Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 180


__ADS_3

"Maklumi Mamamu ya, nak. Kita main berdua dulu ya." bisik Adam.


Airy sedang duduk sambil menjaga Rafa. Di kandangnya, anak lelakinya itu. Meneteskan air matanya, ia membayangkan, bagaimana Ami nya merawat dua bayi sekaligus, di tambah ketika dirinya berusia 3 tahun, hadirkan Naira, yang bukan adik kandungnya sendiri. Kemudian, hadir juga Yusuf sekaligus menyusui Aminah, karena Aminah di tinggal Ibunya meninggal dunia.


"Ami, apakah aku belum siap menjadi orang tua? Aku sangat menyayangi, Rafa. Aku pun juga menyayangi Zahra, tapi aku nggak bisa merawat keduanya dengan baik, Ami. Betapa hebatnya dirimu, aku tahu, dulu saat ada aku, kau juga kuliah, kerja dan juga mengurus usaha keluarga."


"Apa aku bisa sepertimu, Ami." air mata Airy jatuh berderai.


Malam datang, Zahra menangis sangat kencang. Berbeda dengan Rafa dulu, yang jarang nangis di malam hari. Karena Rafa sudah tidur, dan Adam masih di pesantren, Airy kewalahan sendiri. Ia juga sudah bersholawat untuk Zahra, bahkan susu juga sudah habis satu botol besar, namun Zahra masih terus menangis.


"Ya Allah, Nak. Jangan nangis terus, ya. Mama bingung ini mau bagaimana nenangin kamu nya." ucap Airy.


Berkali-kali Airy menelfon Adam, namun tidak Adam angkat. Terakhir malah nomornya tidak aktif. Kemungkinan, ponselnya mati. Ustadzah Ifa pun juga tidak bisa di hubungi. Hanya satu solusi yang ada di otaknya.


"Assalamu'alaikum, Kak Ale. Bisa ke rumah? Aku...."

__ADS_1


Mendengar Airy dalam kesusahan, Hafiz yang baru saja mulai terpejam langsung menuju ke rumah adiknya itu. Bahkan, ia tidak sempat memakai jaket. Sampai di rumah Adam, Hafiz melihat Airy yang sedang susah menenangkan Zahra.


"Assalamu'alaikum, Airy. Ada apa dengan, Zahra?" tanya Hafiz.


"Aku juga nggak tau, Kak. Kak Ale bisa bantu aku tenangin Zahra, 'kan?" harap Airy.


Suara tangisan Zahra terhenti dalam gendongan tangan Hafiz. Ia juga mulai tertidur setelah Hafiz ayunkan, dan bersholawat. Hati Airy lega, ia duduk di sofa dan merebahkan tubuhnya.


"Alhamdulillah, dia sudah dekat dengan Kak Ale, semasa di kandungan. Mungkin, dia sudah merasa nyaman, dan terbiasa mendengar suara, Kak Ale." ucap Airy.


"Jadi, dia nyaman dengan, Kak Ale." imbuhnya.


"Hah, aku 'kan pendekar wani perih. Aku kuat, kok. Hehehe, sante wae. Biar aku yang bikinin Kak Ale teh hangat, oke?" tawar Airy.


Ketika hendak beranjak dari kursi, kaki Airy terasa kram, ia hampir saja terjatuh. Dengan sigap, Hafiz menahan tangannya agar Airy tidak jatuh. Pandangan itu, di lihat oleh Adam.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," salam Adam.


Tatapan penuh makna di mata Hafiz itu buat hati Adam gentar. Mendengar salam dari suaminya, Airy langsung melepaskan tangan Hafiz, kemudian menyambut Adam.


"Wa'alaikumsalam, udah pulang?" ucap Airy sambil meraih tas yang di jinjing Adam.


"Aku capek, mau mandi, setelah ini tidur. Mas Hafiz, udah nggak ada perlu 'kan di sini? Jadi silahkan pulang." ucap Adam dengan dingin.


"Kamu cemburu? Hah? Airy nunggu kamu sejak tadi, repot mengurus dua bayi, pulang-pulang kamu salah faham dan cemburu seperti ini?"


"Hey, Dam! Kamu bukan anak baru gede lagi. Tadi kaki Airy kram, dia mau jatuh, terus aku tolongin. Assalamu'alaikum." terang Hafiz.


"Kamu istirahat yang cukup, besok kamu kuliah 'kan. Aku pulang dulu, assalamu'alaikum." pamit Hafiz kepada Airy.


"Wa'alaikumsalam." jawab Airy dengan nada lirih.

__ADS_1


Airy mengunci pintu dan langsung masuk kamar. Sambil menatap Rafa, air mata Airy tiba-tiba mengalir. Baru saja baikan sore tadi, sudah ada salahan pahaman lagi. Dan itu dengan kakak iparnya sendiri. Airy merasa, berumah tangga sangatlah berat jika belum siap batinnya.


Sekecil apapun debu itu, jika tidak di bersihkan, akan semakin banyak dan menjadi sarang penyakit. Begitu kehidupan rumah tangga, sekecil kesalah pahaman itu, jika tidak segera di selesaikan, maka setiap saat akan terus menjadi salah. Bukan salah paham lagi.


__ADS_2