
Tepat pukul 3 pagi, Airy, Rindi dan Siti baru saja terlelap. Sudah puas main game, mereka akhirnya bisa tidur juga. Tanpa disadari, bahwa Airy harus bangun jam setengah lima, karena orangtuanya akan tiba di waktu itu.
Susah sekali Airy dibangunkan, Ustadzah Ifa sudah dengan berbagai cara membangunkan Airy, tetapi tetap saja, Airy masih terlelap dalam tidurnya. Aisyah yang baru sampai itu merasa kesal melihat kemalasan Airy, mengambilah ia air satu gelas dan di siramkan ke wajah Airy.
"Banjir woy, Innalillah banjir, mana camilanku, hp ku?" Tentu saja Airy merasa terkejut jika tiba-tiba di siram dengan air, ketila tertidur sangat lelap.
Semua orang tertawa, dibangunkannya Ceasy dan di ajaknya untuk sholat berjama'ah di mushola santri perempuan.
"Subuh kan masih nanti Mi, kenapa juga harus sekarang sholatnya. Nggak kemana-mana juga, kenapa harus di jama', nggak boleh lah!" kata Airy sambil mengucek-ucek matanya.
"Tadarus! Sampai Qiro'ah masjid di lantunkan nanti!" tegas Aisyah.
"Kejam!" jawab Airy.
__ADS_1
"Ami lebih kejam sekarang, dari pada kamu nanti yang kejam di akhirat sana sama Ami. Mau masuk neraka bersama-sama?" kesal Aisyah.
"Ck, iya aku wudhu dulu. Nggak usah sampai keluar tanduknya lah Mi, galak banget sih sama anak sendiri!" Airy lebih kesal.
"Airy!"
"Nggih Bu, dingapunten" Airy segera kabur dan masuk ke tempat wudhu, di samping mushola kecil itu.
Awalnya Airy menolak jika tadarus menggunakan microfhone, karena ia malu jika tadarus harus di dengar oleh seluruh pesantren. Tetapi, Aisyah mengatakan, jika dirinya juga dulu seperti itu, sebelum melangsungkan ijab qobul. Akhirnya Airy menurut saja, karena bagaimana pun, itu sudah menjadi tradisi dalam keluarganya.
"Masya Allah, suara Airy itu sangat merdu ya, padahal baru bangun tidur." Tutur Ustadzah Ifa.
"Puji aja terus, puji aja. Aku masih tidak rela jika pernikahan itu terjadi, aku harus berbuat sesuatu!" kata Sari dalam hati.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu jangan macam-macam Mbak, aku dan Raihan tidak akan membiarkanmu bertindak sesuka hatimu lagi. Ingat kejadian dengan Bela? Aku masih menjadi saksi kejahatanmu!" bisik Rindi yang saat itu menhan Sari akan pergi.
"Kamu! Sebaiknya kamu jangan menantangku, jangan campuri urusanku! Kenapa sekarang kamu jadi membela Raihan, sejak awal kau membencinya kan, karena Raihan menolak di ajak bekerja sama? Jangan bilang kau menaruh hati sekarang, karena keluarganya begitu baik padamu!" kata Sari.
"Aku suka dengan Raihan? Heh, kau yang lebih tau siapa yang aku sukai Mbak, jadi jangan macam-macam dengan Airy, aku lebih rela jika Mas Adam bersama dengan Airy di bandingkan denganmu!" Kata Rindi menginjak kaki Sari.
Saat itu, mereka sedang berpapasan di depan mushola, dengan sengaja Rindi menginjak kaki Sari dengan sangat kencang.
"Awas kamu Rindi, aku masih menyimpan rahasiamu saat kamu membantuku menghukum Bela!" ancam Sari.
"Astaghfirullah hal'adzim. Demi Allah aku tidak takut, pada kenyataannya, kau lah penyebab kematian Bela saat itu!" bisik Rindi.
"Airy bukan gadis lemah seperti yang kau duga Mbak, dia istimewa, kamu akan tau nanti saat dia bertindak. Jangan salahkan aku, aku sudah berusaha memperingatkanmu! Assallamu'alaikum warohmatullahi wabbarokatuh!" Rindi masuk kedalam mushola dan duduk di samping Leah dan Aisyah.
__ADS_1
Sari memang anak orang berada dan ternama, tetapi ia belum tahu siapa Airy, jika Airy sudah marah, maka hanya dengan Asma Allah dan bantuan Raihan serta Adamlah yang mampu meredakan amarahnya.