
Di luar rumah, Adam sedang berbincang-bincang dengan Farhan, sambil menikmati secangkir kopi di sore hari.
"Dam, Pak Lek ada teka teki buatmu nih. " kata Farhan.
"Panggil Lek? bukannya Kakek ya? " tanya Adam.
"Ck, setua itu kah aku, panggil pak Lek lah," kata Farhan dengan nge gas.
"Ohh menolak tua, baiklah Pak Lek, ada teka teki apa? " tanya Adam.
"Kenapa pohon di depan rumah atau dekat tiang listrik harus di tebang? " tanya Farhan.
"Ya biar nggak bahaya lah, bisa juga konslet, atau mengenai rumah gitu, " jawab Adam.
"Salah! " tegas Farhan.
__ADS_1
"Jawabannya adalah, ya mesti di tebang lah, masa iya di cabut hahahahaha" lawak Farhan.
Adam hanya mengangguk-angguk saja, ia juga sudah mulai akrab dengan seluruh keluarga besar Airy, Adam sangat mudah bergaul dengan siapapun.
Semua sudah siap hendak berangkat ke Kairo, karena berat hati melepas kepergian Raihan, Airy mengajak Adam untuk ikut mengantarnya ke bandara. Ya itu karena mereka berniat akan malam mingguan di sekitar kota Yogyakarta.
Perpisahan lebay Airy berjalan dengan dramatis dan penuh kekonyolan, ada-ada saja kelakuan Airy yang membuat Raihan rindu kepadanya nanti. Raihan juga terus membujuk Airy agar mau meneruskan kuliahnya juga. Setelah mengantar Raihan, sesuai janji yang Airy dan Adam buat, mereka jalan-jalan mengitari kota Jogja.
"Kita berhenti dulu disini, rame banget ya?" Kata Adam menahan tangan Airy.
Mereka berdua bergandengan tangan saat berjalan, tepat sekali di Malioboro. Mereka akan mengukir indahnya kota dengan berselfi-selfi ria dan mengirimkannya kepda Raihan.
"Kamu suka yang sepi? Sana di kuburan!x kata Adam.
Airy menyipitkan matanya, melihat Airy yang seperti itu, Adam menyentil kening Airy dengan lembut. Malam itu mereka habiskan dengan jalan-jalan dan berbelanja. Sesampainya dirumah, mereka bersih-bersih dan segera istirahat.
__ADS_1
" Sstt, denger deh, tetangga kalau jam segini pasti mendesah." kata Airy membenarkan selimutnya.
"Darimana kamu tahu? " tanya Adam.
"Lima, Empat, tiga, dua, satu... sttt dengerin, sini deket tembok sini." Ucap Airy menarik tangan Adam.
Sejak tiga tahun lalu, memang di sebelah kamar Airy itu adalah sebuah kamar utama. Disana ada pasangan muda mudi yang baru menikah tiga tahun lalu, sampai sekarang belum di beri momongan. Tiap malam jam setengah dua belas pasti Airy mendengar desahan tetangga dari kamarnya. Bahkan suara jeritan desahan syahdu si perempuan sering menusuk di kepala Airy.
"Tuh kan? Apa ku bilang, ya kali tiap tiga kali sehari, dan kupastikan dia baru saja pulang dari mudik nya." Ucap Airy.
Tanpa sengaja mereka menempelkan telinganya di tembok dengan bertatapan muka. Bukan fokus mendengarkan, Adam malah menatap wajah Airy dengan senyuman, lalu tanpa sadar, ia membelai pipi Airy, membuat Airy menjadi kaget.
"Dosa tau, nggak boleh lagi ya, kalau kamu pengen juga mendesah seperti itu, aku bisa membantumu kok, mau coba? " goda Adam.
"Emm, aku nggak sering denger kok, sebentar aja dengernya hehe, ayo tidur, huaamm aku ngantuk! " tutur Airy dengan perasaan waspada. Ia juga menarik selimutnya hingga ke bagian dadanya.
__ADS_1
Adam menundukkan kepalanya sambil tersenyum, ia hanya menggodanya saja, Airy sudah terlihat panik. Lalu, Adam menarik tangan Airy dan memeluknya, sambil membisikkan.
"Tapi aku pengen"