Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 216


__ADS_3

"Aku langsung berangkat, ya. Kabari kalau sudah sampai," ucap Airy seraya mengecup tangan suaminya.


"Iya, Sayang. Nanti langsung Mas kabari. Pokoknya, kamu yang tenang di sini, dua hari lagi Mas akan balik lagi, kok. 'Kan istri dan anak Mas Ada di sini, enggih to?" tutur Adam menyejukkan hati.


Tak lama mereka sampai di Bandara, di susul lah oleh Lulu. Airy menyipitkan matanya ketika Lulu datang. Ia juga memandang Adam dan Hafiz secara bergantian.


"Eghem," dehamnya.


"Monggo di jelaskan!" seru Airy.


"Anu, itu mau itu. itu, loh hehehe," kilah Lulu.


"Terserah lah, yang penting. Mas Adam segera pulang ke sini lagi, no debat. Udah sana berangkat!" seru Airy.


Sementara itu, Raihan dan Raditya sudah sampai di kantor. Raihan baru sadar, jika ada dokumen penting yang masih tertinggal di meja makan.


"Dit, map warna ijonya, kemana?" tanya Raihan.


"Jangan tanya aku lah. Bukannya, kamu yang pegang semuanya?" elak Raditya.


"Pulang gih, pasti masih tertinggal di meja makan. Ambil, ya," pinta Raihan.


"Jangan bebani aku dengan bertemu tuh anak lagi, deh. Pagi ini aku ada meeting dengan klienmu, tak ingatkah?" tolak Raditya.

__ADS_1


Sempat Raihan meminta tolong kepada Nina, asistennya. Tapi kebetulan, hari itu Nina sedang cuti, mau bagaimana lagi, dia harus pulang sendiri mengambil dokumen itu.


"Aku coba minta tolong sama Airy saja kalau begitu," gumam Raihan.


Bukan malah mendapat respon baik, Airy malah terkesan nge gas karena dirinya masih di Bandara. Ia berusaha menghubungi Doni, namun ternyata Doni sudah berangkat ke kampus.


"Kalau aku pulang, aku bakal ketemu si Lela, eh Laila lagi," gumamnya.


"Tapi, dokumen itu penting banget. Dah lah, aku harus segera ambil dokumen itu!"


Dengan mengendap-endap, Raihan perlahan membuka pintu. Ia malas bertemu dengan dengan Laila, karena pasti akan bertengkar lagi. Realita tak sesuai dengan ekspetasi, Laila malah membuka pintunya.


"Heh, si pencuri putu pulang. Mau ngapain? Bolos kerja? Ih, nggak bertanggung jawab jadi bos, nih!" ejek Laila.


"Mau apa? Masuk? Lantai baru saja gue pel, belum kering! Lewat belakang!" ketus Laila.


"Bodoal amat lah, awas dong!" Raihan tetap memaksa masuk.


Karena lantai memang masih licin, ia pun terpeleset. Tawa Laila sangat keras hingga membuatnya kesal. Ketika Raihan berusaha berdiri lagi, bukan pintu yang ia gunakan untuk pegangan, malah tangan Laila, dan Laila pun ikut terjatuh.


"Waduhh! Sakit tau!" jerit Laila.


"Maaf, maaf. Saya pikir tadi gangang pintu," Raihan mencoba membantu Laila berdiri.

__ADS_1


"Dah sana, ambil dokumen itu dan segera pergi!" teriak Laila.


"Kok malah galakan kamu, sih. Di sini, yang bos 'kan saya, sakit kamu,"


Sambil merapikan bajunya, Raihan masuk dan segera mengambil dokumen itu. Dan secepat mungkin ia kembali ke kantor. Ingat jika nanti sore ada meeting penting, Raihan meminta tolong kepada Bi Nar, untuk menyiapkan kemeja putih yang belum kering itu. Dan meminta Doni mengantarkan ke kantor.


"Tolong ya, Bi. Soalnya, hanya kemeja itu yang masih bagus," jelas Raihan.


"Loh, Mas Raihan 'kan banyak uang. Kenapa nggak beli baru saja," usul Bi Nar.


"Nanti kalau sudah sempat, lagian kemeja itu 'kan paling istimewa juga, Bi. Airy dulu yang memberikannya dengan uangnya sendiri, jadi tak eman-eman," ungkap Raihan.


"MasyaAllah, adik sama kakak ini benar-benar kompak dan saling menyayangi. Yo wis, nanti Bibi setrika dan di antar ke kantor. Sana, Mas Raihan segera berangkat lagi, udah siang ini," ucap Bi Nar.


"Iya, Bi. Assalamu'alaikum," salam Raihan.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati nggih, Mas Raihan," pesan Bi Nar.


"Sama Bi Nar aja, bisa manis. Sama gue? Kecut banget kek asem!" gerutu Laila.


Raihan berjalan melawati Laila begitu saja. Seakan-akan tidak menganggap Laila itu ada. Kekesalan Laila semakin memuncak, ia pun melempar sesuatu kearah Raihan menggunakan bola plastik milik Rafa. Dan sengaja mengenai p*ntat Raihan.


Kira-kira gimana ya ekspresi Raihan?

__ADS_1


__ADS_2