
Gu di panggil oleh Ceasy untuk menemuinya di rumah Leah. Gu yang merasa senang ketika mendengar Ibunya datang, ia tak tahu jika dirinya hendak di ceramahi olehnya. Melihat Ibunya sudah menunggu di depan rumah, Gu berlari dan hendak memeluk, namun di langsung di tahan dadanya oleh Ceasy.
"Assalamu'alaikum, kenapa?" tentu saja Gu merasa heran.
"Wa'alaikumsalam, duduk!" jawab Ceasy.
"Ibu, kenapa, sih? Datang-datang langsung sewot gitu, deh? Ada apa, Ibuku tersayang.... " Gu mencoba merayu Ceasy.
"Sayang-sayang, palamu peyang? Nih! Jelasin foto ini, mesra banget kamu!" Ceasy memperlihatkan foto yang di kirim oleh Hamdan kemarin.
Gu melihat dengan teliti foto itu. Foto yang dirinya sedang membonceng seniornya karena waktu itu terjatuh dari motor. Di foto itu, memang si wanita itu selama memeluknya dari belakang. Jadi terlihat romantis. Gu berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, lalu ia meminta Hamdan untuk menemuinya setelah pulang sekolah.
"Lalu, bagaimana kuliahmu?" tanya Ceasy.
"Buk, mbok ya jangan di bentak anaknya, dia kalem begini kok di bentak," sahut Kabir dari belakang.
__ADS_1
"Ayah, Assalamu'alaikum! Bagaimana kabarnya?" tanya Gu mencium tangan Kabir.
"Alhamdulillah baik, Ayah mau bertemu dengan sahabat lama Ayah waktu jadi perwira. Mau ikut?" ajak Kabir.
"Boleh, Yah. Alhamdulillah, hari ini aku nggak ngampus," jawab Gu semangat.
-_-_-
Sejak Airy hamil, ia menjadi sering diam di rumah. Tak lagi bertengkar dengan Aminah dan juga Laila. Setiap hari, hanya mengurus Rafa dan bermanja-manja dengan Adam. Di dalam pikirannya, ia hanya ingin fokus untuk menjadi ibu yang lebih baik dari sebelumnya. Kehilangan Zahra, membuatnya belajar satu hal poin penting.
Di tempat lain, Laila tengah beberes rumah. Teringat beberapa waktu ketika tubuhnya di jamah oleh Raihan. Masih sangat jelas sentuhan itu, jantungnya berdebar sangat kencang. Tak terasa, ia mengigit bibir bawahnya karena mengingat semuanya.
"Aghhrrr geli banget," ucap Laila menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.
"Itunya.... bibirnya.... kami.... Astaghfirullah hal'adzim, kenapa aku jadi begini sih!" gerutunya.
__ADS_1
Laila sampai jungkir balik di sofa mengingat pagi itu. Masak pun menjadi tidak fokus dan gosong. Bahkan ngepel pula menjadi becek lantainya. Waktu yang akan menjawab, cinta Laila dan Raihan akan bersemi kembali dengan sendirinya. Rasa cinta yang pernah pudar, pasti akan berwarna kembali.
Siang hari, Laila bertemu dengan Ceasy di rumah Leah. Karena Raihan akan kembali sore hari, Laila memutuskan untuk bermain ke rumah Uti mertuanya, mendekatkan diri dengan mereka.
Sebab, semenjak Airy hamil, Laila jarang mengajak ngobrol Airy, takut ia kelepasan berkelahi dengannya. Namun, komunikasi merak masih tetap berjalan, meski sering rusuh di group pesan keluarga.
Sampai juga Laila ad rumah Leah. "Assalamu'alaikum, Uti." Keluarlah Ceasy, Ceasy mempersilahkan Laila masuk.
"Uti.... "
"Oh, ada, kok. Lagi sholat, di tunggu aja, ya. Laila, 'kan? Istrinya Bang Rai? Kita nggak ngobrol waktu kamu nikahan dulu, maaf ya. Tante harus cepat kembali karena urusan," ucap Ceasy dengan ramah.
"Nggak papa, kok. Tante menghadiri pernikahan Laila dan Bang Rai aja udah Alhamdulillah," jawab Laila gugup.
Ceasy memandangi Laila. Kemudian bertanya, "Kamu gugup?" sambil menyentuh paha Laila.
__ADS_1
"Jangan gugup, biasa aja. Anggap aja, Tante ini sahabat kamu, bisa?"
Laila mengangguk, sambutan Ceasy begitu hangat kepada Laila. Ceasy sangat ingat dengan jelas, waktu dirinya pertama kali masuk di keluarga itu. Ia juga di sambut hangat, tanpa memandang ras, maupun agama. Karena waktu itu, Ceasy masih belum memiliki kepercayaan.