Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 58


__ADS_3

Sholat maghrib sampai mau sholat isya', Airy menunggu Adam sendirian. Ditambah lagi cuaca sedang gerimis sejak maghrib tadi, membuat Airy tambah jenuh, ruangan itu di lengkapi dengan tv, tetapi Airy jarang sekali nonton tv.


"Kenapa sadarnya lama bener sih, aku chek lagi aja deh." Gumam Airy terus memperhatikan perut Adam.


"Hufft, Alhamdulillah masih naik turun. Habis isya' aku tadarus aja kali ya, biar Ustad Adam sadar, sambil nunggu makanan dari Bang Rai." Sambungnya.


Suara adzan Isya' berkumandang, Airy bersiap-siap untuk sholat di samping sofa di ruangan itu. Selesai sholat, Airy segera menengok kearah Adam, siapa tahu saja Adam sudah sadar, ternyata belum.


Airy adalah seorang hafidzah, ia tadarus tanpa membuka Al-Qur'an, karena ia tidak membawa Al-Qur'an juga di tas nya. Mendengar suara merdu Airy, Adam terbangun, ia juga baru bisa teriak saat kakinya sudah di perban.


"Aaaaaa, aku nggak meninggal kan?" teriak Adam.


"Aaaaaaaa Astaghfirullah hal'adim, Ustad Ahhh, kaget aku tuh!" Suara Airy malah lebih melengking dari pada Adam.


"Kamu tadarus hafalan?" tanya Adam.

__ADS_1


Airy mengangguk, dan membalik-balikkan kedua tangannya keatas. Lalu, Adam menanyakan tentang dirinya, hafidzah atau belum.


"Aku hafal hehe ada yang salah ya dengan bacaannya?" tanya Airy.


"Iya, ada yang salah tadi, tapi sedikit. Ngomong-ngomong, ini jam berapa?" tanya Adam bingung.


Dengan santainya, Airy menunjukkan jam dinding yang berada di atas tv di ruang rawat itu. Adam kaget, karena ia tertidur cukup lama, hingga meninggalkan sholat Maghrib dan belum menjalankan sholat Isya'.


"Astaghfirullah hal'adzim!" ucap Adam.


Wajah Airy mendekat di wajah Adam, saat itu posisi mereka saling bertatap muka. Baru kali ini mereka melihat wajah satu sama lain dari dekat, seketika musik dari syair Sayyidah Aisyah seperti mengiringi tatapan mata mereka.


"Assallamu'alaikum warrohmatullahi wabbarokatuh!" Salam Raditya dan Raihan langsung membuka pintu.


Syair itu terganti dengan suara jangkrik lagi. Krik.. krikk, Raditya dan Raihan datang di waktu yang kurang tepat. Yang ada difikiran Adam dan Airy hanyalah perasaan malu, sebaliknya di fikiran Raihan dan Raditya.

__ADS_1


"Ehemm, maaf kami seharusnya tadi ketuk pintu dulu." Kata Raihan canggung.


Airy tersenyum-senyum sendiri, lalu berlari kearah Raihan, merebuy rantang yang sudah Raihan bawa untuknya dan Adam.


"Wa'alaikum sallam, masuk Bang, Mas Dit, sini maemnya, aku udah lapar banget, belum buka lagi, baru minum air putih tiiiiit sensor ya heheh bukan endorse," Kata Airy mengambil rantang itu dari tangan Raihan.


Airy juga menyiapkan makanan untuk Adam juga, senagaja Airy meminta dua porsi, agar Adam juga ikut makan. Raditya dan Raihan mengobrol dengan Adam.


"Maaf ya Ustad, baru jenguk ini. Kami lagi sibuk cari jejak tentang lampu gantung itu, karena Airy bilang, kejadian ini sudah tidak wajar lagi." Tutur Raihan.


"Dan kita sudah berhasil menangkap tersangkanya Ustad, pinterkan kita hehhe," sahut Raditya.


"Laillahillah muhammadar rosullullah, Han!" Kakinya di injak oleh Raihan.


Untung saja Airy tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Raditya, karena takut Airy akan bertindak bodoh sebelum polisi datang. Raditya pun membisikkan kenyataan siapa pelaku itu kepada Adam.

__ADS_1


__ADS_2