Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 307


__ADS_3

Sampai di depan pintu, Laila menahan ganggang pintu dan mengingat ucapan Mita sebelumnya. Ia hanya tidak tega jika Mita semakin sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


"Gue dan anak ini juga berhak bahagia, demi apa? Gue seperti orang bodoh memperebutkan lelaki yang di mana, gue sudah menjadi pemenangnya." batin Laila.


"Aku harus bahas ini nanti di rumah,"


Di dalam, Raihan menanyakan kenapa dirinya di perbolehkan untuk pulang di hari minggu. Padahal harus menunggu ada dokter di hari senin. Laila hanya menjawab, jika dokternya memang setuju untuk mengizinkan hari itu pulang. Terlebih lagi, raihan memang sudah membaik. Hanya luka robek ringan saja.


Beberapa jam yang lalu, Laila sudah menghubungi Adam untuk mengirim mobil ke rumah sakit. tentu saja laila yang akan menyetir sendiri untuk suaminya, karena adam akan keluar kota lagi.


"Kamu yang nyetir?" tanya Raihan.


"Iya, kenapa? Aku punya sim santai saja," jawab Laila.


"Tapi kan kamu sedang hamil, bagaimana mungkin aku memperbolehkan kamu menyetir untukku," protes Raihan.

__ADS_1


"Stop! Jangan kebanyakan protes. Hamil pun masih muda, jangan di bikin manja ah! Mitos be like, jika ibu hamil di manja-manjain, anaknya akan rewelan nantinya," jelas Laila siap mengemudikan mobilnya.


"Teori dari mana itu?" lagi-lagi Raihan protes.


"Mitos! Aku cakap mitos, Sayang…." kesal Laila.


"Astaghfirullah hal'adzim, lagian Ustad Adam kemana? cuma ngantar mobil terus pulang?" tanya Raihan.


"Dia ke Jawa Timur untuk kirim barang. Dia berangkat bersama Gu, karena Abang masih sakit. Mas Adam juga berpesan, kalau besok sudah bisa mulai ngajar, materinya ada pada Airy," jawab Laila fokus menyetir.


Raihan pun mengusap-usap pipi Laila dengan lembut, kemudian mencium tangannya yang waktu itu ada pada persneling. "Kotor, bang." ucap Laila.


Bendungan air mata tak mampu bertahan lagi, ia pun meminggirkan mobilnya dan berhenti. lalu, mencium tangan Raihan, kemudian memeluknya.


"Ada apa?" tanya Raihan.

__ADS_1


"Maaf, maaf aku sempat su'udzon tentang pernikahan kita. Mita terus mendatangiku, ia memintaku untuk melepaskanmu, Bang!" akhirnya Laila mampu mengatakannya.


Baru Laila menceritakan semua yang di katakan Mita kepadanya, ketakutan kehilangan itu selalu menghantuinya. Orang yang menyukai Raihan, bagi Laila memiliki keunggulan yang tak bisa di samakan dengan Laila. Ia terus menanyakan, dari mana Raihan melihat dirinya, sehingga Raihan mau menikahinya.


"Jadi, selama ini kamu beranggapan jika aku menikahimu karena terpaksa dengan perjodohan itu?" tanya Raihan.


Laila mengangguk. Kemudian, Raihan menyentuh kedua pipi istrinya yang masih menangis itu.


"Dengar, jika aku hanya menikahimu karena perjodohan. Kau tidak akan hamil, meski aku lelaki normal. Jika aku hanya menikahimu secara terpaksa, untuk apa aku setia menutup hati selama 3 tahun ketika aku berangkat lagi ke Jerman,"


"Jika aku hanya menikahimu karena wasiat Papa, untuk apa aku pertahankan rumah tangga kita sampai sekarang, meski Papa dan Ami sudah tiada,"


"Aku tulus mencintaimu, hak wanita lain jika meraka ingin mendambakanku. Mereka juga memiliki rasa, tapi semua itu tidak artinya karena pemenang yang sesungguhnya adalah kamu. Aku.. sangat... mencintaimu," tukas Raihan dengan senyuman.


Raihan mengecup kening Laila dengan lembut, kemudian turun ke bibirnya. Saling memejamkan mata, dan memeluk satu sama lain sebisanya. Untung saja, kaca filmnya gelap, dan mereka berhenti di bawah pohon, jadi tidak kelihatan dari belakang maupun samping. Tapi tidak jika di lihat dari depan. Mita yang melihat setiap adegan di mana ciuman itu membuatnya semakin sakit hati.

__ADS_1


"Raihan, kenapa kamu tidak pernah memandangku? Aku mencintaimu, bahkan aku rela menghabiskan waktuku di Jerman untuk melayanimu setiap pagi. Membawakan sarapan, menjaga Pearl dan bahkan sering menuliskan tugas untukmu. Kenapa kau tak melihat itu, Han! Kenapa?" gerutu Mita.


"Karena Abangku tidak pernah menyukai wanita licik sepertimu!" seru Yusuf yang sudah berada di belakang, Mita.


__ADS_2