Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 281


__ADS_3

Setelah makan bakso bersama, Aminah dan Mayshita pamit pulang dulu. Mereka harus masih mengaji sebelum ashar tiba, atau kalau tidak mereka akan mendapat hukuman dari Ustadzah.


"Mas Adak kemana to, Kak?" tanya Mayshita.


"Ke Jatim, tadi pagi berangkatnya. Dan sana, pulang dulu, kalian masih harus ngaji, 'kan?" ucap Airy membereskan mangkuk yang baru mereka pakai.


Mereka pulang dengan perut kenyang. Sementara Airy dan Laila harus mencuci mangkuk di dapur. Laila memperingatkan tentang tes kehamilan itu lagi.


"Ry,"


"Em,"


"Sekarang!" kata Laila dengan bisik-bisik.


"Opo?" tanya Airy.


"Astaghfirullah hal'adzim, testpack nya maimun!"


"Masa sekarang? Ya besok pagi, lah. Di komposisinya begitu, eh di tulisannya ini, nih."


Mereka malah rempong sendiri dengan tes kehamilan itu. Selsai sholat ashar, Laila kembali ke rumahnya, kini tinggal Airy dan Raga di rumah. Rafa juga harus ke TPQ sore sampai Isyak nanti. Meskipun hujan, Airy tetap mengantar Rafa sampai ke tempat mengaji.

__ADS_1


"Ma, nanti malam Rafa tidur di pesantren, ya. Kan malam minggu," pamit Rafa.


"Yah, Mama sendiri, dong!" kata Airy.


"Setoran hafalanku belum ketarget hari ini, Mama ajak Tante bawel dan Tante Galak aja tidur di rumah," usul Rafa.


Memang sudah ada keinginan untuk Airy meminta Laila menemaninya. Airy pun mengizinkan putranya untuk bermalam di pesantren. Karena Rafa juga sudah memiliki target hafalan yang di atur oleh Adam.


------


Malam tiba, setelah sholat Isyak, Airy hanya memainkan ponselnya menunggu sang suami memberinya kabar. Datanglah Laila membawa selimut kesayangannya.


"Assalamu'alaikum,"


Mereka mulai saling bercerita tentang masa remajanya. Ada pikiran yang mengganjal dalam pikiran Airy, ia pun memberanikan diri untuk mempertanyakannya.


"La, bukannya kamu sama Bang Rai itu pernah saling mencintai, tapi terhalang oleh dosa, ya? Kenapa sampai sekarang, kamu masih enggan untuk melayani suamimu di kamar? Dosa tau," tegur Airy.


"Cinta, ya? Cinta itu tetap masih ada, Ry. Tapi lupa rasanya, lupa bagaiman mau mengutarakan. Memangnya kalau cinta harus ya melakukan hubungan itu, cinta atau nafsu?" jawab Laila.


"Baca gih baik-baik!" Seru Airy memberikan buku tentang adab istri kepada suami.

__ADS_1


"Kalau kamu hamil, gimana?" tanya Laila mengalihkan pembicaraan.


"Asli sih, aku belum siap. Bukan mau nolak, kalaupun Allah memberikan anak lagi buat aku sekarang, ya pasti aku terima semua dengan ikhlas hati. Tapi jika aku bisa memilih, kayaknya aku belum mau punya anak lagi. Rafa masih kecil, masih TK pula, mana masih TK kecil lagi," jelas Airy.


"Ya emangnya kenapa kalau Rafa punya adik lagi? Bukannya dulu ada Zahra juga kamu bisa urus keduanya, ya?" tanya Laila.


Menurutnya semua itu berbeda. Zahra hadir ketika Rafa juga masih bayi umur 9 bulan. Mungkin ia sedikit kecapekan ketika merawat dua balita sekaligus. Tapi Zahra itu istimewa baginya, jadi Airy mampu mempertahankan emosinya untuk mengurus, Zahra.


Sekarang Airy ingin fokus mengurus Rafa dengan sepenuh hati, mungkin dengan begitu, tidak akan terbagi lagi kasihnya sampai nanti dia sendiri yang menginginkan seorang adik.


Tapi jika Allah memberikan Putri lagi atau seorang Putra untuk Airy dan Adam, Airy tetap akan menerimanya, karena itu sudah menjadi rezeki baginya.


"Aku belum siap dengan semua itu, Ry. Aku masih pengen menikmati pernikahan ini, memantapkan hati dan fokus belajar agama," sahut Laila.


"Kamu itu, 'kan anaknya Ustad, terus Umimu juga 'kan dulu temen, Amiku. Mereka sama-sama kental akan agama, tapi kenapa kamu nggak bisa agama? Maksudnya aku, maaf, kenapa kamu nggak ngerti sama sekali tentang agama?" tanya Airy.


"Itu memang salahku, Ry. Seharusnya aku mendengarkan apa yang Abi dan almarhum Umi ku katakan," Laila mulai menjelaskan.


"Waktu aku kecil, dulu aku sempat kabur dan kembali lagi ketika berusia 14 tahun. Tepatnya setelah lulus SMP, ya cuma kabur ke rumah saudara, sih. Di tempat saudara itu, aku sama sekali nggak kenal agama, karena mereka juga nggak punya agama menurutku. Status mereka seorang Kristiani, tapi mereka nggak pernah ibadah, gitu." jelasnya.


"Sekarang, aku ingin memperbaiki hidupku yang baru. Soal anak, aku masih belum kepikiran, semoga aja Abangmu bisa menerima keputusanku ini," imbuhnya.

__ADS_1


Terkadang banyak sekali contoh anak Ustad dan Ustadzah yang memiliki sifat tak sama seperti kedua orang tuanya. Mungkin karena lingkungan hidupnya, bisa jadi karena memang si anak ini susah untuk di arahkan. Zaman berbeda juga mempengaruhinya.


__ADS_2