
Pertemuan di adakan ba'da dzuhur, kebetulan anak-anak juga sedang mengaji, jadi tidak ada mereka, pasti tidak akan ada kerusuhan. Kita fokus kepada Airy yang saat ini mengeluh karena sakit perut, ia sering kentut ketika menghadiri pertemuan itu.
"Pulang dulu, yuk!" ajak Airy kepada suaminya.
"Kenapa? Kan acaranya mau di mulai, ish gemes deh." ucap Adam dengan mencubit hidungnya.
"Ya Allah, Mas. Hidung udah pesek kamu cubit mulu," keluh Airy dengan memegangi perutnya, "Aku sudah nggak tahan," bisiknya.
"Nggak tahan, kenapa? Ya Allah jangan sekarang, dong." Goda Adam.
Tatapan datar di lukiskan di wajah Airy. Ia pun menarik Adam dan mengajaknya pulang terlebih dahulu. Sampai di rumah, Airy langsung masuk ke kamar mandi dan.......
"Sudah belum? Mas ke sana dulu, ya?" teriak Adam.
"Jangan ajak bicara, di saat aku ada di dalam kamar mandi!" serunya.
Beberapa menit berlalu, Airy pun keluar dengan senyuman konyol di wajahnya. Adam segera mengajaknya ke rumah Ruchan, karena memang acaranya sudah mau di mulai.
Di pesantren, Resti sengaja memberikan obat tidur kepada Laila, agar ia tidak hadir dalam pertemuan penting itu. Laila memang sedang giat dalam mempelajari ilmu agama, jadi ia sering kelelahan.
"Minum dulu, setelah ini 'kan ada pertemuan penting. Jadi badan kamu harus fit, La." ucap Resti memberikan botol air yang sudah ia campur dengan obat tidur, dengan dosis tinggi.
Karena sudah sangat haus, Laila main minum saja hingga habis. Pada dasarnya, Resti ini memang sangat menyayangi, Laila. Ia hanya sedikit terganggu mentalnya karena trauma masa lalu. Ia mulai ketakutan, bahkan menerima gelas kosong dari Laila saja, tangannya bergetar hebat.
"Kenapa?" tanya Laila.
"Enggak, aku hanya takut saja!" jawab Resti gugup.
"Kok, kepalaku pusing, ya?" ucap Laila.
"Apa aku salah makan?"
Laila pun.....
Tertidur, segera Resti memapahnya ke kasur dan menyelimutinya. Ada rasa takut, dan ada rasa puas, itulah yang Resti rasakan.
"Laila..!"
__ADS_1
"Ila..! Bangun, kenapa matamu terpejam!"
"Ila, bangun! Aku meracuninya, apakah dia mati? Tidak..! Aku tidak ingin dia mati, dia adikku!"
"Ila, bangun! Tapi.... Kalau dia tidak bangun, aku bisa menjadi istri Mas Raihan. Tidak! Aku jahat, aku jahat. Aku meracuni adikku..!"
Ketakutan demi ketakutan melanda pikirannya. Resti ingin teriak, tapi takut orang lain mengetahui kesalahannya. Dia pun mulai menangis, menyentuh tangan Laila dan terus menciumi nya, berharap Laila akan bangun. Padahal ia hanya tertidur, tapi Resti menyangka jika adiknya sudah meninggal.
"Ila, bangun! Aku nggak mau kamu mati seperti Dita (adik kandungnya), aku sangat menyayangimu, kau ingin Mas Raihan, aku akan berikan,"
"Aku akan berikan dia untukmu, asal kamu bangun!"
Upaya Resti membangunkan Laila gagal. Hingga Airy mengetahui semua itu. Beberapa menit yang lalu, Airy di mintai tolong untuk memanggil Laila dan Resti segera. Karena acaranya sudah di mulai, begitu juga dengan orang tua mereka, tlah datang.
"Kak Resti? Laila kenapa?" tanya Airy panik.
Ia masuk dan mencoba menanyakan apa yang telah terjadi kepada Laila. Namun, Resti malah mencegah Airy untuk tidak mendekat, dengan tatapan anehnya.
"Kamu mau menyakiti adikku, 'kan? Aku tidak mau menyerahkan adikku padamu!" seru Resti panik.
Tatapan aneh itu tiba-tiba beralih menjadi tangisan. Resti menangis, ia terus meracau jika dirinya yang meracuni adiknya.
"Apa? Kak Resti meracuni, Laila? Kenapa?" tanya Airy.
"Aku tidak ingin dia menikah dengan Mas Raihan, karena aku menyukainya. Tapi, tapi, dia sudah mati. Aku tidak ingin dia mati, aku akan memberikan Mas Raihan, agar dia tidak mati. Aku meracuninya, aku jahat....!"
Resti tiba-tiba menangis seperti anak kecil lagi. Airy mulai bingung dengan sikap Resti yang aneh itu. Datanglah Clara, pengacara keluarga sekaligus tante dari Airy dan Raihan.
"Ry, udah di tunggu, di mana yang namanya, Laila?" ucap Clara.
"Tante. Tante kapan pulang?" tanya Airy.
Airy menceritakan kepada Clara, tentang apa yang di lakukan Resti kepada Laila. Kemudian, Clara menyebut jika itu hanyalah obat tidur. Lalu, Clara meminta Airy untuk mengatakan kepada keluarga besar, jika Laila kelelahan dan akan menyetujui apa yang di putuskan oleh keluarga.
"Tapi Tante, apakah ini tidak melanggar hak orang? Maksudnya, jika ada yang tidak di setujui, Laila. Bagaimana?" tanya Airy.
"Ikuti saja permintaan, Tante. Dan suruh Om kamu, untuk kemari, kalau bisa jangan sampai ada orang yang tau, minta Naira menemaninya nanti ketika masuk ke sini," pinta Clara.
__ADS_1
Karena memang begitu, Airy pun mengiyakan dan segera pamit. Kemudian, Clara memberi beberapa pertanyaan kepada Resti. Dan menyimpulkan jika Resti ini memang memiliki gangguan kejiwaan.
Tak la setelah itu, Keny dan Naira sampai, Keny memeriksa tubuh Laila. Dan mengatakan, jika tak lama lagi Laila akan sadar. Di susul oleh Airy juga.
"Assalamu'alaikum, bagaimana, Tante?" tanya Airy dengan nafas terengah-engah.
"Wa'alaikumsalam,"
"Tante menyimpulkan, jika Resti ini memiliki gangguan kejiwaan. Ya mungkin tidak parah, tapi ada trauma di masa lalu yang membuatnya bisa kambuh," Jelas Clara.
"Dia bilang, kalau dia tidak suka jika adiknya menikam dengan Raihan. Tapi dia juga sedih jika harus menyakiti adiknya," sambungnya.
"Astaghfirullah hal'adzim, terus bagaimana keadaan Laila?" tanya Airy lagi.
"Sebentar lagi juga bangun, dia nggak papa, kok." jawab Keny.
Di sudut tembok, Resti masih terlihat ketakutan akan kehilangan Laila. Clara dan Keny masih berusaha menenangkan perasaannya, dengan mengajaknya keluar dari kamar itu.
Sementara Airy dan Naira masih berada di kamar, menunggu Laila terbangun. Benar, tak lama Laila terbangun dan merasa masih pusing.
"Airy? Kamu, siapa? Kenapa kalian di sini, ahh kenapa juga aku se pusing ini?" racau Laila.
Perlahan, Airy menceritakan apa yang terjadi. Laila merasa bersalah karena menyembunyikan rahasia dari Resti.
"Untuk apa kamu minta maaf? Tapi kakakmu memang merasa bersalah," tutur Airy.
"Iya, ini bukan untuk pertama kalinya. Dulu waktu di sekolah, aku juga pernah kok di sakiti olehnya. Aku hingga sakit dan masuk ke rumah sakit, setelah itu dia histeris sendiri karena sudah menyakitiku," jelas Laila.
"Kamu nggak takut dengannya? Maksudku, dia sudah melukaimu, karena kalian menyukai lelaki yang sama, hahaha drama banget," sahut Naira.
"Naira!"
"Aku keluar dulu, ya. Biar Naira yang menjagamu di sini, aku masih harus menjemput anak-anak ke rumah kakung, Assalamu'alaikum!" pamit Airy.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Setelah Airy keluar, Naira menanyakan banyak hal kepada Laila. Tentang perasaannya kepada Abangnya, dan juga tentang Resti tentunya. Laila yang masih merasa asing kepada Naira pun hanya menjawab sepatah dua patah. Tapi, setelah Naira memperkenalkan dirinya itu siapa, Laila mulai akrab dengannya.
__ADS_1