
Akhirnya, tuntas juga membelah bukit salju dan menyelam lautan dalam. Raihan memeluk Laila dengan erat. Kemudian berbisik, "Sakit?"
"Sedikit," jawab Laila.
"Kapok? Atau...."
Belum juga Raihan merampungkan kata-katanya, Laila sudah mengecup bibir Raihan dengan penuh gairah. Haih, wanita memang lebih liar di bandingkan lelaki jika di ranjang. Belum juga selesai bicara sudah di sosor aja.
"Aku mandi dulu, setelah ini mau ke pesantren. Aku ada ngajar pagi soalnya." ucap Raihan beranjak dari tempat tidurnya.
-_-_-_-
Pagi hari, rumah Leah dan Ruchan sudah kedatangan Kabir dan Ceasy. Mereka berkunjung karena rindu dengan orang tuanya. Sekaligus, mereka ingin nyekar di makam sang kakak dan kakak iparnya.
"Gawat...!!" teriak Hamdan menggebrak pintu kamar.
__ADS_1
"Ada, apa? Apa yang gawat?" tentu saja Falih merasa panik.
"Ibu sama Ayahku pulang. Pasti gara-gara foto yang aku kirim kemarin dah!" panik Hamdan.
"Foto Kak Gu? Santai aja, aku siap membantumu, hahaha. Kita nikmati pertunjukkan ini," Falih memang racun dalam pikiran Hamdan.
"Astaghfirullah hal'adzim, Om Abang dan Lek Kabir dulu kayanya nggak senakal ini kata Uti, kenapa kalian usil banget, sih?" Yusuf hadir langsung menarik telinga Falih dan Hamdan.
"Kita seharusnya udah berangkat sekolah, ngapain masih ghibah di sini?" sambungnya.
"Haha, Ham. Tau nggak, dia di tolak mentah-mentah sama anak Ulama hahaha," ucap Falih.
"Aw! Udah dong, Suf. Ampun, deh!" mohon Hamdan.
Yusuf mengajak kedua saudaranya segera berangkat ke sekolah. Karena hari ini, dirinya ada piket kelas. Bak saudara kembar tiga, Yusuf, Falih dan Hamdan jarang terpisah. Sama halnya dengan Aminah dan Mayshita. Mereka juga jarang yang namanya bertengkar, karena memiliki watak yang berbeda. Berbeda dengan Aminah dan Airy yang selalu bertengkar tiada hentinya.
__ADS_1
Di rumah Leah, Ceasy masih kesal dengan foto yang di kirim Hamdan kepadanya. Ia mengadu kepada Leah dengan apa yang dilakukan oleh putra sulungnya itu.
"Sudahlah, foto ini kan belum ada kebenarannya. Siapa tahu, cuma menumpang ini yang perempuan, jangan gegabah." tutur Leah.
"Mama nggak tau sih, Hamdan sering bilang kalau Gu ini suka pacaran, kan kesel. Bilangnya mau ke Jogja belajar, karena ilmu agama di sini bagus. Nyatanya.... Malah pacaran, kesel lah!" umpat Ceasy dengan berkacak pinggang.
"Halah, seperti kamu ndak pernah muda saja!" sahut Ruchan.
"Abi mah nggak ngerti. Takut aja Gu mainkan perasaan wanita, sama kek Bapaknya dulu. Gu kan juga punya adik perempuan," ucap Ceasy sinis, sambil melirik ke Kabir.
"Kok, aku?" Kabir membela diri.
Ceasy dan Kabir malah ribut-ribut lucu si depan orang tuanya. Sedewasa apapun sekarang anak, jika berada di depan orang tua pasti akan bersikap manja. Begitu yang selalu Akbar, Kabir dan Syakir lakukan.
"Yumna kok ndak di ajak?" tanya Ruchan.
__ADS_1
"Dia sedang ada kegiatan sekolah, jadi nggak bisa ikut. Jadi aku minta Kak Yoona dan Kak Jamil jagain, mereka juga punya anak, jadi biar Yumna bisa sekaligus ngurus adiknya (anak dari Yoona dan Jamil)," jelas Ceasy.
Jadi, di sini bisa di bayangkan yang cakep ala Oppa-oppa Korea, adalah Hamdan dan Gu. Sedangkan Falih dan Yusuf, masih memiliki wajah lokal apa orang Jawa dengan kulit sawo matang.