
"Aku," sebut Airy.
"Aku ... Yang penting ada izin dari, suamiku ini." Colek Airy ke pipi Adam.
"Lanjut, gih. Eman loh, kalau ndak lanjut. 'Kan masih ada Mbak Ifa yang membantu menjaga Rafa." Tutur Adam membelai kepala Airy.
"Alhamdulillah," ucap David, Maureen, Rindi dan Raka bersamaan.
Malam tiba, baby Rafa tidak pernah rewel. Jadi, Airy dan Adam tidak terlalu sibuk mengurus Rafa.
"Lucu ya, bibirnya mungil seperti Mama nya." Ucap Adam mengusap-usap bibir Rafa.
"Jangan, dong. Nanti bangun, dia." Tegur Airy.
"Galak ih, Abi nya tersingkir!" ucap Adam merajuk.
__ADS_1
"Hahaha, ucul nya, suamiku. Jangan sok imut, udah ayo bobok. Aku capek, Mas."
Malam itu, Raihan menelfon Adam. Ia juga mengucapkan selamat atas kelahiran baby Rafa di dunia. Banyak yang mereka bicarakan, sampai akhirnya, Raihan mulai bercerita tentang Mita, yang semakin hari membuatnya tidak enak hati.
Di Jerman, di kamar yang sunyi. Raihan, sedang menemani Pearl tidur, kemudian ia duduk di sofa ruang tengah. Menikmati santapan siang, yang ia siapkan beberapa waktu lalu.
"Di sana, masih siang ya? Bang Rai, sudah makan? Jagan kesehatan, ya. Belajar yang rajin, terus cepat pulang." ucap Airy.
" Iya, adikku yang bawel. Bang Rai makan sama telur dadar, bikin kue juga, nih. Resep yang sama yang kamu kirim beberapa waktu lalu. Enak beneran loh!" seru Raihan.
"Bang, aku boleh bertanya yang agak ... em, pribadi gitu?" tanya Airy.
"Masalah Bang Rai sama Mita. Aku lihat, beberapa waktu lalu di sosial media nya Mita. Dia, bikin caption ya ... gitu deh, terus fotonya saat kalian berdua. Ada apa dengan kalian berdua?" Tanya Airy.
Tak ada yang perlu disembunyikan lagi. Sebenarnya, Raihan juga merasa tidak nyaman, dan merasa terganggu ketika Mita sudah mulai mendekatinya. Bukan masalah Mita itu bukan wanita yang sholehah atau bagaimana, tetapi sebagai seorang muslim, Raihan seharusnya memang menjauh dari Mita. Yang ia takutkan nanti, Mita akan tersakiti tanpa Raihan sadari.
__ADS_1
"Ya, Bang Rai jujur, dong!
" Wanita itu, pasti butuh kepastian 'kan?" sambungnya.
" Iya tahu, Abang pasti ngerti, kan Abang punya adik perempuan yang udah dewasa juga. Abang juga masih memiliki adik perempuan yang banyak. Gak boleh dong menyakiti perasaan, perempuan." tutur Raihan.
"Tapi, Abang itu harus gimana gitu loh, Abang di sini tuh pengen belajar yang giat, menggapai cita-cita Abang. Agar nantinya mendapat pekerjaan yang layak untuk biaya hidup dan biaya sekolah, Yusuf. Abang nggak mau menikah muda ... Ya!! Abang nggak mau menikah muda," tukasnya.
"Perusahan, perkebunan dan peternakan. Abang, handle aja. Gimana?" usul Airy.
"Nggak mau ah, itu 'kan punya kamu. Nggak ingat? Bisnis keluarga Handika itu, hanya boleh di urus anak perempuan dari keturunan Handika." ketus Raihan.
"Heleh, aku nggak mau pusing, Bang." ucap Airy ngeyel.
"Deritamu, Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
Raihan menutup telfonnya. Entah kenapa, Raihan paling nggak mau jika mengurus masalah usaha keluarga itu. Sama hal nya, Akbar, Kabir dan Syakir dulu. Maka dari itu, Aisyah dan Delia lah yang mengurus usaha itu.
Ketika makan siang, Mita datang ke rumah Raihan. Rumah itu, sementara di tinggali oleh Raihan dan Pearl. Sampai ibu angkat dan ibu kandung Pearl sadarkan diri. Seorang pengacara juga sudah datang, mengatakan Raihan lah yang akan menjadi pewaris atas semua harta yang di miliki Michael.