
Di Jerman,
Malam sunyi menyelimuti hari-hari Raihan di sana. Menempati rumah sebesar itu hanya berdua dengan adik angkatnya. Harapan ingin hidup sebagai anak kost pun terlintas di kepalanya. Tetapi, semua itu juga butuh pikiran yang matang, bagaimana nasib Pearl? Lalu, amanah yang di berikan ayah u ya?"
"Menghindari usaha keluarga, malah dapat warisan di sini. Aku, 'kan nggak selama nya menetap di sini, aku harus bagaimana?" gumam Raihan.
Karena beben hidupnya itu, ia pun akhirnya sholat malam untuk meringankan beban nya. Semua sudah dan semua amalan sudah ia amalkan, belum juga menemukan titik di mana dia harus menyikapi semuanya.
"Astaghfirullah, aku tidur saja lah."
Ketika Raihan hendak naik ke ranjang, Pearl mengetuk pintu dengan keras.
"Hansel... Hansel... " suara Pearl terdengar gemetar.
Raihan langsung membuka pintu dan mendapati Pearl sedang menangis sesenggukan. Kemudian, tangan Raihan langsung memeluk dan membawa masuk Pearl.
"Ada, apa? Kenapa kamu menangis, Pearl." tanya Raihan dengan lembut.
"I-ibu,"
Hanya satu kata itu yang ia sebut. Tak tahu ibu mana yang ia maksud. Raihan memeluknya dengan erat, membelai rambutnya, dan memangkunya. Serta melantunkan sholawat agar adik nya itu tenang.
"Hansel," panggil Pearl.
__ADS_1
"Em,?"
"Apakah, kau juga akan meninggalkanku? Seperti Ayah, dan Ibu Rose?" tanya Pearl.
Raihan memejamkan mata, kemudian menghela nafas.
"Tidak!" jawab Raihan.
"Janji?"
"Iya, aku berjanji" ucap Raihan.
"Terima kasih, Hansel. Aku sangat menyayangimu," ucap Pearl menyentuh pipi Raihan.
Raihan mengangguk, kemudian merebahkan Pearl ke kasur, ia juga menepuk-nepuk kening Pearl agar segar tidur. Mengingatkan, ketika ia bersama Airy dan Yusuf, dulu, Airy yang sering ia perlakukan seperti itu.
"Airy, Abang kangen sama kamu." batin Raihan.
"Hansel," panggil Pearl.
"Tidurlah, aku di sini." sahut Raihan.
"Apakah, kamu juga punya adik?" tanya Pearl.
__ADS_1
"Adik? Aku memiliki banyak adik, dan sekarang kau juga adikku, bukan?" jawab Raihan dengan senyuman.
"Apakah, mereka juga akan menerimaku, seperti kamu menerimaku, Hansel?" sambung Pearl.
"Pasti, mereka sangat baik. Mereka juga sangat senang memiliki adik baru. Nanti, aku akan kenalkan kau dengar kakak-kakakmu yang lain, oke? Sekarang, tidurlah!"
Malam itu, Raihan seperti orang tua yang menemani putrinya tidur. Hanya tinggal berdua di rumah sebesar itu, ia berkeinginan untuk mengajak Raditya tinggal bersamanya juga. Sampai semua masalah selesai.
Pagi seperti biasa, Mita sudah sampai di depan rumah, Raihan. Ia membawakan beberapa sarapan untuk Raihan dan Pearl. Sebenarnya, Raihan bisa membuatkan sarapan untuk dirinya dan juga Pearl. Karena tidak enak hati, ia terpaksa menerima dari Mita.
"Dimana, Pearl? Dia tidak ada di kamarnya?" tanya Mita sambil menaruh pancake di piring.
"Semalam, dia tidur di kamarku. Mungkin,dia kepikiran Ayah dan Ibu, jadi dia menangis semalam." jawab Raihan menikmati sarapan itu.
Mita bergegas membangunkan Pearl, hari ini dia akan di titipkan di penitipan anak. Awalnya, Raihan tidak setuju, karena Pearl sudah bisa di tinggal sendiri di rumah, sampai dirimu pulang dari kampus.
"Tapi Han, ini yang terbaik. Biar Pearl tidak merasa kesepian." ucap Mita.
"Penitipan anak? Yang benar saja?" Raihan masih tidak menyetujui.
"Penitipan anak di sini, tidak seperti di negara kita, Han. Jadi aman, ayolah." desak Mita.
Sebenarnya, Raihan tidak tega jika harus memasukkan Pearl ke jasa penitipan anak. Tapi, jika memang Pearl kesepian, ia juga akan merasa bersalah. Akhirnya, Raihan pun setuju dengan usul Mita, segera membawa dan mendaftarkan Pearl ke sana.
__ADS_1