Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 174


__ADS_3

Sebulan berjalan dengan lancar, baik Airy dan Raihan menjalani kehidupan masing-masing yang baik. Airy mulai masuk ke kampus, dan baby Rafa sudah terbiasa bersama dengan Ustadzah Ifa. Begitu juga dengan Pearl yang sudah selama sebulan ini berada di penitipan anak selama Raihan pergi ke kampus.


"Airy! Sini!" teriak Maureen.


Airy menuju kantin, berkumpul dengan Rindi dan Raka juga di sana.


"Kak David?" tanya Airy.


"Dia pindah keluar kota," jawab Rindi.


"Akhirnya, kamu kembali lagi ke kampus. Kita bisa bersama lagi, dong." ucap Maureen girang.


"Em, tapi 'kan, kau junior kalian sekarang. Mohon bimbingannya, suhu." lawak Airy.


Pandangan Raka juga tak pernah lepas kepada, Airy. Itu membuat Maureen menjadi sedih, sudah sangat lama cintanya tak terbalas, kini Airy hadir kembali. Bahkan, semenjak Airy kembali, Raka menjadi cowok yang humoris seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Nggak jadi sad boy, lagi nih sekarang, Ka?" ledek Rindi.


"Em, kalau gitu aku pamit dulu ya, aku masih ada kelas soalnya. Assalamu'alaikum. Nanti pulangnya tungguin aku ya, Rin."


Merasa tidak enak dengan Maureen, Airy pamit dan segera masuk ke kelasnya. Kebetulan sekali, ia mendapatkan seorang teman laki-laki yang sangat baik juga, yang nantinya akar buat Raka semakin cemburu.


Namanya Vando. Usianya, juga sama seperti Airy, 19 tahun. Mungkin, menang anak laki-laki dan perempuan itu berbeda jika sudah menyangkut pelajaran. Mereka sudah akrab sejak dua minggu yang lalu.


"Mereka itu senior kan?" tanya Vando.


"Oh, iya nding. Eh, aku nemu ini tadi di pasar, cocok kalau untuk anakmu, nih!" lanjut Vando, memberikan sebuah bingkisan kecil.


Sejak awal, Airy memang tak pernah menutupi identitasnya. Ia mengakui bahwa, dirinya adalah seorang ibu dan masih memiliki suami. Awalnya, banyak yang mengolok-oloknya. Ia juga selalu di fitnah. Termasuk tentang Airy yang dikabarkan hamil duluan, menikah dengan seorang yang kaya, menikah dengan orang yang mungkin juga sudah tua. Bahkan, banyak lagi tanggapan dari teman-teman seangkatannya yang sekarang.


Namun, Airy tetap sabar. Selagi dirinya bukan seperti yang mereka katakan, ia hanya bisa menutup telinganya sendiri. Tidak mungkin, Airy mampu menutup banyak mulut, sedangkan tangannya hanya dua.

__ADS_1


"Oh, iya. Aku 'kan, mau nembak cewek, menurutmu, apa yang cocok untuk momen itu?" tanya Vando.


"Em, apa ya? Aih, aku nggak pernah pacaran, dan belum pernah di tembak cowok seperti itu, udah deh jangan pacaran. Kalau kamu suka dan serius sama tuh cewek, mending langsung ajak aja ta'aruf." usul Airy.


"Heleh, tak semudah itu, ferguso! Aku belum siap kalau ta'aruf. Aku juga masih numpang hidup di keluarga tanteku, mau kasih makan apa tuh anak orang." ujar Vando.


Airy hanya menggelengkan kepala. Dia juga tidak ingin munafik, jika temannya bisa di ingatkan, apa boleh buat?


Setelah selesai kelas, Airy menemui Rindi, yang sudah menunggunya di parkiran. Di sana, juga ada Maureen dan Raka. Mereka janjian ingin bermain dan menengok, Rafa saat itu.


"Assalamu'alaikum, kalian juga masih di sini? Nunggu apa?" sapa Airy.


"Nungguin kamu, lah. Yuk, udah nggak sabar pengen ketemu sama baby Rafa." sahut Maureen semangat.


Tatapan Raka, lagi-lagi tertuju kepada, Airy. Sulit bagi Raka untuk melupakan perasaannya itu. Meskipun, Airy tidak mungkin menjadi miliknya, namun Raka tetap mencintainya, bahkan ia berniat untuk membuat Airy tertarik kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2