
"Assalamu'alaikum, Kak Airy ayo cepat ikut aku. Rafa sama Zahra berangkatnya sama Bu Lek Aminah, ya. Mamanya, Pak Lek pinjam dulu, Assalamu'alaikum!" Yusuf menarik Airy dan membawanya lari dengan cepat.
"Mama!" teriak Zahra.
"Jangan manja, ayo cepat kita cari Tente Aminah. Nanti keburu berangkat sekolah, Tente kita itu," ucap Raka.
Sementara itu, Airy masih bingung kenapa Yusuf menarik tangannya begitu kencang dan larinya juga seperti orang yang dikejar hantu. Sampailah mereka di salah satu kelas yang ada di pesantren. Yusuf langsung masuk dan mengatakan jika ada sesuatu yang lebih penting dari mengajar saat ini. Tanpa banyak berkata, Yusuf langsung menarik tangan Adam. Kemudian berlari ke sebelah kelas lagi, untuk menemui Raihan.
"Assalamu'alaikum, Bang ayo ikut aku!" ucap Yusuf dengan nafas yang terengah-engah.
"Wa'alaikumsalam. Ada apa? Abang sedang ngajar loh, Suf. Kamu kenapa belum berangkat sekolah?" tanya Raihan.
"Ada apa sih, Suf? Jelasin dulu dong ke kita," ucap Adam panik.
Yusuf menghela nafas sebentar, kemudian menceritakan apa yang telah terjadi kepada Papanya.
__ADS_1
"Aku sudah mengecek nadi dan nafasnya, tapi...."
"Sekarang ada dimana Papa, Suf?" sahut Airy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dibawa sama Om Keny ke rumah sakit. Kita harus segera menyusul," jelas Yusuf.
Ternyata, Falih mendengar kabar itu. Ia pun langsung memberitahukan kepada Ruchan dan Ilham segera. Airy, Adam Raihan dan Yusuf pun menuju ke rumah sakit. Namun sayang, semuanya sudah terlambat, ketika di bawa ke rumah sakit, Rifky meninggal sudah meninggal.
Di sana, Keny terus mengusap-usap tangan sang kakak yang sudah dingin itu. Ia tidak menyangka, keluarga satu-satunya telah meninggalkannya dengan cepat.
"Kenapa Papa jahat banget sama aku? Ami ninggalin aku ketika aku hamil, sekarang Papa ninggalin aku seperti ini," sesal Airy.
Airy begitu histeris, bukan ini yang ia inginkan. Papanya masih begitu muda, tapi telah meninggalnya begitu saja. Bukan hanya Airy, Raihan yang sangat sedih diposisi ini. Karena selama hidupnya, ia tidak begitu dekat dengan Papanya. Ia pun duduk lemas di kursi, ingin menangis namun tak mampu lagi. Karena itu akan memberatkan Rifky untuk pergi.
"Aku benar-benar sendirian kan sekarang?" ucap Yusuf dengan suara gemetar.
__ADS_1
"Kakakmu masih hidup, bagaimana kamu bisa sendirian? Abang memang tidak berguna menjadi anak, bahkan sampai orang tua tiada saja, Abang tidak berada di sampingnya. Abang memang tidak berguna, Suf!" ucap Raihan menyeka air matanya.
"Kita jangan nangis. Itu hanya akan memberatkan Papa pergi, kita harus ikhlas. Meskipun hati kita hancur, tapi jangan tunjukkan kesedihan kita." kata Yusuf menepuk-nepuk pundak Raihan.
"Sebaiknya, kita segera beritahukan ke keluarga besar. Dan segera mengurus pemakanan, Papa. Ayo, Bang!" tungkasnya.
Yusuf memang sangat dewasa pikirannya, bahkan ia pun sangat tegar ketika Rifky pergi untuk selama-lamanya. Airy yang terlihat sangat terluka. Bagaimana tidak, sekarang ayah itu adalah cinta pertama bagi anak perempuannya, Rifky dan Airy begitu sangat dekat sejak dulu.
"Papa, kenapa Papa begini, sih!" lirih Airy.
"Sayang, kita harus ikhlas. Jangan seperti ini, hapus air matamu. Kamu berhak sedih, tapi jangan seperti ini," ucap Adam berusaha mengontrol emosi Airy.
"Om,"
Adam memberi kode agar Keny segera mengurus jenazah Rifky untuk di bawa pulang. Begitu juga mengabari Clara dan Sandy yang saat ini masih berada di Swiss.
__ADS_1
Ahhh, nggak kuat aku.😩ðŸ˜ðŸ˜