Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 343


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, kini kehamilan Airy hanya menunggu siang malamnya saja. Lalu, kehamilan Laila juga sudah memasuki bulan ke 8. Para suami mereka juga selalu siap siaga bersamanya. Adam yang biasanya pergi ke luar kota saja, sekarang sudah jarang, ia lebih menyerahkan pengiriman itu kepada Gu dan beberapa santri yang ada di pesantren.


"Alhamdulillah, beberapa bulan ini kita menjalani hidup dengan tentram dan damai tanpa ada gangguan dari orang luar lagi," ucap Laila sembari mengusap perutnya.


"Alhamdulillah. Ini juga karena Allah ingin memuliakan kita, kita jangan lupa bersyukur," sahut Raihan.


Semua berjalan dengan lancar. Setelah Syifa menyelesaikan masa iddah-nya, Airy memberinya pekerjaan sesuai dengan kemampuannya di Jakarta. Hidup anaknya juga di tanggung bersama oleh Airy dan Raihan juga. Usaha peternakan dan perkebunan bibit Adam juga berjalan lancar, ia akan merambah ke bisnis kuliner setelah itu bersama dengan Raihan.


Siangnya, Airy dan Laila berada di sebuah ruko yang hendak dibuka untuk rumah makannya, tiba-tiba Airy mengalami kontraksi. Pagi hari, alat vitalnya sudah mengeluarkan darah kecoklatan, mungkin tanda akan mengalami pembukaan.


"Ry kamu kenapa?" tanya Laila panik.


"Panggil siapapun ke sini, sepertinya aku sudah mulai pembukaan," rintih Airy menahan sakit.


Karena panik, Laila malah menelfon Gu bukannya Adam ataupun Raihan. Tak lama setelah itu, Gu sampai dengan cepat. Ternyata dirinya juga panik setelah menerima telpon dari Laila.


"Assalamu'alaikum, Kak. Udah mau lahirnya, kah? Maaf, agak lama, aku dari kampus lama soalnya!" seru Gu.


"Wa'alaikumsallam warrahmatullahi wabbarokatuh, Gu? Kenapa kamu di sini?" tanya Airy menahan sakitnya.


"Kan Kak Laila tadi telpon aku. Katanya Kak Airy mau melahirkan, ayo segera kita bawa ke rumah sakit. Kebetulan aku ke sini bawa mobilnya Kak Airy," ucap Gu.


Airy menatap Laila dengan menyipitkan matanya. Begitu juga dengan Laila yang kembali memeriksa ponselnya, lalu kembali menghubungi Adam dan Raihan untuk segera menyusul ke rumah sakit.


Terlihat Airy masih sangat tenang dengan beristighfar. Airy berusaha untuk tetap tenang, karena ini bukan kali pertama baginya. Sesekali merintih menahan rasa sakit pembukaan.


Sesampainya di rumah sakit, Airy langsung di bawa tangani. Tak lama setelah itu, Laila juga merasakan mulas, mungkin memang belum waktunya untuk Laila melahirkan. Tapi, rasa yang sama dengan Airy, Laila rasakan.


"Aw! Gu… Ah!" rintih Laila.

__ADS_1


"Kenapa, Kak?' tanya Gu.


"Perutku sakit banget, Gu. Hsstt sakit banget!" teriak Laila sembari menarik rambut Gu.


Gu langsung memanggil suster, kini laila dan Airy berada dalam satu ruangan karena keduanya hendak melahirkan. Sementara Gu tetap berada diantara kedua, menjadi bahan rebutan Airy dan Laila.


Terjadi kegaduhan saat keduanya melahirkan. Saat itu juga sudah lebih dari 4 jam tapi Adam dan Raihan belum juga sampai ke rumah sakit. Gu di tarik ke kanan kiri. Bukan hanya di tarik tangannya saja, ia juga di jambak rambutnya oleh Airy dan laila secara bersamaan hingga rambutnya rontok.


"Istighfar dong Kakak-kakak, haduh…." ucap Gu bingung sendiri.


"Gu, temani Kakak di sini, cepat!" teriak Airy sambil menarik lengan Gu.


"Jangan! Kakak yang lebih membutuhkanmu!" teriak Laila tak mau kalah.


"Sebaiknya aku menunggu di luar saja, ya…" ucap Gu menahan sakit karena di cubit juga.


"Tapi aku sudah pusing sekali, Kakak...." rengek Gu seperti anak kecil.


Kembali mereka saling manarik Gu hingga jaket yang di pakainya koyak. Gu juga menjadi bahan tertawaan para suster yang menangani persalinan mereka. Dalam hati Gu yang paling dalam, ia menyumpahi ketiga bayi yang akan lahir itu agar mirip dengannya.


"Airy, kamu harusnya ngalah dong. Sakitnya.... ya Allah," protes Laila.


"Ngalah apa? Aku juga mau lahiran, kenapa kamu juga ikut-ikutan, ha?" balas Airy.


"Kamu pernah melahirkan, jadi biarkan Gu menemaniku," kata Laila.


Mereka terus berdebat, diselipin dengan istighfar dan sholawat. Namun, masih saja mereka bertengkar memperebutkan Gu. Bahkan Airy juga mengalahkan Laila, karena memanggil adik rasa pacar itu dari pada memanggil suaminya.


Setelah perang ke berapa entah tak tahu itu, bayi kembar Airy lahir lebih dulu. Bidan meminta Gu untuk mengumandangkan adzan kepada bayi kembar perempuan Airy. Dan tak lama setelah itu, lahirlah bayi perempuan juga dari rahim Laila. Dalam waktu yang sama, Gu mengadzani 3 bagi sekaligus, dengan keadaan baju robek, rambut acak-acakan, Gu pamit keluar lebih dulu.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Lillahaillah Muhammad Rasulullah. Haih, kenapa dari sekian keluarga harus aku, lagipula di mana para suami ini? Kenapa belum juga datang?" Gu menghela nafas panjang dan menyandarkan dirinya ke tembok dan duduk di kursi penunggu.


Datanglah Adam dan Raihan dengan wajah yang panik. Melihat mereka berdua datang, Gu mengucapkan selamat dan pamit pulang untuk istirahat.


"Assalamu'alaikum, Gu. Bagaimana keadaan mereka? Lalu, bayinya?" tanya Adam panik.


"Tapi, bagaimana jaket setebal ini bisa sobek, Gu. Kenapa kamu hanya diam dengan tatapan begitu? Rambutmu juga...." sahut Raihan.


"Wa'alaikumsalam, cukup! Aku mau pulang, aku lelah. Anak kalian perempuan semua, dan aku pastikan mereka akan mirip denganku, itu hukuman bagi kalian. Assalamu'alaikum!"


Adam dan Raihan saling menatap, lalu berlari ke ruang di mana Airy dan Laila dipindah di ruang rawat inap nya. Ternyata mereka berada di ruanganan yang berbeda. Hanya ada 1 pasien untuk 1 ruangan. Adam langsung memeluk Airy yang saat itu sibuk dengan bayi kembarnya.


"Assalamu'alaikum," salam Adam.


"Wa'alaikumsalam, Mas Adam? Kenapa baru datang?" jawab Airy.


"Maaf, ya. Tadi nggak ada si hal di perkebunan. Ada Falih yang lari memberitahu kalau kamu dan Laila akan melahirkan, jadi baru sempat kesini, maaf tidak menemanimu melahirkan kedua ratu kecil kita," jelas Adam.


"Alhamdulillah, yang penting anak kita lahir dengan selamat. lihatlah, keduanya mirip dengan...eh? Kok matanya sipit, sih?" ujar Airy.


Adam kembali memeluk Airy dengan penuh perasaan. Tatapan matanya juga begitu dalam, bukan hanya itu saja. Ia juga menciumi seluruh wajah istrinya. Bukti bahwa ia sangat mencintai sangat istri.


Begitu juga dengan Raihan yang meneteskan air matanya saat melihat putri kecilnya di gendongan Laila. Raihan menggendong putri kecilnya untuk pertama kali.


"Allahumma Faqqihhu fid din wa allimhu at-ta’wiil." ucap Raihan seraya membelai rambut halus putrinya.


"Terima kasih, terima kasih. Beribu terima kasih aku ucapkan kepadamu, telah melahirkan putri kecil yang sangat lucu ini, Alhamdulillah," tak luput sangat istri pun di kecup keningnya.


Raihan memeluk keduanya, kini keluarga mereka telah dilengkapi dengan kehadiran sangat buah hati. Benar-benar mengejutkan, tugas Raihan berikutnya ada pada Rafa yang memiliki tiga adik perempuan sekaligus.

__ADS_1


__ADS_2