
Tertidur dalam pelukan, kaki saling tumpang tindih, wajah juga saling berhadapan. Sepertiga malam mereka terbangun karena petir menyambar.
Duarrrr.....
"Umi...!!" teriak Laila sambil menutupi kedua telinganya.
Raihan memeluk Laila dan menepuk-nepuk pundaknya, menenangkannya dengan bersholawat. Bukan hanya itu, Raihan juga sesekali meniup rambut istrinya.
"Kamu takut petir? Tahu doanya, 'kan? Bisa dong berdoa dalam hati," ucap Raihan.
Laila memejamkan matanya, ia berdoa sambil memeluk Raihan dengan erat. Karena sudah sedikit tenang, Raihan mengajak Laila untuk melakukan sholat malam berjama'ah. Agar hati senantiasa lebih tenang.
Tanpa penolakan, Laila mengangguk dan mengikuti Raihan dari belakang. Malam itu masih mati listrik, jadi Laila yang ketakutan dalam gelap, menggenggam erat lengan Raihan.
"Bang,"
"Dalem,"
__ADS_1
"Bukannya kalau habis wudhu, kita nggak boleh bersentuhan, ya? Terus gimana aku jalannya, kagak nampak apapun aku," perlahan, Laila bisa mengucapkan kata aku dan kamu.
"Iya emang nggak boleh sentuhan. Kita pakai handuk aja, kita sama-sama pegang bagian ujungnya. Gimana?" usul Raihan.
"Wuih, canggih pemikiranmu, Bang. Hahaha, yo wis, siapa dulu yang mau wudhu?"
Selesai wudhu, mereka kembali ke kamar dan sholat malam. Laila juga mengaji dengan penerangan minum dari senter ponsel. Meskipun masih terbata-bata dalam mengaji, namun kemajuan dalam membaca huruf hijaiyah sudah mulai bagus.
"Yeah, naik level!" Laila sangat girang ketika Raihan mengatakan, jika dirinya besok sudah mulai mengaji juz dua.
"Oh iya, Alhamdulillah. Jadi, besok aku sama siapa?" tanya Laila.
"Sama aku juga nggak papa, dzuhur, ya?" usul Raihan.
"Kok dzuhur, di jam itu kan ada acara kesukaanku," protes Laila.
"Jadwal nonton di kurangi, celana jeans di kurangi, ganti dengan celana longgar. Jilbab jeblosan kecil begitu juga di kurangi, ganti dengan yang menutupi dada, paham?"
__ADS_1
"Kok ngatur, sih?" kata Laila tak terima.
"Aku 'kan, suamimu. Baik dan buruknya kamu adalah cerminanku. Kalau aku tak bisa merubahmu, Allah pun akan murka kepadaku dan aku tak akan pernah mencium bau surga. Kamu tega jika aku tak bisa menolongmu nanti, untuk melihat syurga dan abadi di dalamnya?"
"Ih, mainnya bawa syurga. Ya deh, besok aku beli beberapa celana longgar. Tapi anterin, ya?"
Raihan mengangguk, kemudian tersenyum. Sedikit demi sedikit, Laila bisa dirubah. Raihan maklum, sejak kecil, bahkan setelah ibunya meninggal, sifat Laila sangat sulit untuk ditaklukkan. Meskipun kini mereka belum saling mencintai, tapi Raihan ingin mereka bisa hidup sebagaimana keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah.
Raihan dan Laila ini memiliki sifat sama, meski katanya belum mengantuk, jika bau bantal, tak lama setelah itu pasti mereka tidur. Hingga suara adzan subuh membangunkan mereka. Lampu sudah menyala, Raihan bergegas bangun dan bersiap pergi ke masjid.
Tak lupa, ia memandang istrinya yang masih terlelap. Raihan mendekatkan wajahnya ke wajah Laila, melihat dari dekat, bagaimana cantiknya wajah istrinya. Ia juga mengecup kening Laila. Sebenarnya, Laila juga sudah terbangun, ketika Raihan mengecup keningnya, Laila hanya bisa mengerutkan alisnya, tangan menggenggam selimut. Kali pertama ia di cium oleh lelaki.
"Bangun, udah subuh. Aku mau ke masjid, kamu mau ikut nggak?" tanya Raihan, ia sadar jika istrinya sudah bangun.
"Aku sholat di rumah saja, lagian pasti hanya ada ibu-ibu. Yang ada malah aku ghibah di sana," jawab Laila menutupi wajahnya menggunakan selimut.
Tidak ikut karena Laila masih merasa malu ketika di kecup. Raihan pun berpamitan untuk ke masjid. Setelah Raihan pergi, Laila bangun dan memegangi pipi nya yang kini sedang memerah karena gemetar di kecup Raihan.
__ADS_1