Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 263


__ADS_3

"Sampel siapa, ini?" tanya Keny yang juga bekerja di rumah sakit yang sama.


"Terduga bapak kandung dari, Zahra." bisik Airy.


"Apaan, sih? Kamu nggak jelas banget, deh!" ucap Keny dengan mengetuk kening Aiey.


"Om Keny udah nggak sayang lagi sama aku, sekarang ketuk-ketuk kening. Aku tuh nggak suka," rayuan Airy membuat hati Keny lunak.


Airy memang keponakan kesayangan, Keny. Mengingat ia pernah mencintai Ami-nya juga, Airy juga anak dari kakaknya yang selalu ia hormati. Menuruti semua keinginan Airy, memang sikapnya. Keny pun mengambil sempel itu dan membawanya ke lab.


"Datang ke sini dua minggu lagi, ya." ucap Keny.


"Lama amat, Om! Kenapa nggak besok atau lusa gitu?" protes Airy.


"Aw!" Keny mengetuk kening Airy lagi.


"Seminggu lagi, deh. Gimana?"


"Setuju! Aku pamit dulu, Zahra sudah menunggu di mobil. Assalamu'alaikum, Om ku yang ganteng," salam Airy. Masih berlagak seperti anak kecil jika berada di depan Keny dan Leah.


"Wa'alaikumsalam," jawab Keny.


Hermawan melihat Airy bermanja-manja dengan Keny. Timbul lah kecurigaan di benaknya. Ia mengira jika Airy itu ada main dengan Keny, karena selama bekerja di rumah sakit yang sama dengannya, dia pernah melihat Clara yang mengaku sebagai istrinya.


"Perempuan itu, siapanya dokter Keny, ya? Jangan-jangan...... "


"Jangan-jangan selingkuhannya. Ah nggak mungkin! Dokter Keny aja orangnya baik banget, masa berkhianat sama istrinya? Nggak mungkin!" batinnya.


_--_-_


Sampai di rumah, Airy menyuruh Zahra untuk istirahat. Ia juga berkata, "Maem, ya? Mama buatin bubur?"


Tapi Zahra menolak, ia hanya ingin tidur saja sejenak. Melihat wajah Zahra yang pucat, Airy semakin tidak tega, ia pun menyelimuti tubuh Zahra yang lemas menggunakan selimut yang tipis, sesuai dengan anjuran, Hermawan.

__ADS_1


"Semoga saja, sampel itu menunjukkan jika Dokter tadi itu, adalah ayah kandung dari, Zahra. Siapa ya nama dokter itu, tadi? Ah, aku paling nggak bisa ingat nama orang!" batin Airy.


Seharusnya, Airy juga harus pergi ke perkebunan, tapi ia tak tega meninggalkan Zahra sendiri di rumah. Jika di bawa juga, Airy takut jika demam Zahra tidak segera turun.


"Mama,"


"Zahra, udah bangun, nak?" tanya Airy menyentuh dahi, Zahra.


"Kok, masih panas, sih. Mama kompres saja, ya."


Ketika Airy akan beranjak, Zahra menahan tangannya. Zahra tersenyum sangat manis, kemudian ia berkata, "Mama di sini aja, Aku pengen banget dipeluk sama Mama."


Airy tersenyum dan memeluk putrinya itu. Menepuk kepalanya, dan juga mengajaknya bersholawat.


"Ma,"


"Iya, Nak?"


"Airy Calista Putri, dong. Kenapa bertanya seperti itu? Zahra udah lupa kah nama Mamanya sendiri?" jawab Airy.


"Aku udah tahu kok, Ma. Aku bukan anak asli Mama sama Abi, 'kan? Apakah, aku anak dokter itu? Mamaku orang jahat yang pernah menjahati Mama. Bener, 'kan?"


Tak terasa, air mata Airy menetes. Siapa yang memberitahunya dan bagaimana perasaannya sekarang? Jika Mama yang memeluknya, bukanlah Mama yang melahirkannya. Tak Mendengar jawaban dari Airy, Zahra pun mendongak keatas melihat wajah sang Mama yang berderai air mata.


"Dengan lembut Zahra mengatakan, "Kenapa Mama menangis? Apakah pertanyaanku menyakiti hati, Mama? Maafkan aku, Mamaku telah menyakitimu, aku malah menyakitimu juga, aku menyesal."


"Kamu anak Mama. Siapa bilang kamu anak dokter itu, wanita yang di depanmu ini, ya Mamamu. Mama yang membesarkanmu, Mama juga yang selalu ada untukmu, kenapa jadi ada Mama yang lain? Kan nggak lucu!" ucap Airy.


"Mama jangan bohong lagi padaku. Apakah wanita yang bernama Sari itu adalah Mama asliku? Bagaimana wajahnya, Aku ingin melihat wajah Mamaku," ucapan Zahra kali ini membuat Airy tak kuasa menahan tangis.


"Mama siapa? Ini Mamamu, Zahra. Si Sari itu....... " ucapan Airy terpotong karena Adam telah berada di depan pintu kamar, Zahra.


Zahra tersenyum, ia sudah mendengar kenyataan itu dari, Leah. Jika yang mengatakan itu Airy, pasti Zahra tidak mengerti. Tapi, dengan pengertian Leah, Zahra mengerti semuannya. Tapi, Leah tidak mengatakan, jika Sari wanita jahat.

__ADS_1


Siang itu, Adam dan Airy membahas semuanya dengan Zahra. Mana ada, gadis kecil berusia 5 tahun mampu menerima pernyataan yang berat itu. Ternyata tidak, Zahra malah pikirannya bisa dewasa, bahkan dia terus mengingatkan Airy, untuk tidak menangis.


"Abi, Mama. Jika benar dokter itu, ayahku. Aku tetap ingin bersama kalian, apakah boleh?" tanya Zahra dengan nada lemah.


"Kamu ini ngomong apa, Nak! Kamu anak Mama dan Abi, kenapa juga harus ikut orang lain," ucap Airy.


Kemudian, Zahra pun memeluk mereka berdua. Tiba-tiba..... tubuhnya lemas, Airy yang panik pun mengajak Adam untuk membawanya ke rumah sakit segera. Zahra sudah tak bergerak sama sekali, entah dia pingsan atau bagaimana, tapi sudah tak ada respon saat itu.


"Zahra!"


"Zahra bangun, Nak!"


"Kamu bilang, kamu sayang Mama, 'kan? Mama juga sayang sama Zahra. Makanya bangun, ya. Kita beli jagung bakar kesukaanmu nanti,"


"Mas!"


"Istighfar, Sayang. Gosok terus pakai minyak angin, sholawati juga, berdoa. Karena dia ibu itu paling mujarab bagi anaknya," tutur Adam.


Sakit hati yang di rasakan Airy. Dia yang merawatnya, membesarkan tanpa berpikir itu anak siapa. Sudah ia anggap seperti anak sendiri, tapi ia harus mengetahui kenyataan itu, sampai ia sakit.


Sampai juga di rumah sakit, Keny dan Hermawan langsung memeriksanya. Selama 15 menit, Airy hanya bisa mondar mandir di depan ruang gawat darurat, ia semkin resah karena Zahra tidak pernah tersenyum berbeda seperti sebelumnya.


Kenny dan Hermawan keluar, mereka memberikan kabar yang sangat mengejutkan. Zahra sudah tiada karena demam yang terlalu tinggi, dan memang itu sudah waktunya untuk dia pergi. Anak malang itu, kini hanya tinggal nama. Bagaimana tidak sedih, Airy sampai histeris saat itu, dia tidak ingin putrinya pergi bertemu dengan, ibu kandungnya.


"Sari pembohong! Dia bilang dia memberikan Zahra untukku, sekarang..... tapi, dia malah menjemput Zahra untuk bertemu dengannya,"


"A-Aku nggak mau. Aku ngg-nggak mau kehilangan, Zahra. Aku sayang sama Zahra, Mas!" Airy semakin histeris, mengetahui anaknya tidak memiliki riwayat penyakit apapun, tapi meninggal begitu saja.


"Sayang, sabar ya. Kita harus ikhlasin, Zahra." ucap Adam.


"Ikhlasin, aku yang gendong dia ketika masih bayi merah. Aku yang memberi nama, aku juga yang membesarkan dengan tanganku sendiri, dan Sari minta Allah ngambil dia begitu saja? Nggak adil, Mas!"


Zahra memang anak dari, Sari. Tapi, Zahra terlahir dari hatinya. Airy tidak mungkin merelakan begitu saja. Apalagi, ketika jenazah Zahra hendak di masukkan ke mobil jenazah, Airy sempat pingsan karena tidak kuat melihat putrinya, tertutup kain putih tak bernafas lagi.

__ADS_1


__ADS_2