Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 238


__ADS_3

Sampai di rumah, Akbar langsung memeriksa kondisi Airy yang masih belum bisa bicara itu. Perlahan ia menyuruh Airy membuka mulutnya, memeriksa detak jantung juga. Kemudian, Akbar mengetahui obat apa yang Hans berikan kepada keponakannya itu. Akbar mengatakan jika Airy tidak akan bisa bicara selama empat hari mendatang. Namun, obat itu tidak ada efek samping lainnya, jadi aman untuk Airy.


"Apaan? nggak bisa bicara kok cuma empat hari. 'kan nggak lucu!" batin Airy.


"Sementara ini, kamu tinggal di sini dulu, ya. Nanti, om yang urus surat-surat keperluanmu agar bisa pulang," ucap Akbar.


"Berarti nanti Papa ke Kejaksaan Negeri, dong. Mau, Mama antar?" sahut Fatim.


"Nggak usah, biar Papa sendiri aja," jawab Akbar.


"Ya mau bagaimana lagi. Tuh laki main bawa kabur anak orang, terus memalsukan identitas dengan segitu mudahnya. Kok ya bisa lolos ngono, loh!" geramnya.


Karena Akbar masih harus dinas, ia pun pergi untuk ke rumah sakit dulu. Fatim juga akan menjemput Mawar ke sekolah. Karena ia baru saja sembuh dari demamnya, dan masih butuh perhatian khusus dari Fatim.

__ADS_1


"Tante tinggal ke sekolah Mawar dulu, ya. Dia minta jemput soalnya. Kamu nggak papa 'kan di tinggal sendirian?" tanya Fatim.


Aiey mengangguk dengan senyuman, ia juga menunjukkan jempolnya, tanda setuju. Fatim pun langsung berangkat mengendarai motor kesayangannya, yang di belikan sangat suami. Dari sini, Airy sudah merasa jenuh, ia pun pergi ke dapur untuk mencari makanan dan menyalakan Tv.


"Opo iki? Filme kok bohosone ngene kabah. Kokoro kokoro, ah embuhlah. Motoku soyo kriting barang moco tulisane!" Seru Airy dalma hati.


(Apa ini? Filmnya kok bahasanya begini semua. Kokoro kokoro, ah taulah. Mataku semakin kriting juga baca tulisannya!)


Tidak lama setelah itu, Fatim dan Mawar pun kembali. Melihat Mawar yang kini sudah tumbuh remaja juga, Airy merasa jika adik yang satunya itu mirip dengan Aisyah, Aminya. Yang sudah hampir enam tahun ini meninggalkannya.


(Wa'alaikumsalam, nih anak mirip banget sama Ami. Jadi kangen sama Ami deh)


"Hahaha gerakan apa sih, ini? Nggak jelas banget deh, Kak Airy."

__ADS_1


Meskipun Mawar sejak lahir hidup di Jepang. Tapi dia bisa fasih berbahasa Indonesia, dan keluar tetap mengenakan jilbab.


"Jangan tertawakan Kakakmu, dia di racuni orang, buat nggak bisa bicara. Kamu 'kan bisa tuh bahasa isyarat, ajarin dih." sahut Fatim, barus aja keluar dari kamarnya.


Mawar yang masih muda banget ini, sering mengikuti bakti sosial khsusus anak-anak dan orang dewasa yang menderita tuna rungu dan tuna wicara. Jadi, ia mengerti tentang sedikit bahasa isyarat. Lalu, Mawar pun mengajak Airy ke kamarnya.


"Airy, makanan kesukaan suamimu apa? Falih sama suamimu udah hampir sampai, soalnya!" seru Fatim, yang mengganggu keseruan mereka berdua.


Airy menuliskan, "Apa aja suka kok, Tante. Udah sampai mana?" dengan emotion senyum lebar.


"Udah naik taksi, siap-siap sana. Pangeran udah mau jemput, tuh." goda Fatim.


"Cie, yang di jemput suami. Kalau gitu, kita udahan belajarnya. Kak Airy mandi dulu saja, dandan yang cantik," goda Mawar.

__ADS_1


Segera Airy bersiap diri untuk menyambut suaminya. Tapi, kekhawatirannya tentang Hans masih menghantui pikirannya. Karena, lelaki itu berhasil kabur ketika di kepung saat di Bandara sebelumnya. Airy takut, jika dia menargetkan keluarga lain untuk di sakiti.


__ADS_2