Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 323


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Yusuf hanya terdiam. Aminah memintanya untuk melupakan kejadian yang sudah berlalu, namun Yusuf mengatakan jika dirinya hanya rindu dengan kedua orang tuanya. Sehebat apa orang tuanya hingga memiliki orang yang banyak mencintainya, dan bahkan banyak musuhnya.


"Yusuf, sudahlah! Kau masih ada orang tua, bukan? Ada orang tuaku, orang tua Aminah, Hamdan dan juga Ibu tersayang kita, Kak Airy. Semangatlah!" seru Falih merangkul Yusuf.


"Rindu terberat itu memang ketika kita merindukan orang yang sudah tiada. Meskipun aku tidak pernah tahu dan belum pernah merasakan kasih sayang ibu kandungku, tapi aku juga sering merindukannya, haha dimana yang katanya lemah lembut tutur sapanya, senyum manis, cantik. Wow banget, bertolak belakang dengan aku," timpal Aminah.


"Tunggu! Ngomong-ngomong, di mana Mas Raditya? Atau Bang Raditya? Kok ngilang? Bukannya tadi bersama kita, ya?" ucap Hamdan menengok ke arah kanan kiri.


Mereka baru sadar jika Raditya sudah tak bersama mereka. Harusnya, mereka sadar ketika hendak ganti kereta menuju rumah Senior Aisyah. Raditya tertinggal di stasiun sebelumnya.


"Ini pada kemana, ya? Sebaiknya aku pulang dulu, deh. Lagian kan mereka juga bersama dengan tantenya yang di sini. Aku kembali ke apartemen sajalah!" gumam Raditya.


"Bang Radit!"


Suara yang sudah tidak asing lagi di telinga Raditya.


Ya! Aminah berhasil menemukan Raditya yang asik makan ttobboki di pinggir jalan. Yusuf meminta Aminah untuk menjemput Raditya dan membawanya pulang ke rumah agar Raditya tidak tersesat. Tapi, Yusuf melakukan itu karena ia tahu, ada sesuatu di antara meraka. Bukan meraka, kali ini baru Raditya yang memiliki rasa.


"Aminah? Kamu ngapain ke sini?" tanya Raditya.


"Heh, ngapain? Ya cariin Bang Dit-lah! Takutnya Bang Dit tuh nyasar di sini," jawab Aminah ketus.

__ADS_1


"Astaghfirullah, hahaha. Aku saja sudah pernah keluar negri. Mana mungkin nyasar? Kan masih punya mulut buat bertanya, gimana, sih?" elak Raditya.


Karena sudah terlanjur jajan, mereka menelusuri jajanan yang sekiranya halal meraka makan. Bukan hanya itu saja, mereka juga mengunjungi tower Namsan yang terkenal di sana.


"Wah, MasyaAllah... indah banget pemandangannya, cantik kek aku!" puji Aminah.


"Hey!"


"Kenapa? Tidak percaya jika aku cantik? Kalau Bang Dit cantik, itu baru di permasalahkan!" Aminah selalu ingin benar sendiri.


"Sst, ini kan jauh dari rumah Tantemu. Jika mereka mencari kita bagaimana?"


Raditya menjelaskan untuk tetap izin dulu jika ingin jalan-jalan. "Hih, kudune teko iyo, ngono loh!" protes Aminah.


Sejujurnya, sebelum mereka pergi ke Namsan Tower, Raditya sudah meminta izin kepada Ceasy terlebih dulu. Begitu dapat izin, Raditya terus saja menggoda Aminah. Hingga malam hari, mereka menghabiskan waktu berdua, jalan-jalan dan mencari kuliner halal di sana. Bahkan, menghabiskan membuat video pendek dan juga berfoto sebagai kenangan.


"Sudah malam, ayo kita pulang!" ajak Raditya.


"Hm, bagaimana kalau kita jalan kaki saja? Aku ingin menikmati malam di Korea." usul Aminah.


"Di negara manapun, tak ada yang se sweet di drama-nya. Lihat, tidak ada yang uwu-uwuan, 'kan?" tunjuk Raditya.

__ADS_1


"Sebenarnya, Bang Dit ini punya dendam apa sih sama aku? Ngeyel terus ngono, loh. Sajakke ki ngopo? Kenapa?" pertanyaan Aminah ini tentu saja membuat Raditya salah tingkah. "Bang Dit bilang nggak ada yang uwu, bukan?" lanjut Aminah.


Raditya mengangguk pelan.


"Noh, satu pasangan ciuman mesra di sebrang jalan!" tunjuk Aminah.


Raditya menoleh ke arah pasangan itu. Ternyata benar, meraka sedang beradu bibir dengan rabaan tangan cowok yang hot. Reflek, Raditya menutup mata Aminah, kemudian memutarnya hingga Aminah berhadapan dengan Raditya. Kali ini, Aminah merasakan ada angin kencang yang menerobos tubuhnya, dalam tubuhnya terasa ada api yang baru saja dinyalakan.


Bukan hanya itu saja, jantung Aminah terasa berdegup kencang. Aminah belum pernah merasakan hal itu sebelumnya, makanya ia belum sadar jika dirinya mulai ada perasaan kepada Raditya. Meski begitu, ia tidak pernah merasakan apapun kepada lelaki seperi itu.


"Lain kali, jangan lihat lagi jika ada pasangan yang berciuman di tempat umum seperti ini. Namanya zina mata, paham?" tegas Raditya.


Aminah sama sekali tidak merespon, Ia hanya terdiam dan merasakan angin kencang yang menerpa tubuhnya, api yang membakar jiwanya, lalu jantung yang berdebar hebat ketika melihat leher Raditya. Saat Raditya menarik tangannya pun, ia hanya mengikuti langkah kakinya yang tak tahu mau dibawa kemana oleh Raditya.


"Kita nunggu taksi saja. Aku tidak ingin kamu melihat orang ciuman lagi di jalan!" seru Raditya.


"Oh, iya." Jawab Aminah.


Raditya heran, sebelumnya Aminah ribut dan crewet sekali. Tapi setelah melihat orang ciuman itu, Aminah menjadi terdiam, bahkan tubuhnya pun tidak banyak gerak (usil) seperti sebelumnya.


"Kenapa nih anak? Kenapa bisa anteng begini?" gumam Raditya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2