
Sampai di rumah, Hamdan langsung mengunyek-ngunyek Yusuf yang sedang memakai handuk saja. Ternyata, Yusuf baru saja selesai mandi, Hamdan langsung menerkamnya serigala yang telah lama mengintai vampir.
"Ayo gelud, Cup! Kamu ini memang kurang ajar, bagaimanapun juga aku lebih tua darimu, Cup!" seru Hamdan menggilas-gilas rambut basah Yusuf.
"Oppa...." goda Yusuf.
"Cup, ihh geli tau. Adik laki-laki itu, manggil kakak laki-laki ya nyebutnya Hyeong! Arraseo?" teriak Hamdan.
"Geurae, hyeongnim...," jawab Yusuf dengan suara manja, lalu kabur masuk ke kamarnya.
"Ucup!" teriak Hamdan.
Ketika makan malam, terlihat Hamdan dan Yusuf saling diam. Itu membuat Gu gelisah, ia tidak nyaman dengan situasi itu. Apalagi, sang penengah Raditya belum kembali dari pabriknya. Mereka berdua juga saling menatap dengan sinis.
"Kalian mau di hukum?" tanya Gu.
Yusuf dan Hamdan bukannya menjawab, malah melahap makannya dengan cepat. Bahkan mereka juga berebut ayam goreng yang di goreng Gu. Melihat tingkah kedua adiknya, Gu membacakan surat yasin agar mereka tak lagi berebut ayam goreng yang tinggal satu itu.
"Kak, yang dibacain yasin cukup Hamdan saja. Memangnya aku setan apa?" kesal Yusuf dengan tangan mengulur ke wadah ayam goreng.
"Woy lah! Ayam goreng ni punyaku lah!" seru Hamdan.
"Punyaku, kamu udah makan dua, aku baru satu, Ham!" nada bicara Yusuf juga tak ingin kalah dengan Hamdan.
"Aku!"
__ADS_1
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
Kesal dengan pertengkaran Yusuf dan Hamdan, Gu membanting gelas ke lantai hingga pecah. Semuanya terdiam, bahkan Raditya yang baru saja pulang ikut kaget.
"Assallamu'alaikum," salam Raditya.
"Wa'alaikumsallam warrahmatullahi wabarokatuh,"
"Kalian berdua kenapa, sih? Perkara ayam saja jadi heboh? Ada masalah apa? Cepat katakan!" bentak Gu.
"Aku ayamnya baru satu, Hamdan udah dua. Nggak adil, dong… dan ini dada ayamku, bagian Hamdan kan pada.…," jawab Yusuf.
"Ya kali aku bilang gitu. Aku hanya menggodamu saja karena matamu itu sudah ternodai dengan terus menatap Kakak Janda itu, Ham Ham!" Yusuf tak mau kalah.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Ucup! Kamu ini ya, bukannya minta maaf malah nambah perkara, sini gelud!" ketus Hamdan menaikkan lengan bajunya.
Berkelahi lagi lah mereka. Bukan baku hantam, melainkan saling menyentil bahu dan mencubit pipi saja. Gu dan Raditya lelah melihat adiknya berkelahi dengan aneh. Mereka menyaksikan kedua adiknya sambil duduk santai.
"Apakah, mereka selalu aneh begini? Selama dua bulan aku tinggal di sini, mereka aneh ketika si Falih pulang ke kampung halaman Kakek legend, deh?" bisik Raditya.
"Aku juga ngiranya begitu, kita guyur saja mereka pakai air, aku ambil dulu airnya," jawab Gu beranjak dari tempat duduknya.
__ADS_1
Datanglah ia membawa sebeser air dingin, kemudian di siramkan ke arah Yusuf dan Hamdan. Tentu saja membuat keduanya diam sejenak. Gu meminta mereka untuk duduk dan cerita apa yang terjadi diantara mereka.
Yusuf mulai menjelaskan, bahwa Hamdan hanya salah paham kepadanya soal janda muda itu. Tidak mungkin Yusuf mengatakan itu, karena dirinya saja tertutup oleh wanita. Gu meminta Hamdan untuk minta maaf lebih dulu kepada Yusuf, lalu Yusuf juga harus minta maaf setelahnya. Masalah selesai.
"Astafirullah hal'adzim, janda saja kalau buat rusuh-rusuhan? Hadeh!" gerutu Raditya. "Nih, aku bawakan kalian ayam goreng lagi, ada burger juga di situ, kalian jangan berebut lagi, oke? Gu, tolong bagian rata, ya. Aku mau mandi dulu," imbuhnya.
"Makasih, yaa...." ucap Gu.
"Suwun, Mas Radit," ucap Yusuf dan Hamdan bersamaan, mereka saling menatap, lalu membuang muka masing-masing.
Setelah makan malam usai, baik Yusuf maupun Hamdan sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Sementara Gu dan Raditya masih mengobrol diruang tamu sambil menikmati kopi. Banyak yang diobrolkan mereka berdua, dari pekerjaan sampai ke hubungan Raditya dan Aminah selanjutnya.
"Terus, bagaimana dengan masa depan kalian?" tanya Gu.
"Masa depan? Masa depan siapa?" Raditya malah kembali bertanya.
"Ya Mas Raditya dengan Aminah lah. Bukannya perjodohan antara Aminah dan Kakaknya Mas Raditya udahan ya?" ucap Gu.
"Oh, selama dua bulan ini, sih... kami tidak saling komunikasi, biarlah dia fokus belajar dulu. Aku nggak mau gegara aku dan keluargaku, pendidikan Aminah jadi terganggu," ungkap Raditya kembali menyeruput kopinya.
"Baiklah, masih ada waktu untuk kalian.. membuat orang tua luluh. Aku tidur dulu, pagi-pagi sekali, aku harus sudah sampai ke kampus, cepat tidur, pasti Mas Raditya juga sudah capek, bukan?"
Mereka pun masuk ke kamarnya untuk istirahat. Di kamar Yusuf, ia menyimak tentang perbincangan teman-temannya yang di group chat. Semuanya sedang membicarakan Cindy yang tiba-tiba pulang. Mungkin, itu hal wajar bagi setiap perempuan, tapi ada beberapa siswi lain yang mengatakan jika itu memalukan.
[Cukup, lebih baik kita bahas pelajaran. Ghibah begini tidak ada manfaatnya. Aku mau tanya, siapa yang bisa menebak teka-teki dariku, aku akan mentraktir makan di kantin dan duduk bersamaku, ada yang mau ikutan?]
__ADS_1
Itu cara Yusuf memadamkan berita yang menyulut tentang Cindy. Ia juga mengatakan, sekali lagi group buat tempat ghibah, dia akan left dari group chat itu. Tentu saja perkataan Yusuf membuat Candra gembira, ia pun membuat akun palsu untuk mengadu-domba Yusuf dan penghuni group lainnya. Apakah misi Candra ini berhasil?