
"Hyeongnim, Hamdan berbisik kepadaku. Katanya kau sangat membosankan. Wajahmu nampak seperti wanita sendu di malam hari," bisik Yusuf.
"Apa?" kesal Gu, langsung melihat Hamdan dengan mata berapi-api.
"Nape tengok-tengok? Ganteng, 'kan?" sulut Hamdan.
"Dangsineun naega jiluhadago malhabnida, nae eolguleun bame seulpeun yeojacheoleom boibnida. Museun maliya? Naneun dangsinui hyeongjeibnida, Hamdan!" Gu lebih emosi.
(Kau bilang, aku ini membosankan, wajahku nampak seperti wanita sendu di malam hari. Apa maksudmu? aku ini kakakmu, Hamdan!)
"Awas koe, Cup!" teriak Hamdan ingin mengejar Yusuf yang kabur di tarik oleh Yusuf.
"Eodi gaseyo?" kata Gu menahan tangan Hamdan.
"Aku hanya.. ha-hanya ingin mengejar mereka. A-aku piket hari ini, Kak..." jawab Hamdan.
"Opo sik mbok omongke Yusuf iku durno! Ngapusi, yakin lah, aku adikmu, loh!" Hamdan sampai memegang telinganya, bak minta maaf seperti orang India.
(Apa yang dikatakan Yusuf itu dusta! Bohong, yakin lah, aku adikmu loh!)
"Hey, kita dari Korea. Budaya kita, minta maaf dan hukuman maaf mengangkat tangan dan berlutut. Itu cara India, Paijo!" seru Gu tak bisa menahan tawa.
Gu juga tahu, jika Yusuf hanya ingin mencairkan suasana saja. Karena Hamdan memang sedang sensitif karena sudah lebih 3 hari, dia tidak bisa buang air besar. Perkara buang air besar saja menjadi masalah bagi Hamdan.
Pulang dari masjid, sudah tersedia bekal 4 kotak dan sarapan bubur di atas meja. Tentu saja itu kiriman dari Airy, sudah seperti ibu bagi mereka. Airy setiap pagi dan siang akan datang ke rumah lama, pagi hari mengantar sarapan dan bekal, siang hari akan memastikan rumah itu bersih, dan adik-adiknya tak menumpuk baju kotornya.
"Wuih, tumben nih pakai daging bekalnya? Bisanya kek embek, cuma rumput hijau seisi dunia," ujar Galih membuka bekalnya.
"Sarapannya juga bubur ayam, mana ada kerupuknya lagi. Ada apa nih sama emak kita itu?" timpal Hamdan.
__ADS_1
"Bersyukur saja, kita masih memiliki emak sambung seperti, Kak Airy. Ayo cepat di makan, lalu ganti baju. Hari ini, kalian berdua aku antar," perintah Gu kepada Falih dan Hamdan.
Falih dan Hamdan saling menatap. Lalu, tatapannya berpaling ke Yusuf. Bukan apa-apa, karena berlawanan arah, Yusuf menjadi berangkat sendirian ke sekolahnya. Mereka merasa tidak enak hati.
"Leh mu nyawang, loh! Ngopo, sih?" tanya Yusuf. (Tatapan-mu, loh! Kenapa, sih?)
"Em, kamu…," lirih Hamdan melirik ke arah Gu.
"Kenapa? Nggak usah kek anak kecil, deh. Yusuf dah gede, dah mudeng juga. Dia tahu kalau arah sekolahnya tak sejalan dengan kita, betulkan, Suf?" tanya Gu sambil memakai bajunya, ia hendak ke kampus.
Yusuf hanya tersenyum dan masuk ke kamarnya. Berganti seragam dan bersiap untuk ke sekolah. Terdengar bunyi nada pesan, Yusuf segera mengambil ponselnya dan melihat dari siapa pesan itu.
"Kak Airy?"
[Nanti pulang sekolah ambil sepeda motor di rumah, bawa untuk alat transportasimu, bulan depan kamu sudah siap membuat SIM]-, pesan dari Airy.
Selesai, Yusuf siap berangkat. Melihat Yusuf semangat dalam belajar, Falih dan Hamdan merasa senang, akhirnya nanti Yusuf akan terbiasa tanpa mereka berdua dalam hidupnya.
"Sedih, ya. Nggak kerasa saja, kita hanya masih ada waktu sampai setahun," ucap Falih.
"Hooh, lulus nanti aku harus kembali ke Korea," sahut Hamdan. "Setahun lagi, kita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin, Lih!" lanjutnya.
"Siapa bilang setahun? Kelas tiga mana ada genap setahun, paling juga cuma 8-10 bulan, hahaha... ayo cepat berangkat!" Gu yang mendengar kegalauan adik-adiknya membuatnya tertawa terbahak-bahak.
-_-_-_-
Sesampainya di sekolah, terlihat Fatur sudah menunggunya di depan gerbang. Yusuf merasa tidak enak hati jika sampai di tunggu seperti itu. Ketika bertemu, Fatur menanyakan di mana rumah Yusuf, jika searah dirinya hendak menawarkan antar jemput selama hari sekolah.
"Nggak usah, rumahku deket, kok," jawab Yusuf.
__ADS_1
"Heleh, kalau deket ndak mungkin bakal sampai sekolahan kurang seperempat jam gini. Aku jemput dah, rumahmu di mana?" desak Fatur.
"Yo wis, aku ndak maksa loh. Ini kemauan kamu. Rumahku ada di samping pondok pesantren Darussalam. Nggak jauh kok, hanya terhalang dinding saja," ungkap Yusuf mulai akrab.
"Wah, itu mah searah. Aku melewati pesantren itu kalau berangkat. Oke, mulai besok kamu tunggu aku, nanti aku jemput ya, sekarang kita masuk ke kelas." nampak sekali Fatur sangat senang menjalin persahabatan dengan Yusuf.
Di sisi lain, Aminah sedang bolos sekolah hari ini. Ia akan pergi untuk bertemu dengan keluarga Raditya lagi untuk membatalkan perjodohannya dengan Rasid. Tak ingin mengulur semakin lama, itu juga atas usul Balqis, takut jika Rasid akan memiliki perasaan kepada Aminah, nantinya malah akan semakin rumit.
"Kenapa harus pagi, sih? Nggak jauh juga kan rumahnya?" protes Aminah. "Lagipula, mereka kan pihak lelaki, harusnya datang kerumah, dong. Bukan kita yang mendatanginya, Ma, Abi." imbuhnya.
"Biar cepat selesai masalahnya. Abi juga nggak mau lihat kamu dilema seperti itu. Biar ada titik terang saja, mau bagaimana kedepannya ya terserah kamu," jawab Syakir.
"Abi... saranghaeyo," ucap Aminah dengan manja.
Meski pertemuan itu untuk memperjelas hubungan, antara putus perjodohan atau lanjut, terlihat Ibu dari Rasid dan Raditya ini terus menarik ulur perkara. Ia tetap ingin melanjutkan perjodohan itu, tapi Syakir dan Balqis sudah menjelaskan jika mereka tidak akan memaksa anaknya untuk melakukan itu. Tetap saja, sang Ibu sangat keras kepala.
"Nggak bisa, dong. Namanya wasiat, ya harus di jalani. Kalau tidak, nanti leluhur kita nggak akan tenang di alam sana," ucap Ibunya Raditya.
"Em, masalah tenang atau tidak ya itu tergantung amal, Ibu. Tapi, soal wasiat perjodohan itu, jika yang ingin di jodohkan saja tidak mau, ya bagaimana lagi? Jujur, anak saya dan Nak Raditya itu memiliki perasaan yang sama, tak bisakah Ibu mengizinkan mereka untuk bersatu?" Syakir masih saja terus bersikap baik dan lembut.
Masih saja Ibunya Raditya bersikeras, hanya Rasid uang ingin beliau nikahkan dengan Aminah. Padahal, di sana juga ada Raditya, tapi sang Ibu tak menjaga perasaannya dengan menyebut banyak kekurangan Raditya di depan orang tua Aminah.
"Angel, wis! Angel, Jum! Payah tenan! Hish.. egois tenan!" umpat Aminah lirih.
Mendengar umpatan Aminah, Balqis langsung mencubit paha Aminah. Biar bagaimanapun, Balqis tidak pernah mengajarkan Aminah mengumpat kepada orang tua. Masih ada jalan lain untuk memperjuangkan cintanya. Dengan Aminah pergi ke Singapura.
"Tidak! Jika Aminah pergi ke Singapura, lalu bagaimana dengan Rasid. Alangkah baiknya menang mereka segera di nikahkan sana. Lalu, biar Rasid yang menemaninya kuliah di Singapura," usul Ibunya Raditya.
Mendengar ada kata pernikahan, baik Rasid maupun Raditya langsung menoleh ke arah Ibunya. Mereka tak habis pikir dengan keseriusan Ibunya. Raditya langsung berpamitan, dengan alasan ingin keluar sebentar.
__ADS_1