
Di rumah, ketika Doni hendak berangkat ke kampus. Ia baru sadar, jika vespa kesayangannya sudah tak terparkir di garasi. Doni ini seumuran Airy, ia baik, lumayan ganteng, humoris dan juga murah senyum. Setiap pulang dari kampus, ia selalu menemani Rafa bermain.
"Emak, Bapak! Pepi ilang!" teriaknya.
Iya, Pepi si vespa biru kesayangannya. Ia bisa beli vespa dari hasil jerih payahnya sendiri. Dengan mengikuti turnamen volly di kampungnya beberapa bulan lalu.
"Opo to, Le? Masih pagi sudah teriak-teriak, ndak enak sama Mas Raihan dan Mas Hafiz." ucap Bi Nar, menepuk bahu anaknya itu.
"Pepi Mak! Pepi di mana? Dia memang punya roda, tapi ndak punya kaki untuk berjalan. Kalau ndak ada yang mengendarai apa mencuri, Pepi ndak hilang, Mak!" keluh Doni.
"Ada apa?" sahut Raihan.
"Maaf ya Mas, ini anak Bibi, katanya si Pepi ilang." jawab Bi Nar.
"Pepi? siapa Pepi?" timpal Hafiz.
"Vespa biruku yang cantik, indah, molek, menawan seperti pesona Indonesia, Mas. Haduh, pengen nangis aku," jelas Doni.
__ADS_1
"Siapa bilang hilang, lha wong si Pepi di bawa sama Mbak Airy, kok." sahut Pak Dar dengan santai.
Mendengar itu, Raihan pun semakin bingung. Lalu, ia pun meminta penjelasan dari Pak Dar. Setelah penjelasanya selesai, Raihan langsung khawatir, ia takut jika adiknya yang mulai rusuh lagi itu buat onar. Ia tidak ingin, sebelum mendapat bukti jika Adnan adalah Adam, Airy bertindak sesukanya, karena merasa jika Adnan itu adalah suaminya, Adam.
"Bagaimana ini, Mas?" tanya Raihan.
"Kamu kayak nggak tau Airy saja. Percaya saja dengannya, udah sana berangkat. Hari ini, aku mau ke rumah sakit, untuk mencari informasi tentang si Adnan ini." Kata Hafiz, menepuk bahu Raihan.
Hafiz mendapat info, jika ada yang mirip dengan Adam selalu berada di rumah sakit setiap pagi dan sore selama kurang dua bulan ini. Sebenarnya, di balik keshalihan Hafiz, ia juga memiliki masa lalu kelam seperti yang di rahasiakannya dengan Sari tempo hari. Sampai ia memiliki beberapa mata-mata yang terdapat di setiap daerah.
"Harus tes DNA! Tapi carane pie?" gumam Airy.
"Masa iya, tiba-tiba aku jambak dia. 'Kan ndak mungkin, yang ada malah si Adnan ini ilfeel sama aku." imbuhnya.
Tok, tok, tok.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya, ternyata Raihan yang masuk. Raihan nampak kesal, karena Airy bertindak semaunya sendiri, dan meninggalkan Rafa yang tengah tertidur pulas.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," salam Raihan.
"Wa'alaikumsalam, Bang Rai. Eh bukan, Pak Raihan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Airy ramah.
Raihan terdiam, melihat ekspresi Kakaknya yang seperti itu, ia pun sadar bahwa dirinya telah melakukan kesalahan. Kemudian, langsung memeluk Raihan dan mencoba membujuknya dengan sejuta rayuannya.
"Maaf," ucap Airy.
"Tiada maaf bagimu!" seru Raihan.
"Tapi Adnan...,"
"Kita harus bertindak sewajarnya saja, jangan terburu-buru, kita harus cari bukti kuat, baru kita tahu dia Ustad Adam atau bukan. Jangan gegabah, jangan turuti nafsu!" sela Raihan.
"Kamu juga tidak bertanggung jawab jadi Ibu, kamu bukan anak kecil lagi, Airy. Kamu seorang, Ibu. Rafa itu masih membutuhkanmu, kenapa kamu tinggal selagi itu, dia tadi nyariin kamu loh. Untung saja Mas Hafiz dengar tangisan, Rafa. Jangan ulangi lagi! Jangan ceroboh! Nikmati saja semua alur yang sudah di tengukan author, eh bukan, tapi Allah." Sambungnya.
Memang Airy bersalah, ia tidak. seharusnya berangkat sepagi itu, dan meninggalkan Rafa sendirian di kamar. Walaupun usia mereka berdua hanya selisih lima menit, namun pemikiran Raihan sudah sangat dewasa. Berbanding balik dengan Airy. Di mana kini, malah sifatnya kembali ke sifat lalunya yang suka buat rusuh di mana saja, sejak Adam hanyut ke laut.
__ADS_1