
Setelah sholat subuh, Laila dan Raihan kembali tiduran di ranjang rumah sakit. Kaki mereka saling tumpang tindih, menonton anime berdua. Laila tidak mencari sarapan, karena sebentar lagi, Balqis akan membawakannya untuknya.
Sekitar setengah jam, datanglah dua suster, suster itu merasa canggung ketika masuk. Laila masih saja nempel di dada Raihan sambil menonton anime kesukaannya.
"Ehem, maaf sa-saya mengganggu. Ta-tapi, ada pemeriksaan pagi ini," ucap suster itu gugup.
"Um, maaf." Kata Laila turun dari ranjang Raihan.
"Maaf, ya ganggu. Tapi...." ucapan suster itu terpotong.
"Cepat lakukan pemeriksaan, setelah ini cepat tinggalkan kami berdua!" tegas Raihan bagaikan CEO di novel-novel online.
Tentu saja Suster itu merasa gugup. Ditambah lagi, Raihan menatapnya seolah-olah hendak menerkam Suster itu. Selesai memeriksanya, Suster itu mengatakan kepada Raihan dan Laila, bahwa akan ada kunjungan dokter sekitar jam 8.
"Jadi, jangan buat kami para single ini menonton drama Korea secara live, selamat pagi." kedua Suster itu langsung lari. Raihan dan Laila saling menatap, kemudian tertawa.
-_-_-
Pagi itu, Balqis sudah menunggunya di parkiran. Karena belum waktunya membesuk, ia hanya akan mengirim sarapan dan beberapa camilan dulu untuk Laila dan Raihan. Seluruh keluarga belum tahu, jika Laila sedang mengandung, sengaja Raihan dan Laila sembunyikan karena usia janinnya masih sangat muda dan rentan.
"Assalamu'alaikum, Tante. Sudah lama? Mau masuk?" terlihat Laila sangat riang gembira.
"Tidak, Tante sekalian mau ketemu temen, kok. Nanti siang saja, ya. Pas jam besuk, assalamu'alaikum.. di habiskan, loh!"
Balqis berlalu, terlihat Mita sedang mengawasi Laila dari jauh. Sejak semalam, ia semakin resah karena Raihan dan Laila selamat dari kecelakaan itu.
__ADS_1
"Tuh cewek punya nyawa berapa, sih? Hebat banget masih sehat bugar begitu. Mana cengengesan, pula!" gerutu Mita.
"Aku harus cari cara lain agar Hansel-ku dan cewek sinting itu pisah, harus!" Mita mulai lagi.
Sialnya, kebusukan Mita di ketahui oleh Cilo yang sedari tadi sudah ada di belakangnya. Tentu saja Cilo marah besar, ia kecewa dengan perlakuan sahabat kecilnya yang semakin hari semakin nekat.
"Apaan, sih, Mit! Jadi, kecelakaan yang di alami Raihan dan istrinya itu bukanlah kebetulan atau kemalangan alami? Tapi semua ini ada sangkut pautnya dengan ulahmu? Kenapa, sih, Mit?" Cilo emosi.
"Kejadian yang menimpa Pearl waktu itu sudah membuat Raihan kecewa. Ini lagi? Hash, Ya Tuhan, demi apa, Mit?" imbuhnya.
"Cinta! Aku mencintai, Hansel-ku. Aku gila karenanya. Lantas, kenapa? Kamu mau ngaduin aku, hah?" ketus Mita tanpa rasa bersalah.
"Sakit kamu, Mit!" Cilo pergi meninggalkannya, kedatangannya untuk periksa mata saat itu, ia malah tidak menduga jika ia akan menemukan kebenaran yang membuatnya jauh lebih kecewa kepada sahabat kecilnya itu.
"Aduh! Yah… jatuh, deh!" seru Laila memungut pakaiannya yang jatuh.
"Oh, sorry. Aku nggak sengaja, jalanku tadi nggak lihat-lihat ke depan, maaf, ya…." Cilo membantu merapikan pakaian Laila.
Mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, Cilo pura-pura belum tahu jika Raihan tengah di rawat di rumah sakit itu.
"Ahh iya, suamiku sedang sakit. Semalam kami kecelakaan, jadi…." ucap Laila enggan mengingat hal semalam.
"Maaf, membuat Kakak Iparku ini bersedih. Setelah periksa nanti, aku akan menjenguk Raihan. Salam dariku, ya. Aku ambil antrian dulu," pamit Cilo terburu-buru.
Laila mengangguk, kemudian mengangkat jempol tangannya.
__ADS_1
"Maafkan aku, bukan maksudku menutupi kesalahan Mita, hanya saja waktunya belum tepat." Batin Cilo berlalu pergi.
Laila kembali ke ruang suaminya di rawat. Semenjak dinyatakan hamil, Laila dan Raihan menjadi semakin lengket dan saling menyayangi. Ketulusan itu terlihat ketika mereka sama-sama tetap tersenyum walaupun tangan Raihan sedikit cacat karena luka robek.
Apakah Yusuf berhasil membongkar kejahatan, Mita? Lalu, apakah Cilo juga tetap menutupi kebusukan, Mita? Laila dan Raihan memang pasangan unik kedua setelah Airy dan Adam, mereka akan lebih kuat di terpa badai dari pada pasangan-pasangan yang sebelumnya.
"Assalamu'alaikum!" salam Laila.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Raihan. "Sudah makan?" tanya Raihan.
Laila mengangguk.
"Bagaimana hasil pemeriksaannya lagi? Apakah beneran ada (hamil)?" tanya Raihan lagi.
Kembali Laila hanya mengangguk, kali ini dengan senyuman lebar terukir di wajahnya. Namun, senyum itu terlihat terpaksa. Raihan mencoba menggodanya, tetap saja Laila enggan bicara kepadanya. Seolah, Raihan memiliki kesalahan yang sudah untuk di maafkan.
"Kok senyumnya kelihatan terpaksa?" tanya Raihan mencubit pipi Laila.
"Uh, emang!" ketus Laila.
"Huh, pengen peluk.... tapi punggung masih sakit," keluh Raihan manja.
"Heh, sekarang manja-manjaan. Nggak ada peluk, Paijo! Sekarang waktunya Abang sarapan, suster yang tadi titip salam. Haih, kesalnya aku!"
Kebungkaman Laila ternyata ada alasannya. Ia baru saja mendengar beberapa suster menggosipkan suaminya yang sungguh membuat mereka melepuh hatinya. Laila merasa cemburu akan itu. Apalagi, ada suster yang menggodanya dengan menitipkan salam kepada Raihan.
__ADS_1