Airy yang panik, semua nya pun begitu.
"Ck, kenapa harus Adam sih yang kena." kesal Sari.
Syakir dan Ustad Zainal sudah menyiapkan mobil untuk membawa Adam kerumah sakit. Begitupun dengan Airy yang sedari tadi nampak panik. Karena Airy merasa ada yang janggal dengan insiden itu, ia meminta Raihan dan sahabatnya untuk menyelidikinya. Setahu Airy, lampu itu baru di ganti dua hari sebelum puasa, tidak mungkin jika bautnya ada yang terlepas.
Sedangkan yang memasangnya adalah seorang profesional, tidak mungkin akan ceroboh, apa lagi lampu itu juga tidak murah, pasti si tukang sudah memikirkannya matang-matang.
"Aku ingin bukti hari ini juga, awasi gerak gerik Sari dan Zahra juga, aku merasa ada yang aneh dengan mereka berdua. Assallamu'alaikum!" salam Airy membawa tasnya di leher, bukan di slempangkan atau di jinjing.
Sementara Airy dan yang lain membawa Adam kerumah sakit, Raihan dan Raditya menjalankan tugasnya dengan sangat sungguh-sungguh. Mereka tidak akan tinggal diam, jika memang Sari pelakunya.
Kehawatiran Airy semakin meningkat ketika Adam tidak sadarkan diri, di samping lemas karena puasa, ia juga pusing melihat darahnya sendiri.
"Lah, semaput (pingsan). Ayo dong Pak Lhek nyetir nya cepetan wah, kesuen temen njenegan niku. Ya Allah!"
Sebenarnya tidak terlalu parah, Adam pingsan hanya takut melihat darahnya sendiri, itu kenapa ia sejak tadi diam saja tanpa mengeluh sakit maupun bicara apapun.
__ADS_1